Saturday, October 28, 2017

JIWA PEMUDA INDONESIA: TERKINI DAN TERDAHULU, BERANI BERSATU

Pemuda Indonesia Berani Bersatu” (Kemenpora RI, 2017).

Assalamu’alaykum, Pembaca. Syukur alkhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk sekali lagi berada pada puncak atau minimal turut merasakan semangat para pemuda. Ya, tentunya momentum Sumpah Pemuda pada hari Sabtu (28/10) ini turut menjadi charger semangat kita.

Tak sejengkal tanah pada dunia di genggaman tangan Pembaca sekalian kecuali sudah dipenuhi dengan bibit-bibit jasmerah melalui ceritera perjuangan poetra dan poetri Indonesia terdahulu, peran penting pemuda yang disebut oleh salah satu Founding Father mampu mengguncang dunia, hingga tantangan dan pesan perjuangan kekinian terhadap pemoeda jaman now. Pun, pemerintah melalui Kemenpora dengan tegas mengusung big concept “Pemuda Indonesia Berani Bersatu” untuk menjadikan ledakan semangat ini sebagai suplai energi penguat dan penjaga keutuhan serta kemajuan NKRI.

Bukan sebaliknya, ledakan yang membumihanguskan NKRI dari sel yang terkecil yaitu diri kita sendiri, dengan contoh riil adalah berani bersatu menebar kebencian terhadap saudara sendiri terlebih saudara seiman, berani bersatu unjuk kekuatan atas nama penjagaan tradisi (yang negatif), hingga berani bersatu unjuk diri kaum yang dulu merasa teraniaya namun tetap sabar menunggu permintaan maaf serta pengakuan atas nama hak asasi dan eksistensinya yang tidak membahayakan.

Ledakan semangat tersebut sejatinya tidak hanya muncul pada momentum Sumpah Pemuda saja, karena pemuda memang identik dengan semangat menggelora, penyadaran kompetensi, pengakuan diri, aktualisasi diri, dan sebagainya, di berbagai waktu dan kondisi. Buah dari semangat tersebut cukuplah membenarkan bahwa pemuda berpotensi mengguncang dunia: semangat dalam pembinaan diri, berbakti kepada orang tua, peduli dengan kerabat serta sahabat, pemuda prestatif akademik, pemuda aktivis keagamaan, pemuda aktivis kepartaian, pemuda aktivis peduli bencana, komunitas pemuda sosiopreneur, komunitas pemuda pembina kaum marginal dan anjal, komunitas pemuda pejuang daerah 3T, komunitas pemuda pejuang 1000 Startup, hingga sekaliber aliansi pemuda pejuang anti reklamasi, aliansi pemuda pejuang anti korupsi, aliansi pemuda peduli kinerja pemerintah, dan sebagainya. Ya, pemuda jaman now sudah berani bersatu menghadirkan dirinya sebagai garda terdepan, analis, sekaligus problem solver di tengah masyarakat.

Pembaca yang terhormat, namun kemudian menjadi pertanyaan adalah sejauh mana analisis dan problem solving yang ditawarkan oleh pemuda. Mengingat pernyataan seorang tokoh pendidikan nasional yang menyatakan bahwa “Anak muda memang minim pengalaman, maka dari itu mereka tak tawarkan masa lalu, mereka menawarkan masa depan”. Ya, pemuda terkini memang minim pengalaman karena terlahir setelah pemuda terdahulu, sebuah konsekuensi logis, faktor U. Analisis dan problem solving tentu sejalan dengan pengalaman, tapi tetap saja semangat tak akan terbendung maupun surut seiring dengan kesadaran kurangnya pengalaman diri. 

Riskan itu manakala negeri dinaungi oleh beragam masalah sedangkan yang berwenang kurang atau bahkan tidak memberikan prioritas serta arahan yang jelas, siapa dan masalah apa yang akan diselesaikan terlebih dahulu. Kurangnya prioritas dan arahan pada umumnya juga dibumbui dengan gebrakan nama yang persuasif seperti gerakan seratus X, gerakan seribu Y, gerakan sejuta Z, dan seterusnya, sekaligus bumbu utama berupa sekian lembar kertas atau cek bernominal untuk Leading Innovation dari arah yang tak terduga, nyatanya sukses menggaet hati para pemuda yang rindu akan aktualisasi dan kontribusi, tanpa mengesampingkan niat baik untuk berdharma bakti pada negeri.

Disebut dari arah yang tak terduga karena hal yang rumit nan canggih lagi kekinian bisa jadi kalah dengan hal yang sederhana namun sesuai kebutuhan masyarakat lagi terjangkau, atau bahkan sebaliknya. Ibaratnya penggunaan energi dari ledakan tersebut kurang efisien, mungkin akan bertahan jangka pendek, tanpa menafikkan sedikitpun kebermanfaatan yang pasti ada.

Pembaca yang terhormat, betapa besar dan beragamnya potensi pemuda, bukan berarti pemuda harus menemukan, menganalisis, dan memecahkan masalah dengan kemampuannya sendiri. Memang benar bahwa pengalaman akan berkembang seiring bertambahnya temuan masalah, komprehensifnya analisis, hingga solusi yang tepat guna, manakala itu dilakukan langsung oleh pemuda. Hal tersebut agaknya menjadi dalil wajib bagi para pemuda terdahulu untuk tega dan segan “melepas” pemuda terkini atas nama kedewasaan dan kemandirian. Maupun dengan dalil demi tercapainya kualitas pemuda terkini yang diharapkan sama dengan atau bahkan lebih dari kualitas pemuda terdahulu yang mengaku telah melewati masa-masa sulit dijamannya hingga menjadi “orang” sekarang.

