Wednesday, June 26, 2013

BELAJAR SEMBARI "FULL............."


Assalamu’alaikum, Pembaca terhormat. Rindu tulisan saya? I hope so. Berhubung sekarang musimnya hujan keringat, banjir kertas dan buku, longsornya mental, meletusnya otak yang mendidih wow simplenya sih musim ujian sekolah, ujian semester, ujian masuk PTN/PTS, so pasti posting berikut edisi ujian semester dan sekolah. Ehm, mentang-mentang penulisnya baru hampir saja sedang mau akan (opo toh iki??) memulai ujian akhir semester ngomongnya masalah ujian juga. Baidewe, ini posting ada Labelnya "Just For Fun" ^_^

BELAJAR, satu hal wajib yang mungkin dilakukan dengan berat hati, terpaksa, membutuhkan energi lebih, dengan entropi (ketidakteraturan) pikiran diujung tanduk atau mungkin justru dijalani dengan pikiran fresh (baru digunakan untuk berpikir sih, ups), menyenangkan, bahkan serasa merdeka kalau bisa belajar, belajar, dan belajar. Nggak akan bicara soal niatan belajar maupun cara belajar ya, cuma mau share kebiasaan-kebiasaan yang mungkin tanpa kita sadari sering kita lakukan saat maupun ketika akan belajar. No mean to menyinggung, have fun saja deh, penulisnya gak jauh-jauh amat samanya….

1.      Full Preparation, alias sudah siap dengan materi yang akan dipelajari? Sudah siap dengan soal-soal yang akan dijawab? Nah ya bukan itu! Full Preparation ini siap sedia berkarung-karung camilan camilan ala wong ndeso yaaa sebut saja pizza, burger, kentang goreng apalah itu. Plis ya itu wong ndeso, kita ini pelajar so pasti yaaa gorengan pisang, ote-ote, tempe gembos, kerupuk ikan, rempeyek teri lah harga merakyat rasanya membahana di tenggorokan alias seret banget, hehe. Anarkisnya kalau enggak ada camilan, buku pelajaranpun jadi pelampiasan. Biar tidak seret, tidak lupa minuman seukuran truk tangki pertamina entah itu air, jus, sirup, atau isinya truk tangki yang asli juga oke asal bukan isinya truk sedot W* ya nih yang anti-mainstream. Barulah kita prepare buku pelajaran. Waktu mau belajar eeee lha kok Full Tank, ngantuk deh Ya kan kawan??.... :)

2.      Full Creation and Inovation, alias ada-ada saja yang diperbuat. Memikirkan rumus-rumus baru untuk materinya? Be creative memikirkan problem solving soal yang rumit bin njlimet  binti mumet-mumet dan derivatnya? Atau, memikirkan si Penulis, cieee?? No. I mean Full Creation and Inovation, let’s get on the music! (macak DJ). Baruuu saja buka buku baca 15 menit. Medan magnetik di telinga mulai menarik headset HP, MP3 player, laptop, I-phone, I-pad, Nge-pad, dan sejenisnya. Alhasil full music deh. Okelah dengan dalil meningkatkan semangat belajar, membuat otak lebih rileks, ataupun memanfaatkan sumber daya teknologi demi tercapainya kemaslahatan bla bla bla. Sadar deh, niatnya meningkatkan semangat belajar eeee lha dalaaah lagunya lagu galau-galauan, cinta-cintaan, lagu mellow, pasti deh ya mulutnya komat-kamit itu bukan karena membaca tapi ikut melagukan musiknya, hehe, dan bahkan lagu hard rock metal alumunium besi baja seng apalah itu yang frekuensinya >120 dB (jeritan pesawat jet saja kalah keras) bahkan lulusan Sandi Negara nilai A Cumlaude pangkat 100 saja tidak bisa menginterpretasikan liriknya wow. Yaaa sekali lagi mungkin untuk pelajar yang saking Indonesia banget niiih tidak jarang list music full dangdut! Aseeeek, mantaab, taaariiik maaang. Is it right, friends??.... :)

3.      Full Attention, alias fokuuuus beuthdsszzz. Fokus ke materi? Fokus mengerjakan soal-soal? Karena fokusnya, teman nawarin makanan aja gak digubris! Karena kelewat batas juga nih bahkan jin lewat pun tidak diperdulikan, ya ampun cueknya gak nguati iman! Hold on! Full attention ini biasanya terjadi saat sudah 1 jam belajar, kabel headsetnya putus, list music sudah replay 1000x, buku dan kertas sudah tinggal 1 gigitan, kasur atau kursi bahkan laintai sudah leleh karena diduduki (maklum “itu” nya extremely hot sekali). Full Attention on Game! Laki-laki banget  biasanya. Bosan belajar eeee ya harus double-click icon game-game jadul seperti PES, DOTA, CS, PB, apalah itu. Gak ada itu Pinball dan Solitaire pun jadi sasaran click. Dari jauh woooow serius banget lihat laptop, dari dekat eeee pegang joystick nge-game di laptop, yang lihat jadi ngikut deh, hahaha biasanya gitu (not me, not me, you saja). Atau ya minimal main itu lho yang ada orang lari-lari lompat gulung-gulung tanpa tujuan di rel kereta api, berasa jadi maling dikejar satpam stasiun. Setuju aaahh??…. :)

4.      Nih point ke-4. Full Connect! Connect alias paham materinya? Paham dan mengerti soal-soalnya? Nemuin jawaban soal-soal di point ke-2?? Maybe but Ngimpiiii…. Full Connect to Internet! Browsing penjelasan materi yang susah?? No Way…. Full Connect to Social Media absolutely. Ngaku deh, mau belajar saja update status “cemunguuth beyajaaar qaqaaaa”, saat belajar update status “duuuuh opo toh iki? Gak mudeng belaazz”, selesai belajar update status “nyerah nyerah nyerah angel eram rek, pasrah ae mene”. Hahaha, lucu ya, perjuangan dari semangat sampai membutuhkan penyemangat terekam jelas di media sosial. Tidak jarang juga duduknya sebelahan tapi comment-comment-an. Tak perlu menunggu belajar 5 menit, 30 menit, 1 jam, 2 jam. Kapanpun bingung sedikit pada suatu soal pasti buka hp lalu ngelihatin status deh padahal ya tidak ada perbaruan status maupun notifikasi. Ya itulah kita, bagi yang merasa sih ya….Angkat kaki bila setuju!! :)

5.      Yang terakhir Full Discussion. If you know what I mean?? Full Discussionnya membahas gossip gossip ter-cetyar. “Heee arek iku lho kok ngunu ya?”, “Eh iku lho ayu tenan yooo…”, “Reeek aku pingin curhaaaat”, “(terusno dewe)”. Fiuuuuhh diskusi ilmiah menjadi diskusi semi-fiksi atau bahkan fiksi!! Lha kadang curhatnya dibuat-buat e. Hehehehe bukan hanya pelajar kaum ibu-ibu PKK laaah, bapak-bapakPKK juga gak kalah kok ceritanya, hehehe. Kalau bapak-bapak ah bisa ditebak ngomongin yang bunder-bunder ada itemnya tuh biasanya dibuat rebutan kaum laki-laki….Yang merasa pasti langsung mbatin (not me bangeeet) :)


Pembaca oh pembaca, mungkin benar juga sebagian besar point di atas sering kita lakukan, sadar maupun tidak, paham maupun tidak, percaya maupun tidak. Memang banyak sekali hal yang menggoda niat baik kita. Yaaaa sekali lagi penulis tidak jauh-jauh samanya alias yang ditulis pastilah pernah dilakukan entah itu sesekali atau bahkan sering. Kalau pun tidak pernah yaaa teman bisa jadi refensi. Tetapi kita pribadi pasti sadar apa yang kita perbuat. Ada yang  namanya konsekuensi. Ada yang namanya pertanggungjawaban. Dalam konteks belajar disini pastilah ada yang namanya lelah (psikisnya), letih (tangan kakinya), lesu (perutnya), lunglai (tulangnya), lungset (mukanya). Dan setiap orang punya caranya masing-masing untuk memperbaiki mood nya masing-masing. Setiap orang punya cara memperbaiki niatnya masing-masing. Yang perlu diperhatikan bahwa hiburan itu boleh asalkan kewajiban utama kita (dalam hal ini belajar) tidak boleh diduakan. Susahnya, bila terlalu santai malah malas-malasan ogah-ogahan belajar naaaah ini yang tidak boleh.

