Assalamu’alaikum, Pembaca. Sekian lama tidak
nge-post sesuatu, yah karena bingung juga mau nge-post apa. Berhubung barusan
bilang kata “bingung”, ada sebuah kisah singkat yang saya kutip berikut ini.
Sesingkat-singkatnya sebuah cerita manakala berisi setidaknya satu hal penting,
kisah singkat tersebut akan terngiang selalu dipikiran kita (lha kok kisahnya?
Apa bukan pesannya?). Banyak versi ceritanya kok, tapi ini versi yang tiada
duanya di dua dunia.
“Kisah yang hadir dari seorang
bapak, anak beliau, serta keledai peliharaan beliau. Suatu hari si bapak hendak
pergi mengajak anaknya jalan-jalan ke suatu tempat. Beliau memutuskan juga
membawa keledainya. Bapak yang baik ini juga menyuruh anaknya untuk naik diatas
keledai agar tidak lelah. Diawal perjalanan, bertemulah mereka dengan seseorang
Mr.X1 (nama kami samarkan menjadi tanpa nama). Seseorang tersebut berkata
kepada anak tadi bahwa betapa tidak sopannya anak tersebut karena membiarkan
bapaknya jalan kaki. Mendengar pendapat seperti itu, si anak langsung turun
dari keledai lalu si bapak lah yang naik keledai. Perjalanan berlanjut hingga
bertemu dengan orang lain Mr.X2 (nama tetap kami samarkan). Orang tersebut
mengatakan bahwa betapa tidak baiknya bapak tersebut membiarkan anaknya jalan
kaki hingga lelah. Mendengar pendapat itu
si bapak lalu mengajak anaknya untuk bersama-sama menaiki keledainya.
Lanjut meeeen, perjalananpun berhenti kembali manakala bertemu Mr.X3 (berasa
praktikum kimia analisis zat X deh, sekali lagi nama disamarkan). Orang
tersebut berpendapat bahwa betapa tidak berperikehewanan bapak dan anak
tersebut membiarkan keledainya membawa beban yang terlalu berat. Akhirnya si
bapak dan si anak langsung turun dari keledai dan melanjutkan perjalanan dengan
jalan kaki. Tamat, eeeits belum! Perjalanan dilanjut hingga pada akhir dari
yang terakhir sebelum hari akhir yaitu saat bertemu dengan tanpa nama (nama
tidak kami samarkan karena tidak punya nama). Orang ini berpendapat bahwa
betapa tidak bersyukurnya bapak dan anak tersebut, diberi keledai untuk dinaiki
tapi justru tidak digunakan dengan baik. Coba bagaimana respon bapak dan anak
pada pendapat orang ke-empat ini?? Tamat deh, hahaha”….
Apa sih yang kita dapat dan pahami dari cerita
tersebut??
1) Siapakah
empat orang tanpa nama tersebut? Hehehe ^_^
2) Jalan-jalan
bawa anjing oke kucing oke, nah ini bawa keledai?? Oh meeeen
3) Akhir
cerita setelah ketemu orang ke-empat? Nah ini versi penulis ya, versi (1) setelah
bertemu orang ke-empat, bapak dan anak tidak memberi tanggapan, justru
keledainya yang merespon, sehingga sekarang perjalanan diteruskan dengan
keledai yang menaiki bapak-anak tersebut. (Emansipasi hewan).
4) Versi
(2) akhirnya si bapak dan anak frustasi lalu pulang ke rumah, nangis
gulung-gulung, ngelus dada, mbatin, wes pokok e trauma jalan-jalan bawa
keledai. Sedangkan keledainya tetap lanjut jalan-jalan, aseeek keledai yang
bijak, sabar menghadapi masalah ^_^
(Nah lho), coba kalau kita menjadi
bapak dan anak (keledai gak yaaaa) pasti kita mengalami yang namanya “bingung”,
padahal disuguhi masalah yang sama namun dengan pembawaan yang berbeda-beda.