Riskan itu manakala pemuda terdahulu sukses bernostalgia dengan perjuangannya jaman dahulu ketika ditanya masalah, analisis, dan solusi oleh pemuda terkini, dijaman ini. Riskan itu manakala pemuda terdahulu sukses membuat sistem yang berjalan sempurna jaman dahulu ketika ditanya menyoal sistem yang hendak dikembangkan oleh pemuda terkini, dijaman ini. Riskan itu manakala pemuda terdahulu menyatakan bahwa perjuangannya kini telah usai maka sekarang giliran pemuda penerus, ketika mendapat ajakan oleh pemuda terkini, dijaman ini. Riskan itu manakala pemuda terdahulu sukses meyakini, menginternalisasikan, dan mengimplementasikan secara penuh dalil wajib yang penulis sampaikan diatas, ketika berhadapan dengan pemuda terkini, dijaman ini.

Dari kesemuanya, kemudian muncul hal yang lebih riskan yaitu manakala pemuda terkini sudah tidak percaya, tidak berkenan untuk menganggap penting pemuda terdahulu, tidak ingin menimba ilmu darinya. Padahal pemuda terdahulu merupakan kunci sekaligus penyempurna kelemahan atau kekurangan pemuda terkini, yaitu pengalaman.

Ketidakpercayaan tersebut tak jarang kembali membuat geram para pemuda terdahulu yang merasa tidak dipedulikan, tidak dihormati, tidak dianggap berkontribusi, dianggap sudah tidak relevan, dan sebagainya. Laiknya lingkaran syaithan, satu bermasalah, maka yang lainpun kena getahnya, hingga getah tersebut kembali pada yang memulai masalah. Bukan lagi salah pemuda terkini, pun bukan salah pemuda terdahulu, atau memang salah keduanya. Perlunya kesadaran diri masing-masing, meskipun alangkah baiknya pemuda terdahulu semangat memberikan contoh atau teladan yang baik.

Seorang tokoh muslim dari kalangan Shahabat, Ali bin Abi Thalib, menyatakan “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan jamannya, karena mereka bukan hidup dijamanmu”. Pembaca, secara tekstual memang ditujukan untuk anak, namun perluas wawasan kita. Tidak hanya sebatas orang tua (ibu-bapak) terhadap anak, namun berlaku juga untuk kakak terhadap adik kandung, kakak terhadap adik angkatan meskipun hanya berbeda 1 generasi, pimpinan terhadap stafnya meskipun hanya  berbeda 1 generasi, apalagi dengan yang jarak antar generasi cukup jauh. Karena berbeda 1 generasi pun tak menutup kemungkinan akan berbeda kondisi. Sejatinya hanya menyoal siapa yang lebih dulu lahir dan siapa berikutnya. Meskipun kita sama-sama familiar dengan istilah Baby Boomers, Gen X, Gen Y, Gen Z, Gen Alpha, dan sebagainya.

Maka, alangkah baiknya apabila pemuda terdahulu turut bersatu dengan pemuda terdahulu yang lain, yang sama-sama berpengalaman. Suksesnya nostalgia kita hanya sebagai teladan bagaimana pemuda terkini harus semangat berjuang. Selebihnya, pemuda terdahulu tetap memiliki kewajiban untuk mendidik pemuda terkini, dijaman ini, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, harus kembali berjuang untuk menilik balik atau me-review perkembangan jaman lintas generasi. Pemuda terdahulu tidak perlu khawatir, ragu, atau gengsi untuk belajar dari pemuda terkini terkait jamannya. Apabila ada kesalahan atau ketidakberkenanan kita terhadap pemuda terkini, maka dipastikan itu merupakan buah dari keengganan pemuda terdahulu untuk berbagi ilmu maupun memberikan teladan.

Akhirnya, pemuda itu bukanlah yang memang usia muda, luaskan wawasan kita bahwa pemuda itu merupakan JIWA, yang sah-sah saja dimiliki oleh semua kalangan, semua umur, kapanpun, dimanapun. Buktikan bahwa pemuda terdahulu tetap memiliki jiwa pemuda terkini untuk mampu berjuang dijaman ini. Buktikan bahwa pemuda terdahulu merupakan sebenar-benar teladan. Ketika kelak pemuda terkini menjadi pemuda terdahulu, Penulis berkeyakinan kuat bahwa pemuda terkini di masa depan kelak minimal akan melakukan hal yang sama kepada pemuda terkini di masa depan, dan begitulah seterusnya. Inilah sebenar-benar era kolaboratif untuk menyongsong era dengan tantangan yang jauh lebih rumit.

Penulis memohon maaf karena dalam kepenulisan lebih bersifat subjektif sehingga mungkin ada hal/ pemikiran/ konsep yang kurang berkenan. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Saran yang membangun selalu dinantikan untuk terus memperluas wawasan kita bersama.

Wassalamu’alaykum, Pembaca. 

Sunday, June 11, 2017

MEREKA YANG “PAHAM”, “TIDAK PAHAM”, DAN HADIRNYA “MANTAN”

Berhenti menutup mata, mulailah berbagi rasa. Berhenti menutup diri, mulailah memberi arti. Act now!” (Class Mild, 2013).

Sebuah kalimat yang sarat makna nan mudah dipahami. Sebuah kalimat nan persuasif yang mengajak kita untuk mengaktualisasikan diri. Sebuah kalimat yang terucap bukan dari seorang ahli kesehatan, pemerhati kesehatan, pemerintah, bahkan sekelas motivator, melainkan terucap dari seorang yang “paham” benar betapa manusia butuh asupan semangat baik secara tindakan maupun verbal. Bukan rahasia umum manakala sesuatu yang penting pasti disampaikan berulang kali, begitu juga mereka yang “paham” secara kontinyu memberikan pesan kehidupan tersebut setiap hari. Namun sungguh disayangkan, mereka yang “paham” justru duduk di kursi dan meja kerja yang tidak tepat, menuangkan gagasan pada kertas yang tidak tepat, pun membawa kepentingan yang tersembunyi dibalik sebuah pesan kehidupan. Kepentingan yang mampu terlindungi oleh karena kontribusinya pada perekonomian dan ketenagakerjaan suatu bangsa cukup bermakna. Kepentingan yang tiada lagi selain bisnis dan pengerusakan suatu bangsa itu sendiri. Kepentingan yang lambat laun memaksa mereka yang “tidak paham” untuk menerima sepenuhnya atau melawan semampunya.

Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin” (PP no 13 tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan). Banyak riset tak terbantahkan yang mendasari munculnya kebijakan tersebut. Zat berbahaya dalam rokok terbukti berpotensi besar membawa kita pada kondisi tersebut. Perlu kita apresiasi salah satu perlawanan mereka yang “tidak paham” dengan cara menuliskan tulisan tersebut pada kemasan rokok, berharap sebuah keajaiban terjadi pada triliyunan sel otak para penikmat rokok setelah membacanya. Sungguh disayangkan, tulisan yang informatif namun tak cukup kuat mencapai taraf persuasif. Tulisan yang menakut-nakuti sebagian kalangan sekaligus menggerakkan sebagian kalangan yang lain untuk menantang rasa takut yang ada. Sekalipun ada denda secara materiil berupa denda uang ketika merokok di tempat yang tak seharusnya itupun tak menyurutkan semangat para penikmat rokok. Rasanya bisa dimaklumi seiring dengan ketidaktegasan sang pembuat kebijakan, manakala mulut tidak lagi sejalan dengan tindakan.

Masyarakat yang “tidak paham” pun tak tinggal diam. Muncullah gagasan “No Tobacco Day”, hari tanpa tembakau maupun rokok. Sebuah momen mendunia dimana masyarakat melawan dan menumpahkan ketidaksetujuannya terhadap rokok bahkan penikmatnya. Ketidaksetujuan tersebut disampaikan melalui orasi dan ajakan untuk tidak merokok. Dituliskan melalui poster dengan gambar yang cukup menakutkan seperti asap tengkorak, gigi yang rusak, kanker saluran nafas atas, bahkan paru yang menghitam dan membusuk, sejalan dengan tulisan yang digagas pemerintah. Bahkan dengan totalitas ada sebagian aksi mendatangi penikmat rokok, menjelaskan berbagai hal seputar rokok, lalu rokok tersebut digantikan dengan makanan, minuman, atau minimal dengan sebungkus bunga mawar nan cantik untuk menggantikan kenikmatan rokok. Patut apresiasi perlawanan sekaligus kepedulian mereka yang “tidak paham” karena mau memahami, meski hanya sehari. Sungguh disayangkan, laiknya bunga mawar cantik, sungguh cepat layu, sejalan dengan berakhirnya momen No Tobacco Day. Mereka yang “tidak paham” kembali pada rutinitas masing-masing dan berjalan bak angin berlalu mendiamkan para penikmat rokok yang mungkin tanpa kita sadari hatinya mulai terketuk.

“Berhenti menutup mata, mulailah berbagi rasa”. Bukan berarti harus ikut menjadi penikmat rokok hanya untuk bisa berbagi rasa. Namun, menghadirkan diri tanpa berbekal orasi maupun poster nan menakutkan. Menghadirkan diri yang siap mendampingi bukan menghina, berbagi pesan kehidupan bukan mendakwa, mengajari bukan melarang, sebagai teman seutuhnya bukan sebagai Tuhan yang Mahabenar dan Mahasempurna.“Berhenti menutup diri, mulailah memberi arti”. Bukan berarti harus bergabung seutuhnya dengan penikmat rokok hanya untuk berani memberi arti. Namun, menghadirkan diri tanpa pola pikir bahwa penikmat rokok adalah penikmat dosa yang kelak akan menyesal dengan sendirinya. Menghadirkan diri yang mau memahami pesan kehidupan yang kerap dibutuhkan para penikmat rokok. Bagi kita yang “tidak paham”, pasti akan susah karena mungkin kita masih menutup mata dan menutup diri. Namun, ada kalangan yang sejatinya paham sembari berharap No Tobacco Day dapat diperingati setiap hari. Ada kalangan yang mampu memahami pesan kehidupan dan tidak sedang terikat dengan bisnis maupun kepentingan. Mereka adalah mantan penikmat rokok.


Akhirnya, “Act now!”. Era kekinian identik dengan semangat memperjuangkan eksistensi diri, semangat persatuan, semangat peduli, dan memperbaiki kondisi bangsa melalui kemunculan berbagai komunitas, merupakan suatu masa yang cukup berpotensi. Untuk melawan penikmat rokok, maka hadirkan mantan penikmat rokok. Untuk melawan mereka yang duduk di tempat yang tidak seharusnya, hadirkan mantan penikmat rokok untuk duduk bermusyawarah mengonsep pesan kehidupan. Untuk melawan pesan kehidupan semu, hadirkan mantan penikmat rokok sebagai pembawa pesan. Untuk melawan kontinyuitas pesan semu, hadirkan mantan penikmat rokok yang komitmen mendampingi secara riil dan kontinyu mengetuk hati hingga terbuka. Untuk melawan kepentingan semu, hadirkan mantan penikmat rokok yang mewakili kepentingan ummat. Hadirkan mantan penikmat rokok disetiap seminar kesehatan, disetiap diskusi strategis, disetiap sosialisasi kesehatan, disetiap sudut wilayah, disetiap momen temu warga. Hadirkan mantan penikmat rokok bukan sebagai pendosa, melainkan sebagai yang paling siap berbagi rasa dan memberi arti.

Sunday, July 24, 2016

AKHIRI (HALUSNYA) KEKERASAN PADA ANAK

Akhiri Kekerasan pada Anak” (KPPPA, 2016).

Assalamu’alaykum, Pembaca. Syukur alkhamdulillah atas limpahan nikmat-Nya sedari awal kita diijinkan terlahir di dunia melalui seorang ibu, menjadi seorang bayi, anak-anak, dewasa, bahkan hingga seusia Pembaca sekalian ketika membaca kalimat ini, berapapun itu. Alkhamdulillah telah memasuki sekitar pekan ke-3 bulan Syawal 1437H, jangan lupa menunaikan tanggung jawab dan semoga segera bisa menunaikan ibadah “plus-plus” spesial only in bulan Syawal. Penulis juga mengucapkan selamat Hari Anak Nasional 2016 tertanggal 23 Juli kemarin. Semangat mengakhiri kekerasan pada anak muncul seiring dengan maraknya tindakan kriminalitas, tindakan asusila, dan berbagai tindakan yang berdampak buruk terhadap anak, kini dan nanti.