Penulis meminta maaf apabila banyak yang tersinggung, tapi santai sajalah, yang penting kita sadar sekarang (bagi yang selama ini tidak sadar, tidur kali ya). Ambillah sisi positifnya, ambillah sisi negatifnya lalu dipelajari untuk dicari sisi positifnya, yang terpenting jangan ambil penulisnya….Terima kasih atas perhatiannya, mohon maaf atas kesalah penulisan maupun kata-kata….Akhirul kalam, wassalamu’alaikum. ^_^

(Bagi yang sedang ujian, keep strugle, keep smile, sincerely Penulis)

Monday, May 20, 2013

"RUMAH" DI SURGA.... DAN "KUNCINYA"


Assalamu’alaikum, Pembaca. Tulisan edisi ini membahas tentang bangunan. Wah, tidak seperti biasanya dong. Apa istemewanya? Eits, yang ini BBB (Bukan Bangunan Biasa) lho!! alias bangunan yang hanya diperuntukkan untuk kaum tingkat tinggi. Kalau untuk kaum tingkat tinggi pasti bangunan mewah, semacam apartemen pribadi, atau hotel pribadi, menara pribadi, ya kan??....
Pembaca yang terhormat, bangunan yang satu ini bahkan lebih mewah dari Twin Tower di sebelah rumah saya, lebih mewah dari Eiffle Tower di belakang rumah saya, bahkan lebih mewah dari gedung tertinggi di dunia yang kabarnya dibangun di Dubai namun ternyata tepat di depan rumah saya juga. Atau bandingkan dengan bangunan termewah yang pernah dibangun di muka tata surya ini pasti tidak ada yang menyamai. Bangunan ini tidak dapat dibeli dengan uang meskipun uang itu setinggi gunung Everest di Jawa. Pasti penasaran bangunan apa sih??....

Bayangin juga yaaaa, digambar juga boleh, dibatik juga oke, hehe….
1.      Rumah
Siapa bilang ini rumah biasa? Di rumah ini pasti penghuninya senantiasa tenang dan tentram, karena terhindar dari hiruk pikuk dan kebisingan. Seluas apapun rumah ini, serumit apapun rumah ini, mau kita melakukan hal sedikit ataupun banyak, rumah ini tidak akan sekalipun membuat kita bosan dan lelah untuk menempatinya. (Pasti rumah di desa???)

2.      Kamar
Ini nih kamar yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. (Ah, itu mah rumah di bantaran sungai….). Eits, ini kamar ekstra megah dan bertumpuk-tumpuk (Apartemen dong??). Dan yang pasti saaaaangat indah, tidak seperti kamarnya teman-teman mahasiswa yang seperti hutan belantara atau bukan kapal pecah tapi kapal karam.

3.      Kemah
(Oalah spesialisnya teman-teman Pramuka ini pasti??).. Sebuah kemah dengan luas 60 mil, hayoo berapa nanometer itu luasnya?. Kemahnya terbuat dari mutiara juga lho. Dan bonusnya yang di dalam kemah itu tuuuuh itu lho yang ituuuu……coba deh masuk kesitu pasti menemui baaaaanyak perempuan laksana bidadari yang jatuh dari surga, eeeaaaaa (if you know what I  mean, hihihi)

4.      Istana
Jam tangan lapis emas sudah biasa, toilet lapis emas sudah ada, perhiasan lapis emas juga banyak, bahkan setiap hari kita mengeluarkan “emas” hasil metabolisme dan eksresi, hehe. Plis ya, Istana yang satu itu full 1000% berlapis emas!!! Luar dalam atas bawah kanan kiri serba emas, bukan emas (kakak laki-laki) lho. Wah sudah mulai berfantasi ini sepertinya. Coba cari di tata surya ini pasti gak nemu….

Btw Pembaca, itulah beberapa bangunan yang hanya ada di Surga spesial dari Allah SWT, yang hanya disediakan untuk orang-orang tertentu yang notabene dari golongan/tingkatan yang tinggi, derajat keimanannya. Berbicara tentang rumah-rumah di Surga yang pasti tidak bisa dibeli dengan uang setinggi gunung Everest, tapi bisa dibeli dengan uang sedekah setinggi gundukan pasir yang dapat kita tampung di telapak tangan kita. Tidak bisa dinegosiasi harganya dengan segala rayuan dari mulut kita, namun bisa dinegosiasi dengan perkataan baik kita setiap saat. Bisa dinegosiasi oleh lantunan ayat Al-Qur’an yang senantiasa kita haturkan secara ikhlas. Tidak bisa juga dibangun sendiri dengan material-material terbaik, namun bisa dibangun dengan bongkahan-bongkahan amal yaumi yang secara konsisten dan istikhomah kita lakukan. Laiknya rumah kita, pasti membutuhkan kunci untuk bisa memasukinya. Berikut ini kuncinya: ada kunci inggris, kunci T, kunci L, atau tanaman kunci. 

Haha, kuncinya adalah amalan-amalan yang beberapa saya sebutkan ini:
1.      Membangun masjid hanya karena Allah. Sebut saja ini salah satu investasi tanah untuk kita membangun rumah di Surga.
2.      Meninggalkan perdebatan yang kurang bermanfaat (debat kusir, debat delman, debat dokar) apabila ingin mendapat rumah dipinggiran -_- ya meskipun pinggiran tapi tetap saja di Surga woooe.
3.      Meninggalkan kedustaan/kebohongan apabila ingin rumah dikompleks tengah Surga.
4.      Berakhlak Mulia jika ingin rumah dibagian paling tinggi dari Surga.
5.      Menjaga shalat sunnah rawatib minimal 12 raka’at sehari (4 sebelum Dhuhur, 2 sesudah dhuhur, 2 setelah maghrib, 2 setelah isya, 2 sebelum subuh).
6.      Menjenguk orang sakit serta berkunjung ke tempat saudara. Lumaya lho bonusnya gak main-main. Di do’a in 70.000 malaikat! Sudah jelas terkabul itu setiap permintaannya.
7.      Membaca surah Al-Ikhlas setidaknya 10x dalam sehari kapanpun itu. Aaaaaah pasti dalam shalat sudah kebaca, hehe.
8.      Berbicara dengan perkataan yang baik.
9.      Memberi makan orang lain. (Nraktir???)
10.  Puasa sunnah rutin. Boleh puasa senin-kamis, puasanya Nabi Daud, puasa 3 hari dalam 1 bulan, atau minimal puasa 1 kali dalam satu bulan kapanpun itu waktunya tidak diwaktu yang dilarang.
11.  Sholat malam alias Qiyamul Lail. Bangun malam itu ya sholat malam kalau bisa. Eeeee bangun malam maunya ke kamar mandi saja. Atau maunya berduaan dengan TV yang acaranya sepak-sepak itu.
12.  Merapikan dan merapatkan shaf dalam shalat.
13.  Daaaaaaaaan masih banyak lainnya lho.