Bingung yang ini lebih tepatnya “belum, kurang, maupun tidak mempunyai
pendirian yang tetap”. (Nah kalau pendiriannya tetap terus tak mau berubah dan
tak mau diubah??) Keteguhan pendirian seseorang biasanya tergantung apa yang
diyakininya. Tentunya harus keyakinan akan hal yang baik. Sehingga kita yakin
1000% saat kita menghadapi SATU masalah yang SAMA, dan kita mendapat 1000 opsi,
kita tidak akan mencoba semua opsi tersebut lalu diambil yang paling baik
(capek lah naik turun keledai diomelin orang pula, hehehe). Kita perlu diam
sejenak, lalu tarik nafas, tarik nafaas, tarik nafaaas, tak perlu dikeluarkan!.
Sejenak kita berfikir diantara 1000 opsi, manakah 100 opsi yang logis dan
realistis untuk dilakukan? Manakah 50 opsi paling solutif? Manakah 10 opsi yang
paling efektif efisien? Manakah 1 opsi yang puuuuuwaaaluwing logis realistis,
solutif, efektif efisien :)
(Nulis toh gampang! Bicara mah
gampang!! Melakukannya wooooe susah!!!)
Pembaca, hidup itu adalah pilihan, (1) memilih untuk
tetap hidup dan menerima berbagai masalah atau (2) memilih untuk mengakhiri
semua masalah sekalian mengakhiri hidup??. Padahal memilih nomor (2) itu tidak
mengakhiri justru masalah akan kita
hadapi di hari akhir lebih besar, so pilih nomor (1) tetap jalani hidup
dan menerima segala masalah yang ada. Ada pepatah “Hidup monotone tanpa
masalah”,”orang hidup tapi gak berfikir masalah hidupnya itu sama saja orang
mati! Ups kasar sekali ya”….
Apa sih dampak dari adanya “masalah” jika kita “membingungkan
diri” dalam memahaminya?
Sekali lagi ini versi penulis
1) Hidup
itu tak lepas dari namanya permasalahan
2) Permasalahan
apapun itu dimulai dari hal terkecil
3) Hal
terkecil itu sudah kita rasakan semenjak bangun tidur
4) Semenjak
bangun tidur kadang kita sudah membuat masalah
5) Masalah
yang kita perbuat berdampak pada fisik dan jiwa, bahkan orang lain
6) Fisik
yang bermasalah akan mengganggu aktivitas kita
7) Aktivitas
terganggu kita tidak akan produktif dalam hidup
8) Saat
kita tidak lagi produktif, apakah yang dapat kita lakukan? (Nganggur gak jelas)
9) Lanjut
saat jiwa ikut bermasalah, galau terus, orientasi hidup kita akan kacau
10) Orientasi
hidup yang kacau juga akan mengganggu aktivitas kita
11) Masalah
bertumpuk, ditindih masalah, dilempari masalah, serba bermasalah deh
12) Pada
saatnya akan terjadi Distress dan lagi-lagi itu masalah buat kita juga buat
orang lain
13) Frustasi,
depresi, tak mau makan, mudah lelah, mudah marah, sakit-sakitan
14) Lupa
diri, lupa orientasi hidup, lebih-lebih jadi lupa ibadah
15) K.O.
dunia akhirat
Sebenarnya sangat tidak nyambung
penjelasan saya itu tadi kan ya (Banget) ^_^ Pada intinya, berfikir positif,
sebatas tidak terlalu fatal mudhorotnya, semua masalah pasti ada hikmahnya
sekecil apapun itu, dan mungkin keyakinan kita masih lemah pada kalimat berikut
“Dibalik kesusahan, ada kemudahan, Allah memberi COBAAN TIDAK MELEBIHI
KEMAMPUAN umat-Nya, Allah gak mungkin bohong lho”. (Ngomongnya panjang kali
lebar kali tinggi, kesimpulannya cuma itu??@!*!?)….
Hal sekecil mungkin yang bisa diambil manfaatnya
akan tumbuh menjadi hal besar yang lebih bermanfaat lagi, semoga bermanfaat,
semoga kita bisa menjadi orang yang senantiasa berfikir dan bersabar dalam
mengarungi samudra kehidupan di dunia ini, jakumullah khoiron katsiron wa
jazakumullah ahsanal jaza’, mohon maaf lahir batin, wassalamu’alikum. ^_^
No comments:
Post a Comment