Sebut saja fenomena, bagaimana hidup seorang anak yang overdosis lemak karena tidak terkontrol baik oleh keluarganya? Bagaimana kisah tragis seorang anak dan kerabatnya hingga diangkat menjadi sebuah film siap rilis? Bagaimana kesehatan segelintir anak yang tak segan menghirup batangan racun oleh karena lingkungannya? Bagaimana kisah memilukan tindakan amoral seorang guru terhadap penerus bangsanya? Betapa malangnya ketika anak menjadi korban lingkungan bahkan keluarganya sendiri.

Pembaca yang terhormat, namun apakah anak selalu menjadi korban? Sejatinya, tidak, karena anak pun menjadi pelakunya, seperti saat penulis mengawali tulisan dengan pernyataan “..kita diijinkan terlahir.. menjadi seorang bayi.. anak-anak..”. Sejatinya, semua dari kita, siapapun itu, adalah seorang anak dari kedua orang tua kita. Berapapun usia kita, tetaplah seorang anak. Berapapun anak yang kita miliki, kita tetap seorang anak. Pun ketika dua orang terdekat telah mendahului, kita tetap seorang anak. Kalau pada suatu acara televisi, bisa diibaratkan SU (semua umur). Dan kekerasan tidak hanya dengan model kasar secara kasat mata, namun juga ada yang halus tak kasat mata.

Kekerasan itu saat kita mengabaikan 3 hak. Hak pada Allah, hak pada keluarga, dan hak pada diri sendiri. Merasa tenang ketika panggilan Allah lewat sekian jam begitu saja. Merasa biasa ketika melihat keluarga asyik didepan layar televisi disaat panggilan Allah berkumandang. Merasa tidak bersalah dan kasihan bila anggota keluarga dibangunkan pagi buta untuk shalat shubuh. Merasa kuat dengan sengaja menunda makan dan istirahat pada waktunya. Lebih-lebih pada usia anak, “tapi kan tapi kan mengajari anak harus bertahap tidak boleh dipaksakan (?)”.

Kekerasan itu saat 3 cinta kita tidak muncul. Cinta pada Nabi, keluarga, dan Al-Qur’an. Rasanya cukup ketika sudah tahu tanggal kelahiran nabi, nama anggota keluarganya, nama nabi yang wajib diketahui, tanpa mau tahu apa yang mereka ajarkan, liku kehidupan seperti apa yang mereka alami, bagaimana bijaknya pengambilan keputusan yang mereka contohkan baik lisan maupun perbuatan. Rasanya cukup ketika pengabdian terhadap keluarga pada tataran mau membantu bersih-bersih, membantu belanja, giat belajar, atau rajin ikut les-lesan, disaat yang sama melupakan adab berbicara pada orang tua, tidak paham adab bersikap pada orang tua, tidak mau memahami batasan yang sewajarnya dalam keluarga, dan sebagainya. Pun rasanya cukup ketika bisa membaca dengan lancar rangkaian huruf hijaiyah, melafalkan bacaan dengan keras dan cepat, sebatas mau membaca terjemahan bebasnya, atau tilawah hanya saat bulan Ramadhan saja, tanpa merasa kurang dalam hal hukum bacaan, ilmu dalam terjemah, adab terhadap Al-Qur’an, bahkan tidak mau tahu keutamaan tilawah Al-Qur’an. Lebih-lebih pada usia anak, “tapi kan tapi kan anak sekarang sibuk-sibuk, pelajaran dan tugasnya banyak (?)”.

Kekerasan itu saat 3 hal lebih populer. Fashion, Food, and Fun. Mengenakan celana khas rimba dengan bekas cakaran singa, baju yang kainnya tipis dan mengandung lem sehingga melekat ketat dengan tubuh, hingga penutup kepala berbagai model plus asesorisnya, nyatanya lebih populer daripada pakaian longgar bin tebal bin polos bin syar’i. Melancong dan mencoba kuliner berbagai jenis hingga kenyang melupakan 3 hal yang lain, lebih memuaskan daripada menahan diri hingga maghrib menjelang dan merasakan 2 kenikmatan tiada tara dikala itu dan nanti. Berdiri sekian jam demi bertemu penyanyi eksentrik idola kita yang kali pertama manggung diiringi lantunan kalam-kalam manusia lebih tidak melelahkan daripada duduk sekian waktu bermunajat dalam taman-taman surga yang malaikatpun mendo’akannya. Lirik dan lagu-lagu asing nun jauh dari nilai-nilai baik lebih keren daripada Kalamullah dan lantunan shalawat nabi. Hafal dan tahu nama maupun wajah pemain sinetron bermotor beradu kuda besi atau pejuang militer memadu kasih dalam drakor lebih utama daripada hafal dan tahu nama sahabat dan pejuang di jalan Allah baik laki-laki maupun perempuan yang berdarah-darah teguh membela islam. Lebih-lebih pada usia anak, “tapi kan tapi kan anak harus beradaptasi dengan jaman dan lingkungannya (?)”.

Kekerasan itu saat 3 ruangan sudah penuh sesak. Ruang untuk makanan, minuman, dan udara. Food dengan segala rahasia resepnya mampu merangsang kelenjar saliva dan otak kita untuk menerimanya, apapun kondisinya. Tidak jarang nilai gizi digadaikan demi terpenuhinya 3 ruangan ini. Bahkan mungkin lupa bahwa seburuk-buruk tempat adalah perut (yang tersisi penuh). Pun menolak lupa bahwa perut merupakan sumber penyakit. Lebih-lebih pada usia anak, “tapi kan tapi kan anak dalam usia pertumbuhan membutuhkan nutrisi yang banyak (?)”.