Pembaca tercinta, coba lihat poin (4) maka pahamilah bahwa apa yang tersebut diatas termasuk amalan-amalan akhlak yang mulia/baik, so pastinya jika kita mengusahakan hal-hal baik tersebut secara konsisten dan istikhomah insyaAllah rumah dibagian teratas dari surga akan menjadi tempat tinggal kita. Semoga penjelasan singkat ini (panjang sih) bermanfaat dan menjadi motivasi kita untuk “menabung” untuk membeli atau membuat rumah di Surga kelak. Simple saja deh, carilah amalan yaumi yang mudah dan sanggup kita laksanakan sesuai kemampuan kita. Kita tidak boleh memaksakan begitu saja melakukan hal-hal baik yang justru memberatkan kita karena kita memaksakan diri untuk melakukannya padahal tubuh kita tidak mumpuni.

Akhlak mulia/baik itu banyak modelnya banyak contohnya, so jangan khawatir kehabisan stock, hehe. Pokoknya pokok kudu rutin, konsisten, istikhomah. Terimakasih. Kekurangan hanya milik manusia macam penulis juga, kelebihan hanya milik Allah SWT Mahasempurna. Jazakumullah khoiron katsiron wa jazakumullah ahsanal jaza’.


Sumber:
Kajian Emulsi DKI BEM FFUA edisi 16/05/13 with Ustadz Askar Wardhana. And Me ^_^

ANDA MERASA BOSAN......DALAM BERIBADAH???


Assalamu’alaikum, Pembaca. Bertemu lagi dengan postingan saya, semoga tidak bosan ya soalnya kalau bosan ini susah pasti baru membaca satu huruf saja sudah berbusa itu mulutnya, hehe ya ampun.

Pembaca, pernahkah kita merasa bosan?? Bosan itu saat kita sudah terlalu sering melakukan suatu hal yang sama dalam jangka waktu stagnan/tetap sehingga kita jenuh merasa lelah, ingin sesekali mengganti hal tersebut dengan hal lain yang berbeda sehingga dari titik puncak kejenuhan menjadi titik balik agar kita kembali tidak bosan. Kembali ke pertanyaan, pasti jawabannya pernah, dari bosan bangun tidur (nah gak mau bangun?), bosan makan (beda tipis sama diet???), bosan belajar (alhasil belajar kalau ujian saja), bosan mandi (iya soalnya sehari mandi 7 x 60 menit), sampai ada yang bosan hidup pasti pernah terbesit dipikiran, iya apa iya? Hehe :). Yang sengaja belum saya sebutkan sekaligus yang ingin penulis bicarakan adalah “ibadah”, alias pertanyaan “Pernah gak merasa bosan dalam beribadah?? Huuwayoooo ngaaakuuuu!!”. Pembaca yang terhormat, setiap hari kita beribadah, setiap hari pula kita lakukan diwaktu yang sama, setiap hari pula kita merelakan waktu kita pekerjaan kita tugas kita hanya untuk beribadah! Nah apa anda-anda sekalian gak bosan?? ^_^ Kebetulan yang saya maksud ibadah dalam kalimat sebelumnya adalah contoh ibadah yang bersifat ritual seperti shalat 5 waktu yang memang dilakukan diwaktu tertentu, tiap hari pula. Atau pernahkah kita merasa bosan bersedekah? Pernah bosan membaca Al-Qur’an? Pernah bosan mengikuti majelis ilmu? Bosan mengikuti berbagai kegiatan sosial? Bosan melakukan umroh dan haji? (What the????)….

Hahaha jangan dianggap penulisnya menghasut yang aneh-aneh yaaaaaw nanti dibilang sesat lak susah sendiri hidup saya :) Namun kembali lagi pada umumnya, islam itu cakupannya luas, pun juga ibadah memiliki bentuk yang variatif, tidak monotone pada satu hal saja. Ibadah itu tak hanya shalat woooe, kita pasti tak asing dengan yang namanya memberi, membantu, belajar, berfikir, bahkan senyum ramah saja sudah ibadah lho. Tidur dan bangun tidur pun adalah ibadah untuk kita karena memberi kesempatan istirahat bagi tubuh yang mungkin lelah setelah belajar seharian (Nah belajar alias mengikuti majelis ilmu juga sudah ibadah). Kita merapikan tempat tidur toh juga ibadah termasuk menjaga kebersihan (kebersihan pangkal keimanan, nah???) Kita makan pagi siang sore malam itu juga akan menjadi ibadah bila kita niat makan untuk dapat beraktivitas. Beraktivitaspun juga ibadah manakala kita melakukan hal-hal positif dan berusaha menghindari hal-hal negatif. Bertemu teman di jalan lalu kita sapa mengucap salam sambil senyum ramah senyum manis (whaaa modus iki, apalagi kalau ke lawan jenis, hihihi). Menyelesaikan tugas tepat waktu juga ibadah lho kan kita termasuk menghargai waktu bisa kita gunakan untuk melakukan hal baik lainnya. Dan masih banyak lagi deh hal-hal kecil lainnya yang mungkin belum mampu kita artikan sebagai ladang dan kesempatan untuk beribadah, never mind lah yaw, yang penting mulai sekarang kita juga harus fokus dengan hal-hal kecil yang ringan untuk dilakukan namun bila dilakukan berulang kali insyaAllah manfaatnya juga nomer satu deh :)

Lalu apakah kita mengesampingkan ibadah yang memang wajib untuk kita?? Oh tidaaaak. Ibadah wajib itu tetap saja menjadi “kewajiban” kita. Kenapa saya beri tanda kutip? “Kewajiban” disini tidak serta merta kewajiban yang harus dipenuhi saja. Kewajiban ini adalah kewajiban yang memang harus dipenuhi, plus “dimengerti”. (Tuh tanda kutip lagi?) Dimengerti supaya tidak menjadi beban untuk kita. Sesuai tema “Bosan”, pasti terkait dengan kita merasa tertekan harus melakukan sesuatu yang itu itu itu dan ituuuu saja setiap waktu. Pembaca, ibadah yang rutin kita lakukan itu sebenarnya lho ya sebenarnya justru akan membuat kita terbiasa, kita sholat akan melatih gerak tubuh kita apalagi kalau dilakukan se-detail mungkin seperti yang telah dicontohkan Rasulullah. Kita membaca Al-Qur’an juga melatih kemampuan berbicara kita mengucap dengan lafal yang benar dan tepat sesuai aturan. Kita berzakat juga bersedekah itu melatih jiwa sosial kita. Kita mempercayai serta mengimani adanya qodlo’ qodar hari kiamat malaikat jin syaitan dan lainnya itu juga melatih mental dan pikiran kita supaya teguh pendirian. Bahkan Allah memberikan cobaan dan berbagai masalah setiap hari itu pun melatih kita untuk berfikir, bersabar, berusaha. Kita diwajibkan berdo’a tidak lain ya untuk kebaikan kita dan orang lain sampai-sampai do’a yang baik yang kita tujukan pada orang lain pasti akan kita rasakan dahulu sebelum orang lain tersebut merasakannya. (fiuuuh baaaanyaknyaaa… yaiyalah banyak hal baik di dunia ini yang mungkin belum kita pahami tujuannya, mau contoh lagi?? Cari sendiri yaaa, kan kita harus mengoptimalkan otak kita, alias berfikir, positive thinking, critical thinking, deep thinking ^_^)