Kekerasan dalam bentuk lain yang lebih halus, seperti saat beberapa guru dilaporkan bahkan dibui dengan mudahnya. Tidak menghiraukan guru berbicara, biasa. Bertindak semena-mena terhadap guru, take a selfie. Berani cerita kepada orang tua atas kekejaman guru, merasa jujur dan bangga. Giliran ditegur sedikit karena ketidaksengajaan, down. Giliran dihukum sedikit karena ketidakdisiplinan, menangis. Giliran mendapat perhatian lebih, sigap lapor penegak hukum dan komisi perlindungan. Giliran sukses masuk televisi, minta damai dan pengampunan. Padahal betapa pentingnya adab orang yang belajar terhadap orang yang mengajarinya, murid terhadap guru. Lebih-lebih pada usia anak, “tapi kan tapi kan anak harus diperlakukan dan diajarkan hal baik oleh gurunya (?)”.

Kekerasan yang halus itu saat “nilaimu berapa?”. Belajar apa? IPA, IPS, bahasa inggris. Nilainya berapa? 80, 90, 100, “wah pintar ya, pasti juara kelas dan masa depannya bagus”. Belajar apa? Matematika. Nilainya berapa? 75, 50, 40, “mau jadi apa kamu? Les sana! Atau mending tidak usah sekolah, memalukan”. Belajar apa? pendidikan kewarganegaraan, bimbingan konseling, pendidikan agama. Nilainya berapa? 80, 100, “mudah kan ya? Ndak usah belajar susah-susah, matematikamu itu tingkatkan”. Nilainya berapa? 70, 50, 30, “oh tidak apa-apa memang ilmunya susah, abstrak, kembali kepribadi masing-masing”. Input belajar matematika, output nilai matematika. Input belajar IPA, output nilai IPA. Input belajar PKn, output nilai PKn. Input belajar agama, output nilai agama. Bukan bagaimana keterkaitan, urgensi, dan nilai praktis antara matematika, IPA, PKn, agama, dan sebagainya untuk kemaslahatan/ kemanfaatan umat. Bukan pula bagaimana ilmu agama sejatinya tidak terpisah dari ilmu lainnya. Lebih-lebih pada usia anak, “tapi kan tapi kan gimanapun anak nilainya harus bagus supaya lulus (?)”.

Dan, masih banyak kekerasan lainnya yang lebih halus. Pembaca yang terhormat, akhiri kekerasan pada anak! Ya, pada anak, yaitu pada diri kita terlebih dahulu, mulai dari diri kita dahulu. Kekerasan yang kerap kita lakukan pada diri sendiri tentu akan membawa dampak bagi diri dan sekeliling. Hak terhadap Allah, keluarga, masyarakat, anak-anak, bahkan diri kita sendiri, apabila tidak terpenuhi tentu menjadikan sesuatu yang ada dalam tubuh ini menjadi keras. Sekeras batu. Bahkan tidak dimungkiri Allah akan benar-benar mengeraskan sesuatu itu, yang tiada nur bisa menembus kecuali dengan ijin-Nya. Yang lebih fatal adalah ketika kerasnya sesuatu itu menjadi awal dari kekerasan yang kasat mata membahayakan secara langsung, dan Allah benar-benar telah menutup sesuatu yang disebut dengan “hati”. Naudzubillah.


Akhir kata, penulis mohon maaf atas segala kesahalan informasi, tulisan, maupun hal yang mungkin menyinggung hati, karena penulis tak lebih baik dari Pembaca. Penulis memohon saran, kritikan, maupun ide yang membangun. Penulis pun sebagai seorang kakak, calon orang tua, pengajar serta pendamping bagi adik-adik, bahkan sebagai anak, mengakui masih juga melakukan kekerasan yang halus tersebut. Namun sebaik-baik manusia adalah yang mengingatkan akan kebenaran dan kesebaran, yang berlomba-lomba dalam kebaikan, serta bertaqwa pada Allah ta’ala. Karena masuk surga enaknya bareng-bareng. Akhirul kalam, wassalau’alaykum, Pembaca.

Sunday, July 10, 2016

SEBUAH POTRET ANTIMUBADZIR: MAKAN HABIS DAN PIRING KOSONG

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al A’raaf: 31).


Assalamu’alaykum, Pembaca. Syukur alkhamdulillah selalu terucap dari hati yang semoga masih diberikan hidayah untuk mengingat-Nya hingga hari ke-5 bulan Syawal ini. Yuk, katakan alkhamdulillah yang sudah mulai menunaikan tanggung jawab qada’ puasanya. Yuk, katakan alkhamdulillah yang sudah mulai puasa sunnah Syawal. Yuk, azzamkan atau tekadkan atau bahkan niatkan diri ini untuk dapat menyegerakan kedua hal tersebut bagi yang belum. 5 hari terlalui tentu dengan kebahagiaan karena “kembali boleh makan”. Hidangan spesial ala lebaran di Indonesia seperti aneka kue kering, beragam jajanan kaleng, sepanci ketupat sayur, seonggok daging ayam berbalur rempah, aneka warna dan rasa minuman, pasti membuat Pembaca sekalian #Opordosis. Kebahagiaan dari perut yang telah terenggut selama sebulan, meningkat drastis hanya dalam 1 hari. Tak lupa, perut memberikan #KodeKeras ke otak, tangan, dan mulut kita, bahwa diri ini sanggup menerima sekian banyak hidangan tersebut, seakan sanggup menghabiskannya. Alhasil, piring pun overload laiknya tol Brexit dan menggunung laiknya tempat pembuangan akhir. Namun sebuah akhir yang dramatis saat sekian sendok nasi, sekian liter kuah, sekian kilogram daging, harus mati (baca: terbuang) sia-sia karena ketidakmampuan perut kita sendiri.


Pembaca yang terhormat, menilik fenomena tersebut, cukup relevan dengan potongan ayat Al-Qur’an dari surat Al A’raaf. Betapa kita memang dapat berlebih-lebihan salah satunya dalam hal makan dan minum. Kalamullah surat Al-Israa’ ayat 27 disebutkan bahwa para pemboros merupakan saudara dari syaithan. 2 ayat yang insyaaAllah membuat kita cukup paham betapa bermaknanya segala hal (makanan dan minuman) yang mati (terbuang) sia-sia tadi.