Maka dari itu butuh pemahaman yang super duper dan ekstra untuk mengorientasikan segala yang kita lakukan hanya untuk kebaikan serta ibadah pada Allah. Manakala kita lelah, manakala kita bosan dalam beribadah itu bukan karena ibadahnya yang membosankan lhooo tapi memang karena kita sendirilah yang belum sanggup memaknai secara utuh maksud setiap perbuatan yang telah atau akan kita perbuat. Penulis pribadi masih belum sanggup memaknai secara utuh itu juga sih, makannya kita semua harus terus belajar “Long Life Learning”, belajar memaknai setiap perbuatan. Kita fikirkan baik buruknya, benar salahnya, sumber-sumbernya kita kaji, manfaatnya, mudhorotnya. Belajar menghubungkan tindakan satu dengan tindakan lainnya pasti ada sinergitas maksud antara keduanya.

Dan jangan sampai juga kita cepat bosan dengan sesuatu apalagi sesuatu yang pada hakikatnya adalah kebaikan, kalau perlu tiada kata bosan untuk melakukan kebaikan bagi pelaku kebaikan. Sebelumnya juga kita ingat, kita camkan dalam hati dan pikiran, kita berusaha terapkan kalimat berikut, pasti tidak asing “Berlomba-lombalah dalam kebaikan”. Semoga sedikit banyak cerewetannya penulis ini bermanfaat meskipun sedikit, mohon maaf apabila ada salah kata, kalimat maupun huruf. Jazakumullah khairon katsiron wa jazakumullah ahsanal jaza’ akhirul kalam wassalamu’alaikum, Pembaca tercinta (aseeek) ^_^

MASALAH ITU WAJIB HADIR


Assalamu’alaikum, Pembaca. Sekian lama tidak nge-post sesuatu, yah karena bingung juga mau nge-post apa. Berhubung barusan bilang kata “bingung”, ada sebuah kisah singkat yang saya kutip berikut ini. Sesingkat-singkatnya sebuah cerita manakala berisi setidaknya satu hal penting, kisah singkat tersebut akan terngiang selalu dipikiran kita (lha kok kisahnya? Apa bukan pesannya?). Banyak versi ceritanya kok, tapi ini versi yang tiada duanya di dua dunia.

“Kisah yang hadir dari seorang bapak, anak beliau, serta keledai peliharaan beliau. Suatu hari si bapak hendak pergi mengajak anaknya jalan-jalan ke suatu tempat. Beliau memutuskan juga membawa keledainya. Bapak yang baik ini juga menyuruh anaknya untuk naik diatas keledai agar tidak lelah. Diawal perjalanan, bertemulah mereka dengan seseorang Mr.X1 (nama kami samarkan menjadi tanpa nama). Seseorang tersebut berkata kepada anak tadi bahwa betapa tidak sopannya anak tersebut karena membiarkan bapaknya jalan kaki. Mendengar pendapat seperti itu, si anak langsung turun dari keledai lalu si bapak lah yang naik keledai. Perjalanan berlanjut hingga bertemu dengan orang lain Mr.X2 (nama tetap kami samarkan). Orang tersebut mengatakan bahwa betapa tidak baiknya bapak tersebut membiarkan anaknya jalan kaki hingga lelah. Mendengar pendapat itu  si bapak lalu mengajak anaknya untuk bersama-sama menaiki keledainya. Lanjut meeeen, perjalananpun berhenti kembali manakala bertemu Mr.X3 (berasa praktikum kimia analisis zat X deh, sekali lagi nama disamarkan). Orang tersebut berpendapat bahwa betapa tidak berperikehewanan bapak dan anak tersebut membiarkan keledainya membawa beban yang terlalu berat. Akhirnya si bapak dan si anak langsung turun dari keledai dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Tamat, eeeits belum! Perjalanan dilanjut hingga pada akhir dari yang terakhir sebelum hari akhir yaitu saat bertemu dengan tanpa nama (nama tidak kami samarkan karena tidak punya nama). Orang ini berpendapat bahwa betapa tidak bersyukurnya bapak dan anak tersebut, diberi keledai untuk dinaiki tapi justru tidak digunakan dengan baik. Coba bagaimana respon bapak dan anak pada pendapat orang ke-empat ini?? Tamat deh, hahaha”….

Apa sih yang kita dapat dan pahami dari cerita tersebut??
1)      Siapakah empat orang tanpa nama tersebut? Hehehe ^_^
2)      Jalan-jalan bawa anjing oke kucing oke, nah ini bawa keledai?? Oh meeeen
3)      Akhir cerita setelah ketemu orang ke-empat? Nah ini versi penulis ya, versi (1) setelah bertemu orang ke-empat, bapak dan anak tidak memberi tanggapan, justru keledainya yang merespon, sehingga sekarang perjalanan diteruskan dengan keledai yang menaiki bapak-anak tersebut. (Emansipasi hewan).
4)      Versi (2) akhirnya si bapak dan anak frustasi lalu pulang ke rumah, nangis gulung-gulung, ngelus dada, mbatin, wes pokok e trauma jalan-jalan bawa keledai. Sedangkan keledainya tetap lanjut jalan-jalan, aseeek keledai yang bijak, sabar menghadapi masalah ^_^

(Nah lho), coba kalau kita menjadi bapak dan anak (keledai gak yaaaa) pasti kita mengalami yang namanya “bingung”, padahal disuguhi masalah yang sama namun dengan pembawaan yang berbeda-beda. Bingung yang ini lebih tepatnya “belum, kurang, maupun tidak mempunyai pendirian yang tetap”. (Nah kalau pendiriannya tetap terus tak mau berubah dan tak mau diubah??) Keteguhan pendirian seseorang biasanya tergantung apa yang diyakininya. Tentunya harus keyakinan akan hal yang baik. Sehingga kita yakin 1000% saat kita menghadapi SATU masalah yang SAMA, dan kita mendapat 1000 opsi, kita tidak akan mencoba semua opsi tersebut lalu diambil yang paling baik (capek lah naik turun keledai diomelin orang pula, hehehe). Kita perlu diam sejenak, lalu tarik nafas, tarik nafaas, tarik nafaaas, tak perlu dikeluarkan!. Sejenak kita berfikir diantara 1000 opsi, manakah 100 opsi yang logis dan realistis untuk dilakukan? Manakah 50 opsi paling solutif? Manakah 10 opsi yang paling efektif efisien? Manakah 1 opsi yang puuuuuwaaaluwing logis realistis, solutif, efektif efisien :)

(Nulis toh gampang! Bicara mah gampang!! Melakukannya wooooe susah!!!)
Pembaca, hidup itu adalah pilihan, (1) memilih untuk tetap hidup dan menerima berbagai masalah atau (2) memilih untuk mengakhiri semua masalah sekalian mengakhiri hidup??. Padahal memilih nomor (2) itu tidak mengakhiri justru masalah akan kita  hadapi di hari akhir lebih besar, so pilih nomor (1) tetap jalani hidup dan menerima segala masalah yang ada. Ada pepatah “Hidup monotone tanpa masalah”,”orang hidup tapi gak berfikir masalah hidupnya itu sama saja orang mati! Ups kasar sekali ya”….