Disisi lain insyaaAllah ada segolongan umat yang telah sadar atau paham, yang mencoba mengajak saudaranya untuk tidak bersaudara dengan syaithan terus-menerus. Segolongan umat yang berusaha menghabiskan makanan yang diambilnya, atau berusaha membatasi makanan yang hendak dikonsumsi sesuai kemampuan normalnya. Please wellcome spesial hastag #BeraniMakanHabis #PotretPiringKosong sebagai wujud Kampanye Antimubadzir.


Simply, pastikan di dalam piring, gelas, maupun wadah makan yang Anda pakai benar-benar hampir habis atau tidak tersisa sedikitpun kecuali yang nampak (noda, dll). Lalu potret dan beri hastag spesial tersebut. Niatkan diri sebenar mungkin lillahi ta’ala sebagai salah satu tanggung jawab reminder utamanya bagi diri sendiri dan umumnya bagi orang lain untuk tidak mubadzir. Lalu viralkan melalui media sosial. Sebuah kampanye antimainstream yang tidak hanya berlaku sekian hari pascaramadhan, namun juga untuk keseharian kita antara ramadhan kemarin dengan ramadhan berikutnya, insyaaAllah.



Penulis mohon maaf atas segala kesalahan yang mungkin terjadi dalam setiap tulisan (barangkali banyak yang tersindir, sakit hati, bunuh diri #eh) karena penulis tidak lebih baik dari Pembaca. Pun kampanye tersebut bukanlah inisiatif atau ide dari penulis, jadi jangan salah sangka. Penulis hanya menyampaikan fenomena yang ada. Saling mengingatkan dalam kesabaran dan kebenaran, saling berlomba dalam kebaikan, karena masuk surga enaknya rame-rame. Taqabbalallahu minna wa minkum, Pembaca, semoga amal ibadah kita saat ramadhan kemarin diterima oleh Allah dan kita dipertemukan dengan ramadhan berikutnya, Allahumma aamiin. Wassalamu’alaykum.

Friday, July 1, 2016

RAMADHAN.. KEPERGIANMU MEMBUATKU KEHILANGAN

“...Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan, kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu Rabbnya...” (HR. Muslim).

Assalamu’alaykum, Pembaca. Syukur alkhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan membuka mata hingga mendekati akhir ramadhan 1437H ini. Betapa bahagianya ya sebentar lagi bisa kembali pada rutinitas secara normal. Menikmati kembali segala makanan dan minum tanpa batasan apapun, terlebih makanan yang biasanya melimpah pascaramadhan. Menikmati nyenyaknya tidur tanpa harus bangun pagi-pagi benar untuk menjadi bagian garda terdepan jamaah shubuh. Menikmati dan memaksimalkan aktivitas malam hari tanpa terganggu +8 atau +20 yang benar menghabiskan waktu dan nyatanya melelahkan, tidak seperti makna santai sesungguhnya. Dan masih banyak lagi kenikmatan tiada tara ketika sebuah pintu dibuka dan pintu yang lain ditutup, benar begitu kan?? :)

Pembaca yang terhormat, senyatanya tidak sebahagia atau senikmat itu. Cuplikan hadits diatas menunjukkan salah satu kebahagiaan yang justru tidak akan kita dapatkan secara normal selepas ramadhan, bila tidak berbekal usaha yang begitu kuat.

Yang hilang itu, kebahagiaan saat berbuka puasa. Kebahagiaan yang tidak diketahui orang lain, hanya kita dan Allah yang tahu. Orang lain hanya bisa melihat semangat kita ke masjid, antri ta’jil, menyegerakan berbuka, dan sejenisnya. Namun kembali, itu hanya sebagian yang nampak. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama kebersamaan. Kebersamaan saat berbuka puasa “buber” dengan keluarga, rekan-rekan, bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun. Kebersamaan berkumpul yang insyaaAllah, dan semoga diniatkan dengan benar, untuk silaturrakhim. Bukankah silaturrakhim bisa “memperpanjang” kesempatan kita untuk berbuat baik? Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama kesetaraan. Baik kita kaya atau berkecukupan, bos atau pegawai, pejabat atau rakyat jelata, kaum intelektual atau kaum awam, we’re all the same. Apapun kondisinya, kita sama-sama merasakan namanya dahaga luar biasa, lapar tiada tara, nyesaknya menahan segala sesuatu yang halal lagi baik untuk kita nikmati. Orang yang hanya bisa makan 1x sehari bila mampu, hingga yang biasa makan 3x sehari bila tidak kurang. 1 bulan yang mana membuat kita sama-sama “merasa” senasib seperjuangan, saling menguatkan dan menahan diri dari godaan makanan yang nikmat. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama sahur. Bukan sahurnya, namun sunnah Rasulullah. Pahala sunnah yang hanya didapatkan untuk orang-orang yang sahur sebelum puasa. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, somekind like menyegerakan berbuka. Bukan secepat-cepatnya menghabiskan seluruh sajian ifthar, namun sunnah Rasulullah. Menyegerakan berbuka dengan kurma dan air bening juga sunnah. Sunnah lagi. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama santai dan berjumlah +8 atau +20. Shalat tarawih, yang semakin menambah keberkahan karena telah mengisi malam yang biasanya waktu untuk istirahat, waktu untuk keluarga, waktu untuk belajar, namun diisi dengan ibadah yang sunnah juga. Lagi-lagi sunnah. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama respect of time. Bangun pagi benar, bisa. Sahur mendekati shubuh, bisa. Shalat Shubuh jamaah, bisa. Beraktivitas, masuk kerja, masuk sekolah, tetap tepat waktu, bisa. Shalat dhuhur, ashr, maghrib, berjamaah dan tepat waktu, bisa. Berbuka puasa tepat waktu tet saat adzan, bisa. Shalat isya dan tarawih tepat waktu, bisa. Tetap tilawah dan beraktivitas malam sampai tidur lalu bangun shalat malam tepat waktu, bisa. Apakah setelah “ngoyo” atau berupaya seperti itu lalu kita kelelahan? Jatuh sakit? Tidak pula. Sebuah kondisi time management yang kondusif dan bukti nyata bahwa kita mampu tepat waktu. Bukan sehari dua hari, namun 1 bulan. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama saudara-pejuang-pemakmur masjid. Merasakan penuhnya jadwal piknik ke taman-taman surga dari pagi sampai malam. Melihat penuhnya masjid diawal ramadhan, sebanyak itulah saudara kita. Melihat depan, belakang, kanan, kiri, sudut-sudut ruang, baik yang melingkar atau berjajar, sama-sama tilawah Al-Qur’an, menjaga pintu-pintu masjid terbuka dan lampu-lapun masjid tetap menyala sampai larut malam. Sunnah, so pasti, namun dilain sisi lagi-lagi suatu kondisi yang kondusif, kondisi yang “hidup”, kondisi yang diidam-idamkan oleh masjid manapun. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama lailatul qadr. 1 malam saja, bernilai lebih baik dari 1000 bulan. Disaat malam-malam lain hanya membuat kita galau karena single, menatap takjub langit yang mendung, maupun menatap kosong langit indah penuh bintang, 1 malam ini benar-benar menggerakkan kegalauan dan tatapan palsu itu menjadi lantunan kalamullah sembari berdo’a memohon ampunan atas segala jenis dosa yang telah melangit ini. 1 malam tak terduga yang mampu menggerakkan semangat taqwallah minimal dalam 10 hari terakhir ini. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, double-triple-quadruple-infinity exp. Gamer setia pasti tahu exp (experience) berguna untuk naik level. Namun kita orang biasa cukup paham dengan pahala. Saat  1 kebaikan dilipatgandakan 10x atau 700x atau lebih dari itu, disaat yang sama sunnah dinilai wajib, yang wajib dilipatgandakan sekian kali yang wajib. Matematika Allah memang beda. Namun cukup menyadarkan betapa pahala benar-benar ready stock dalam jumlah tak terbatas dan siap kita raup sebanyak mungkin, setiap hari, setiap waktu, every where. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Pembaca yang terhormat, penulis yakin sebenarnya masih banyak hal yang akan hilang ketika bulan ramadhan ini usai. Dan, “...kenikmatan tiada tara ketika sebuah pintu dibuka dan pintu yang lain ditutup...”, ketika pintu-pintu neraka dibuka selebar-lebarnya, syaithan tidak lagi dibelenggu, apakah hati ini akan rindu ramadhan? Akankah diri ini tergerak untuk “melanjutkan” nafas-nafas ramadhan? Akankah diri ini mampu “menjaga” ramadhan sampai ramadhan berikutnya?.... Apakah kita yakin masih diperkenankan Allah bertemu dengan ramadhan tahun depan hanya untuk mendapatkan kebahagian-kebahagian tersebut?....