Apa sih dampak dari adanya “masalah” jika kita “membingungkan diri” dalam memahaminya?
Sekali lagi ini versi penulis
1)      Hidup itu tak lepas dari namanya permasalahan
2)      Permasalahan apapun itu dimulai dari hal terkecil
3)      Hal terkecil itu sudah kita rasakan semenjak bangun tidur
4)      Semenjak bangun tidur kadang kita sudah membuat masalah
5)      Masalah yang kita perbuat berdampak pada fisik dan jiwa, bahkan orang lain
6)      Fisik yang bermasalah akan mengganggu aktivitas kita
7)      Aktivitas terganggu kita tidak akan produktif dalam hidup
8)      Saat kita tidak lagi produktif, apakah yang dapat kita lakukan? (Nganggur gak jelas)
9)      Lanjut saat jiwa ikut bermasalah, galau terus, orientasi hidup kita akan kacau
10)  Orientasi hidup yang kacau juga akan mengganggu aktivitas kita
11)  Masalah bertumpuk, ditindih masalah, dilempari masalah, serba bermasalah deh
12)  Pada saatnya akan terjadi Distress dan lagi-lagi itu masalah buat kita juga buat orang lain
13)  Frustasi, depresi, tak mau makan, mudah lelah, mudah marah, sakit-sakitan
14)  Lupa diri, lupa orientasi hidup, lebih-lebih jadi lupa ibadah
15)  K.O. dunia akhirat

Sebenarnya sangat tidak nyambung penjelasan saya itu tadi kan ya (Banget) ^_^ Pada intinya, berfikir positif, sebatas tidak terlalu fatal mudhorotnya, semua masalah pasti ada hikmahnya sekecil apapun itu, dan mungkin keyakinan kita masih lemah pada kalimat berikut “Dibalik kesusahan, ada kemudahan, Allah memberi COBAAN TIDAK MELEBIHI KEMAMPUAN umat-Nya, Allah gak mungkin bohong lho”. (Ngomongnya panjang kali lebar kali tinggi, kesimpulannya cuma itu??@!*!?)….
Hal sekecil mungkin yang bisa diambil manfaatnya akan tumbuh menjadi hal besar yang lebih bermanfaat lagi, semoga bermanfaat, semoga kita bisa menjadi orang yang senantiasa berfikir dan bersabar dalam mengarungi samudra kehidupan di dunia ini, jakumullah khoiron katsiron wa jazakumullah ahsanal jaza’, mohon maaf lahir batin, wassalamu’alikum. ^_^

Wednesday, February 6, 2013

"MENUTUP DIRI", MENGHORMATI, MENJAGA, MELINDUNGI


Assalamu’alaikum wr. wb., Pembaca. Selamat datang dibulan Februari, sebuah bulan dalam penanggalan Masehi yang tanggalnya paling sedikit. Ya, Februari lebih dikenal dan diingat karena jumlah harinya kisaran 28 atau 29 hari dalam satu bulan. Namun Februari juga identik dengan suatu hari yang special, lebih-lebih bagai mereka yang telah memiliki pasangan, entah suami, istri, pacar, pasangan terang (gelap sudah terlalu mainstream) dan sejenisnya dan lebih-lebihnya lagi bagi orang luar (biasanya orang Barat). Kata anak muda dan Gahuuul jaman sekarang “Valentine Day”. Jangan dikira hari spesialnya Valentino Rossi lho ya. Valentine Day alias “Hari Kasih Sayang” kata orang ndeso, yang jatuh pada tanggal 14 Februari, kok bisa? Ya gak tahu, hehehe. Nah jangan dikira penulis mau bahas masalah Valentine Day, ya karena sudah terlalu sungguh sangat biasa. How about this, “Hari Menutup Aurat Internasional”?? jujur lho baru tahun ini penulis kenal dengan peringatan tersebut. Kapan? Sesuai isu yang beredar adalah tanggal 14 Februari, untuk menyaingi Valentine Day, namun insyaAllah tujuannya lebih dari itu, lebih-lebih untuk mengembalikan kesadaran manusia akan pentingnya menutup aurat secara syar’i. Kalau mereka-mereka punya Valentine Day yang notabene berbau kasih sayang cinta-cintaan *mungkin*, orang muslim juga punya hari istemewa dong yang insyaAllah lebih bermanfaat *Bangga!! Meskipun isu, tapi semoga terealisasi*. Ada akibat pasti ada sebab, pasti ada hubungannya, lalu apa hubungannya dengan menutup aurat? Urgensi menutup aurat? “Menutup”? khususnya yang perempuan.... ^_^


Pembaca yang saya hormati, pernahkah terbesit dalam fikiran “kenapa kok bisa ada isu Hari Menutup Aurat? Apa hanya mencari sensasi tebar pesona? Atau bahkan sok suci?”. Apa yang saya jabarkan setidaknya adalah subjektifitas saya. Nah menurut pribadi penulis, Hari Menutup Aurat Internasional merupakan salah satu langkah untuk mengembalikan manusia sesuai aturan yang baik dan benar, khususnya berhubungan dengan aurat dan pakaian. Sesuai fakta yang tidak diragukan lagi, sadar atau tidak manusia jaman sekarang (termasuk penulis) pasti pernah melihat yang namanya aurat *jangan anggap vulgar ya, hehehe*. Sadar atau tidak, lihatlah masyarakat lingkungan sekitar, masyarakat tetangga, tetangga kota dan provinsi, Negara tetangga atau bahkan Negara-negara pembesar di dunia. Yang paling krusial adalah masalah PAKAIAN.


Simpel saja, pakaian digunakan untuk melindungi anggota tubuh kita dari lingkungan, sinar matahari, panas, dinginnya udara, kotoran, bahkan mata-mata liar manusia *Wow*. Ada benarnya kata seseorang “jaman dahulu manusia tak berpakaian, lambat laun mulai mengenal pakaian, mengenal rasa malu, akhirnya mereka berusaha menutup tubuh mereka dengan kain atau benda apapun yang menutup, dibuatlah pakaian yang munutup, namun lambat laun kembali pakaian tersebut berkurang porsinya, semakin pendek, semakin tipis, bahkan hampir tak menutup, parahnya hal itu disengaja bahkan diperlombakan”, miris sekali kan bila kita ternyata kembali pada jaman dahulu, alias jadi orang JaDul. :P


Sebelumnya saya mohon maaf bagi kaum perempuan yang akan menjadi hal krusial nomor dua, ya kalau mau bahas laki-laki kayaknya gak ada apa-apanya hihihi. Hal ini justru lebih mengena pada perempuan soalnya. Pakaian yang digunakan perempuan berbagai macam modelnya, ada yang mengikuti mode ter-up to date, ada yang berpenampilan apa adanya, ada juga yang tetap berpakaian secara syar’i Alhamdulillah. Yang dikhawatirkan adalah yang mengikuti mode, mode pakaian terkini makin menjajah kaum perempuan. Sebut saja contohnya “Celana Pensil”, celana yang tidak terbuat dari pensil, hanya konotasi belaka yak arena semakin kebawah semakin runcing seperti pensil, semakin ketat pula. Senasib dengan yang bawah, yang atas juga, pakaian yang cukup ketat sehingga tak jarang memperlihatkan lekuk tubuh *Ups*, bajunya tak berkerah atau bahkan terbuka lebar dibagian atasnya, apalagi kalau kainnya tipis atau minimal tembus pandang *Eeaaak*. Next bagi yang ngakunya muslimah, memakai kerudung ataupun jilbab yang tidak menutup bagian dada, memakai jilbab yang menunjukkan bentuk rambut (biasanya terlalu menonjol kebelakang atau keatas), atau isu tentang “Candi dan Tumpeng Berjalan” coba tebak model hijab apakah itu? Hehehe. Ada juga yang menggunakan baju setengah lengan (tidak sampai pergelangan tangan), menggunakan rok atau celana panjang yang tidak sampai pergelangan kaki ditambah tidak mengenakan semacam kaus kaki untuk menutupinya sampai mata kaki. Apa yang saya uraikan bukan fiktif belaka tapi sudah menjadi fakta dan sering saya jumpai (jangan dikira curi-curi pandang yaaaa, hihihi).


Wahai para muslimah yang saya cintai (wah) lebih tepatnya muslimah yang disayangi Allah, pernahkan kalian berfikir sedetail itu? Kami para laki-laki terkadang prihatin lho atas hal ini meskipun tidak menutup kemungkinan laki-laki suka yang begituan. Bagaimana bisa sesuatu yang kecil itu kurang diperhatikan?. Tak perlu banyak ceramah, ada baiknya para muslimah sekalian paham. Berikut adalah pakaian yang sekiranya baik, benar, tepat dan pantas bagi kalian khususnya para muslimah:
1.      Pakailah kerudung atau jilbab yang sederhana namun syar’i, tidak menampakkan bentuk rambut, berusaha tidak menampakkan sehelai rambut pun, usahakan kerudung tidak membuat kepala berkeringat dan lembab (supaya rambutnya awet, heheee) dan gunakan kerudung yang agak panjang sampai menutupi bagian dada.
2.      Pakailah baju berkerah (tidak terbuka dibagian dada, bukan juga kaus) meskipun tertutupi jilbab atau kerudung, baju jangan ketat, baju longgar sehingga tidak membentuk lekuk tubuh (juga untuk sirkulasi udara, kalau pakaian ketat kasihan kulitnya), dan harus lengan panjang sampai pergelangan tangan atau lebih (bukan setengah lengan).
3.      Pakailah bawahan yang juga tidak ketat, kalau celana ya jangan celana pensil, harus celana (No legging please!!) yang juga agak longgar sampai pergelangan kaki atau lebih. Kalau mau lebih feminin bisa juga memakai rok panjang tak ketat (No rok mini please!!) sampai pergelangan kaki. Ditambah juga kaus kaki dan sepatu yang cocok.
4.      Intinya jangan ketat, jangan tipis, dan harus menutup auratnya perempuan.
5.      Kalau ingin bersolek alias ber-rias jangan “menor-menor” istilahnya jangan terlalu mencolok lah (kalau pakai lipstick merah banget dikiranya badut deh, hahaa), jangan menggunakan perhiasan berlebih apalagi yang Nampak dengan mata, memakai wewangian jangan yang terlalu memikat kaum laki-laki dan jangan juga memikat bangsa lalat.
6.      Pakaian jasmani sudah so pakaian rohani bisa didukung jaga pandangan, banyak-banyaknya menahan bicara yang tidak perlu, berbicaralah bila dibutuhkan dan usahakan mengena tujuannya, jaga ucapan, jangan teriak-teriak, jangan mengGOSIP gak jelas daaaan lain-lain. *masih banyak sih, males nyebutinnya* :)


Wahai para muslimah yang insyaAllah dirahmati Allah, bagaimana? Tertarik untuk memperbaiki penampilan anda? Sudah siapkah menjadi seorang muslimah sejati mulai dari segi penampilan?.... jangan takut ketika anda ingin menutup aurat dan menjaga kehormatan anda, jangan takut bila kelak dibilang tidak gaul, jangan takut bila dibilang sok beriman, jangan takut bila kelak disebut teroris atau bahkan pengikut aliran sesat…. Pada dasarnya kita berda di lingkungan yang tidak menentu, sedangkan kita berusaha menegakkan kebenaran, bahkan kita mengajak pada kebenaran, mengajak kembali sesuai aturan yang wajar yang sesuai aturan yang syar’i…. Disitulah letak ujian kita yang mengaku taat pada Allah, tak perlu khawatir, dengan menjalankan perintah-Nya insyaAllah kita pasti ada dalam lindungan-Nya dimanapun kita berada. Wahai para muslimah sejati jangan mau apabila kalian kembali pada jaman dahulu, jangan mau disebut perempuan JaDul yang sesungguhnya. Menutup diri dalam artian menutup aurat sama dengan menghormati, menjaga serta melindungi diri para perempuan. KEINDAHAN YANG SEBENARNYA TAK SELALU NAMPAK, JUSTRU TERTUTUP DAN TERSEMBUNYI DARI HAL-HAL YANG MERUSAK DAN MENGANCAM KEINDAHAN TERSEBUT.

Bismillah, semoga sedikit *banyak padahal* tulisan ini dapat menginspirasi umumnya untuk penulis sebagai seorang laki-laki dan khususnya pada anda semua perempuan serta para muslimah yang saya cintai (lagi) dan (sekali lagi) disayangi oleh Allah :) Jazakumullah khairon katsiron wa jazakumullah ahsanal jaza’, akhirul kalam wassalamu’alaikum wr. wb., Pembaca. Maaf kalau terlalu panjang, hehehe ^_^

Saturday, December 29, 2012

SEMERBAK HEDONISME TAHUN BARU MASEHI


Assalamu’alaikum Wr. Wb., Pembaca. Sebentar lagi kita akan berpisah dengan tahun 2012 dan siap-siap say hello untuk tahun 2013. Seperti biasa, tentunya akan ada Event untuk merayakan Tahun Baru ini. Banyak orang-orang yang pastinya sudah siap-siap. Siap-siap apa? Mari kita lirik tempat-tempat perbelanjaan, sebut saja Supermarket dan Mall, berbagai gebrakan tidak baru yang diadakan pihak tempat tersebut. Seringnya adalah diskon yang pasti akan menghipnotis banyak orang untuk datang membeli barang-barang yang telah didiskon, membeli ini itu, segalanya diambil bahkan karena hebohnya diskon sampai 90% mereka rela berebut dan datang setiap hari. Kita lirik juga supermarket level menengah sebut saja market (Pasar) untuk memeriahkan, disini dilengkapi juga penjual terompet, kembang api, petasan, bahkan lebih ekstrem lagi petasan berdaya ledak nuklir *yang jual teroris*. Semuanya serba dihiasi kesenangan, kemeriahan, kehebohan bersama akan datangnya tahun baru. Itu sisi yang mungkin dianggap baik oleh sebagian besar masyarakat, namun ada juga yang menghiasi perayaan tahun baru dengan kesenangan yang negatif, Sebagai contoh pesta miras, pesta narkoba, konvoi motor “knalpot jebol”, clubbing dan lainnya, Naudzubillah bila masih ada yang seperti itu. Pembaca, apakah anda merasa Perayaan Tahun Baru pantas kalau hanya dibuat bersenang-senang?? Untuk pembaca yang muslim, apakah anda pernah melihat perayaan Tahun Baru Islam semeriah itu?? Lalu sebenarnya apa makna Tahun Baru beserta perayaan-perayaannya itu?....