Akhir kata, penulis mohon maaf atas segala hal yang tidak selayaknya ditulis, maafkan atas segala sindiran yang ada. Mohon maaf juga atas segala kesalahan pribadi penulis didunia nyata. Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan oleh penulis. Wassalamu’alaykum, Pembaca.

Monday, February 1, 2016

GERAKAN MENUTUP AURAT: MENJAGA, MEMULIAKAN, SAUDARI SEUTUHNYA

Assalamu’alaykum, Pembaca. Syukur alkhamdulillah atas nikmat yang diberikan oleh Allah ta’ala hingga bulan Februari tahun 2016 masehi ini. Postingan edisi Februari, kiranya sudah bisa ditebak. Februari identik dengan 1 peringatan yang disukai muda-mudi kekinian. Suatu peringatan yang menguntungkan bagi pembuat coklat, penjual bunga, penjual surat dan kertas unyu-unyu, hingga pengusaha villa dan hotel sekelas kamboja *if you know what I mean. Ya, Valentine Day atau yang disalahartikan sebagian masyarakat sebagai hari Kasih Sayang.

To the point, masyarakat Indonesia yang semakin kritis tentu tidak segan sejenak searching makna dari Valentine Day, sejarah Valentine, perkembangan kekinian, dampak sosial maupun budaya, dan sebagainya, setuju? Tidak perlu tersipu malu untuk membuka wawasan, membuka pintu kelam masa lalu (atau mungkin sekarang), dan membiarkan seberkas cahaya berbalut hawa sejuk mengisi rumah yang kelam ini.

Terlepas dari momen tersebut, muda-mudi Indonesia, bahkan dunia, kini sudah move on. Ketika hari Kasih Sayang dimaknai dan disikapi dengan tepat oleh para muslimah, say good bye to Valentine Day and welcome GEMAR! GEMAR atau yang akrab disapa “Gerakan Menutup Aurat”, merupakan contoh nyata kasih sayang muslimah terhadap Indonesia, kini dan nanti. Sebuah gerakan yang berusaha menyelamatkan kita dari api neraka? (wih, ekstrem bahasanya!). Sebuah gerakan yang berusaha menggulung dagangan-dagangan “kurang kain” nan jahiliyah? (hmm, jahat sekali ya?). Ketika ada yang beranggapan seperti itu, cukuplah pahami GEMAR sebagai “gerakan yang berusaha memuliakan saudarinya, berusaha menjaga kehormatan saudarinya, berusaha menjadikan diri ini sebagai saudari yang seutuhnya”, bukankah kita bersaudara?

Tidak perlu heran ketika kelak saat hari Valentine ada agenda penggalangan hijab, bagi-bagi hijab laik pakai secara masif, bagi-bagi bunga, stiker unyu, kaus kaki antidingin, mengadakan seminar dan training hijab syar’i *tsaahh, mengadakan aksi di tempat-tempat yang tak terduga, dan sebagainya. Tidak perlu menganggap agenda seperti ini buang-buang waktu, tenaga, dana, bahkan perasaan. Toh semua yang terbuang itu bakal diganti oleh Allah dengan yang jauuuuuuh lebih baik dan banyak, kini maupun kelak, itu kalau Anda percaya sih. Tidak perlu beranggapan ini ajang cari perhatian untuk parpol, organisasi masyarakat, gerakan-gerakan yang berbasis islam (bukan yang ngaku-ngaku islam lho) karena itu sudah tugas utama mereka sehidup-semati, amar ma’ruf nahi munkar, itu kalau Anda paham sih. Tidak perlu malu untuk mulai mengenakan hijab, berpenampilan laiknya muslimah seutuhnya. Bila ada yang berpendapat bahwa memperbaiki sikap atau sifat lebih utama dari sekedar berhijab, rasanya justru setelah berhijab, kekuatan dan semangat untuk memperbaiki diri, bersikap-bersifat sewajarnya muslimah akan jauh lebih besar.