Pembaca, mungkin “hampir” semua Negara di dunia ini merayakan Tahun Baru, ya memang karena ada sistem penanggalan. Dalam bahasan ini adalah sistem penanggalan Masehi, yaitu berkaitan dengan revolusi bumi terhadap matahari. Sejauh yang penulis dengar dan ketahui, penanggalan Masehi itu buah karya pemikiran bangsa Romawi. Dan kaitannya dengan Perayaan Tahun Baru itu adalah salah satu wujud penghormatan bangsa Romawi terhadap Dewa (kalau tidak salah, Dewa Janus, Dewa pembuka tahun). Disitulah berbagai macam kesenangan duniawi terjadi, pada intinya perayaan tersebut hanya bersenang-senang saja. Maka tak perlu kaget lagi ketika Tahun Baru identik dengan pesta, serba meriah, kesenangan bersama, entah itu dalam hal baik maupun buruk. Sebagai seorang muslim saya bandingkan juga dengan ajaran islam.


Dalam Islam juga ada tahun baru, yaitu Tahun Baru Hijriah. Kalau masehi berdasar Matahari, kalau hijriah insyaAllah berdasar Bulan *kalau salah tolong koreksi :)* Penulis sering bingung, mengapa perayaan tahun baru islam tidak semeriah tahun baru masehi?? Salah dua dari Hari Besar Islam yang Identik dengan Perayaan adalah Idul Fitri dan Idul Adha. Disitulah perayaan bagi Islam. Sebagai pembanding adalah Tahun Baru biasa mungkin penuh dengan senang-senang semata, namun dalam islam lebih dari itu. Senang dan bahagia memang harus, namun perayaan dalam Islam lebih mengutamakan kekeluargaan dan kebersamaan demi keutuhan dan kebaikan masyarakat sendiri. Idul Fitri dan Idul Adha sudah pasti menunjukkan kebersamaan yang sebaik-baiknya, sebagai contoh saling meminta maaf dan memaafkan, saling silaturahim dengan kerabat serta tetangga, saling berbagi serta makan-makan bersama, dan terutama adalah Ibadah bersama. Sangat jelas tujuan Allah akan adanya 2 perayaan ini.


 Cukup kontras bila dibandingkan dengan Tahun Baru masehi yang tujuannya samar-samar. Berkaitan dengan itu apa tidak sebaiknya kita merubah paradigma kita akan Perayaan Tahun Baru yang akan kita lakukan? Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ya lakukan secara wajar. Senang akan pergantian Tahun itu wajar, namun tetap harus dibarengi dengan pemahaman dan perbaikan pribadi. Jangan sampai kita larut dalam kesenangan semata, atau bisa disebut hedonisme. Jangan sampai di awal tahun itu kita awali dengan maksiat, mabuk, mengganggu ketentraman dan keamanan, berbuat yang tidak sesuai syariat agama. Seringnya masyarakat sekarang rela tidak tidur, rela keluar malam hanya untuk hal yang telah penulis sebutkan, padahal banyak hal yang masih bermanfaat. Contoh mudah adalah tidur, setidaknya tidur lebih baik daripada melakukan hal yang kurang bermanfaat. Atau lebih baiknya tidur lalu bangun malam dibarengi ibadah shalat malam serta muhasabah (evaluasi diri) yang mana insyaAllah lebih disukai Allah, lebih bermanfaedah, dan yang terpenting diri juga lebih aman. Atau mungkin dengan dzikir, memohon ampun pada Allah atas kesalahan-kesalahan kita selama setahun ini. Serta mulai berfikir apa saja tujuan kita ditahun berikutnya, apa saja planning kedepannya, dengan harapan itu menjadi titik start kita tentunya dibarengi dengan berdo’a memohon agar tercapai.


Menurut penulis, “Jangan sampai kita tergoda dengan kesenangan semata, jangan sampai tergoda oleh orang-orang diluar sana, itu adalah propaganda sifat senang-senang samata (Hedonisme). Kita harus mempunyai pendirian yang tegas, harus punya pandangan yang jelas, punya pemahaman yang jelas akan apa yang dilakukan orang lain. JANGAN BIARKAN SEMERBAK HEDONISME TERHIRUP MASUK QOLBU KITA UNTUK MENGAWALI TAHUN. Disinilah sebenarnya peran keyakinan akan ajaran agama yang benar!! Diakhir jaman ini tentunya tantangan hidup lebih sulit, manakala kita tidak memiliki pondasi agama yang jelas dan kuat, bersiaplah roboh aqidah kita. Bagi siapa yang mampu menangkal dan menjauhi godaan-godaan tersebut, itulah mereka yang beruntung!!”. Awali Tahun 2013 ini dengan sesuatu yang telah PASTI manfaatnya. Penulis mohon maaf apabila setahun ini banyak salahnya *pasti*, mohon maaf bila posting saya Sungguh Terlaaaaaalu…. Semoga bermanfaat, jazakumullah khoiron katsiron wa jazakumullah ahsanal jaza’, akhirul qalam Wassalamu’alikum Wr. Wb. 

Friday, December 7, 2012

JANGAN BIARKAN AIB DAN KEPRIBADIAN TERGADAIKAN OLEH JEJARING MEDIA SOSIAL!!!!


Assalamu’alaikum wr. wb. Pembaca. Sebelum memulai pembicaraan ada baiknya saya bertanya, “What’s On Your Mind?” untuk mengtahui apa sedang anda fikirkan, hehehe…. Siapa yang sering bertanya pertanyaan seperti itu selain saya barusan?? Tak sedikit yang melihat tulisan tersebut terpampang di halaman awal sebuah web, sebenarnya tak hanya satu, sangat banyak yang seperti itu namun modelnya berbeda. Ya, siapa lagi kalau bukan kata jejaring sosial?? Medsos a.k.a. media sosial tak lagi hal yang asing untuk orang modern seperti yang sedang membaca tulisan ini *ya iyalah* karena memang sengaja di share lewat jejaring media sosial. Tidak boleh sebut merk ya sebut saja Facebook, Twitter, What’s Up, dan kawan-kawannya. Coba, syukur kalau yang membuat dan memakai jejaring media sosial ini meniatkan untuk membantu dan mempermudah orang lain lebih-lebih untuk menjalin silaturahim, untuk media diskusi ilmiah dan dakwah online, mungkin benar-benar Alhamdulillah.


Tak sedikit ternyata orang-orang yang membuat forum diskusi yang memang membawa manfaat, ada yang berbagai ilmu-ilmu, sharing web link bermanfaat, dan lainnya. Itu sisi positifnya kan lebih menyangkut orang banyak, sekarang coba dari sisi netralnya. Dalam sisi netral lebih kepada diri sendiri, sebagai contoh sebagai media promosi jikalau seseorang mempunyai barang yang ingin dipromosikan, bisa juga sekedar menulis hal-hal yang menarik (tidak menyalahi aturan). Cukup sering kan? Termasuk penulis. Namun ada juga pasti sisi negatifnya, ini susahnya ketika media sosial dijadikan tempat untuk sharing dan promosi hal-hal yang dilarang, media sosial yang dijadikan lahan ejek-ejekan, dijadikan senang-senang semata sampai lupa kewajiban, daaaan masih banyak lainnya. Berhubung penulis adalah remaja maka pembahasan tak jauh dari masalah remaja. Sebut saja media sosial sebagai tempat dalam ajang mengekspresikan apa yang ada difikiran secara totalitas tak kenal batas, istilahnya itu CURHAT. Betapa tak terbatasnya saat kita curhat, kata orang, “ ngomong opo wae, pokok e puas, pokok e plong, gak ngganjel nang ati”. Sebenarnya saya kurang sependapat bila saya berkata “tak kenal batas”. Apapun itu pasti ada batas kewajaran penggunaan. Bagi mereka yang paham, banyak celah dari hal ini yang bisa difikirkan lagi. Let’s check, ada 2 yang menjadi fokus saya….


Sebut saja “Foto Profil”…. Setiap media jejaring sosial mencantumkan isian yang berupa foto atau gambar pengguna tersebut. Batas kewajaran yang pasti yaitu pasang foto yang sopan. Jangan sampai foto profil anda membawa pada fitnah, membawa pada kemudharatan. Sebagai contoh berpakaian tak sesuai aturan, berpakaian yang “kekurangan bahan”, foto atau gambar yang mengandung perspektif dan persepsi negatif. Khusus untuk yang beragama islam, lebih khususnya lagi para perempuan, yang cantik, manis, shalihah, PLIS!!! Usahakan berpenampilan sopan, tampil sebagai muslimah yang baik, untuk yang sehari-hari berhijab ya gunakan jilbab atau kerudung jangan sampai diluar berkerudung namun di media sosial lepas hijabnya deh, naudzubillah,  jangan pose alay yaaa nanti lawan jenisnya jadi “illfeel”. Kalau tidak sanggup lebih baik download gambar kartun muslimah yang cantik atau lucu terus dijadiin foto profil atau apalah pokoknya yang baik-baik. Jangan biarkan sebuah foto mampu menumbuhkan fikiran negatif bahkan fitnah. Jaga kehormatan diri itu penting sekalipun itu hanya sebatas wujud 2 dimensi (foto). Muslimah yang cantik pasti paham ini :) yang laki-laki juga jangan alay please, be a normal human being factually and virtually. Kalau di ilmu psikologi mungkin sebuah foto bisa menjadi gambaran jelas bagaimana kepribadian orang tersebut, so hati-hati akan persepsi orang lain yang mungkin akan muncul :)


Yang paling krusial yaitu “Status”…. Sebenarnya status kan lebih pada status: lajang, single, double, triple, jomblo, janda tua *nah lho, salah gaul*. Namun “status” disini kerap diartikan sebagai apa yang kita tulis mencakup apa yang kita fikirkan, apa yang ingin kita sampaikan, entah itu iseng-iseng atau jujur dari perasaan terdalam, yang kesemuanya itu menjadi jawaban mutlak atas, “What’s On Your Mind?” dengan output sebuah tulisan yang terpampang di jejaring media sosial tersebut, bisa dilihat dan dibaca orang lain, tidak lupa tercantumkan isian untuk kita berkomentar dan menyukai “status” tersebut. Apasih esensinya?? :)…. Penulis pribadi secara subjektif lebih menganggap “status” itu esensinya adalah kepuasan seseorang karena bisa menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan namun terhalang suatu hal, maka dari itu dipilihlah jejaring media sosial untuk megungkapkan sejelas mungkin, tentunya dengan suatu “batasan” tertentu.


Sejauh yang penulis tahu, status iu isinya curhatan, kata-kata iseng, gombalan, pacaran, dan yang lebih oke seperti kata-kata bijak, ajakan pada kebaikan, dakwah, tambahan ilmu dan lainnya. Untuk yang suka curhat, ada baiknya tidak “loss” dalam berbicara. Tak sedikit curhatan yang berlebihan berujung pada perselisihan beda pendapat, yang lebih gawat adalah sebenarnya curhat masalah pribadi  via jejaring sosial membuka celah selebar mungkin kepada orang lain untuk mengetahuinya, dalam artian mengetahui masalah, aib, rahasia anda. Bukankah kita tidak boleh mengumbar masalah dan aib kita pada orang lain?? Kalau kata remaja itu, “ojo frontal” alias jangan terlalu jelas dan terkesan mengumbar apa adanya tanpa difikirkan dahulu akibatnya. Kita pribadi tak ingin kalau semisal ada hal-hal diluar kemauan kita dan itu tentang diri kita beserta masalah kita sebagai hasil dari apa yang kita lakukan. Berfikir dahulu, ya kalau “loss” itu jelas tidak berfikir, alias asal tulis.

Berikutnya, tak jarang lihat status yang menjelek-jelekkan seseorang *biasanya habis putus pacaran, hehehe* tak peduli apa yang ditulis yang penting tujuannya cuma satu, menyinggung!. Benar-benar keterlaluan bila media sosial dijadikan tempat menjelek-jelekkan seseorang apalagi dengan kata-kata yang kasar, ditambah tulisannya khas sekali yang UuuWAL4Ynya, masyaAllah, kok ya masih ada umat seperti itu. Ada baiknya kita menjaga mulut kita dan jemari kita yang secara tidak langsung ikut berpartisipasi dalam hal yang kurang berguna atau memang tidak berguna untuk dilakukan.


Fenomena status berikutnya adalah hal-hal berbau pamer dan sok tahu. Maaf kalau saya lebih frontal dan tidak bijaksana. Masih dengan fenomena remaja, penggila boyband girlband. Ada saja yang bikin status senang karena dapat tiket menonton konser, senang bisa  bertemu personilnya, “HOyeEe 4b!s LiH4t k0NsErny4 SuJu *Super Judes*”. Sebenarnya hal-hal seperti ini tanpa disadari mendekati pamer. Dikatakan pamer adalah ketika seseorang dengan bangganya mempublikasikan sesuatu yang mana orang lain belum atau bahkan tidak berkesempatan mendapat hal itu. Sebenarnya rugi jika kita seperti itu, lebih baik kita mencoba menuliskan hal-hal yang berguna, memberikan link-link web yang baik, mencoba berbagi ilmu bukan berbagi foto-foto atau video band-band yang absurd *ups*.


Sebenarnya masih banyak hal-hal yang bisa dijadikan bahan kajian ulang. Dari yang sudah penulis tulis diatas bahwa apa yang kita ungkapkan itu bisa menjadi senjata yang akan membunuh diri kita sendiri apabila salah dalam pemakaian. Begitu juga ketika menulis “status” atau apalah dijejaring media sosial yang mana pasti dilihat oleh banyak orang entah orang yang kita kenal atau tidak, entah orang baik-baik atau bahkan orang tidak baik, entah seorang penjaga perkataan atau justru orang yang suka mengumbar perkataan tanpa piker panjang, entah makhluk apa yang akan membuat apa yang anda tulis menjadi faktor pembawa keburukan, menjadi pembawa masalah baru, membawa kemudharatan bagi diri sendiri lebih-lebih jika menyinggung perasaan orang lain yang tak bersalah, dan naudzubillah jangan sampai menjadi penurun bahkan perusak pahala-pahala kebaikan kita yang justru tergantikan oleh tumpukan dosa tiada henti, dan lainnya. Perlu dihati-hati, perkataan dan sikap sering kali menjadi tolak ukur kepribadian seseorang. PERKATAAN ANDA ADALAH AIB DAN KEPRIBADIAN ANDA, JANGAN BIARKAN JEJARING MEDIA SOSIAL MEMBERI CELAH UNTUK MEMBONGKARNYA…. Mohon maaf karena penulis memang subjektif, frontal, gak beraturan, atau apalah, semoga bermanfaat dan membuka sedikit wawasan kita semua. Jazakumullah khairon katsiron wa jazakumullah ahsanal jaza’, Wassalamu’alaikum wr. wb. ^_____^