Overall, masyarakat kini semakin pintar, memaknai segala hal dengan lebih baik. Muslimah melihat potensi kebaikan yang bisa diwujudkan sebesar mungkin, menimbang besarnya mudharat yang akan berkembang bila suatu trend absurd dibiarkan, mengingat sudah kewajiban seseorang yang berbekal rahmatan lil’alamin untuk mengingatkan akan suatu kebenaran, dan menetapkan bahwa diri ini muslimah yang “siapa lagi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, siapa lagi kalau bukan saya, saya harus ambil bagian dalam kebaikan ini”. Inilah kasih sayang yang nyata. Bukankah wanita itu pilar suatu negara? Saling menguatkan antar pilar adalah hal yang utama, yo po ra?

Akhirnya, penulis mohon maaf atas segala tulisan yang kurang berkenan bagi Pembaca sekalian. Kritik dan pendapat selalu dinanti untuk perbaikan pemahaman penulis pribadi. Kesadaran, keikutsertaan, dan support Pembaca dalam segala kegiatan GEMAR yang hadir di kota Anda juga dinanti lho. See you at 14 Februari, Hari Menutup Aurat *Cowok juga lho!!!..

Wassalamu’alaykum, Pembaca tercinta.

Thursday, December 31, 2015

KIAN SADAR 31 DESEMBER

Assalamu’alaykum, Pembaca. Syukur alkhamdulillah atas segala nikmat yang diberikan Allah ta’ala hingga diperkenankan sampai pada akhir tahun 2015 Masehi. Penulis mengucapkan selamat hari jum’at, karena 1 Januari 2016 Masehi besok bertepatan pada hari jum’at, setuju?


Pembaca tercinta, tidak dimungkiri pergantian tahun baru ya begitu adanya. Tercium bau khas hura-hura, bau khas pesta tiada henti, bau khas panggung hiburan malam, bau khas campur baur dusel-duselan tak terbendung, bau khas bubuk pelangi yang ditembakkan keatas, dan bau khas yang lain yang mungkin unit K-9 milik polisi tidak sampai hati mengendusnya. Sebagai seorang muslim, tentu kita patut prihatin apabila nyatanya saudara-saudari kitalah yang tidak sampai hati diendus unit K-9. Tentu kita patut prihatin bila ternyata kerabat maupun keluarga kitalah yang tidak sampai hati diendus unit tersebut. Mungkin masih ada yang belum yakin akan makna dari itu semua.


Namun tidak sedikit kok muslim di Indonesia ini yang peduli sama hal begituan, silahkan browsing makna atribut yang biasa digunakan saat tahun baru. Silahkan browsing makna terompet. Silahkan browsing makna petasan/ kembang api. Silahkan browsing makna dentuman jam tanda pergantian tahun. Silahkan browsing sejarah pergantian tahun baru di Indonesia pun di dunia. Saudara-saudari kita merelakan harta, waktu, tenaga dan perasaannya untuk mengkaji dengan detail hingga menyajikannya secara lugas hal-hal yang memang benar adanya secara sejarah. Kini masyarakat kian sadar bukan, bagaimana menyadarkan saudara-saudarinya yang mungkin terbius bau khas pergantian tahun baru? Patut kita syukuri hal itu. Mungkin dulu kita seperti itu, lalu sadar atas ijin Allah, melalui saudara-saudari kita.


Pembaca, kini masyarakat kian sadar. Masyarakat semakin sadar betapa memanfaatkan waktu pergantian tahun begitu penting. Ya, to the point, silahkan browsing betapa banyak orang yang malam ini, ya malam ini, memanfaatkan waktunya untuk menghadiri majelis ilmu, kajian, tabligh akbar di masjid. Silahkan browsing bagaimana aparat negara sekelas PolRes mengadakan tabligh akbar. Silahkan browsing bagaimana mereka memasang spanduk berisi ajakan untuk memanfaatkan malam tahun baru yang identik dengan hura-hura, bising, mengotori lingkungan, menghabiskan uang, diganti dengan muhasabah bersama sekaligus bersedekah. Silahkan browsing bagaimana seorang walikota menginstruksikan pengurus masjid di kotanya untuk mengadakan doa bersama serentak ba’da shalat isya. Silahkan browsing bagaimana ormas menggencarkan shalawat bersama, doa bersama, dzikir bersama, muhasabah akhir tahun, tidak tanggung-tanggung langsung menghadirkan sekian banyaknya juru dakwah. Kini masyarakat kian sadar bukan, bagaimana secara bertahap namun totalitas berusaha membuat iklim baru saat pergantian tahun? Patut kita syukuri. Mungkin dulu lingkungan kita seperti itu, namun atas ijin Allah, lingkungan kita menjadi lebih kondusif atas usaha saudara-saudari kita.


Pembaca yang terhormat, penulis yakin trend pergantian tahun baru berikutnya akan menjadi semakin baik. Semakin banyak yang memanfaatkan waktunya dengan tepat. Semakin gencar amar ma’ruf nahi munkar, esspecially saat pergantian tahun baru. Ketika kita sudah tersadar, lingkungan semakin mendukung, pertanyaannya hanya satu, “Sudah siapkah diri ini?”. Ya, sudah siapkah diri ini mengambil posisi strategis dalam mengawal saudara-saudari kita yang lain? Sudah siapkah diri ini menjadi bagian dari pioneer lingkungan yang semakin kondusif? Sudah siapkah saudara-saudari kita terdahulu mengambil manfaatnya manakala kita mampu meneruskan perjuangannya?. Masihkah kita berdiam diri duduk di depan laptop (penulis juga sih hehe) dan sekedar berangan-angan semata? Masihkah kita tidak mau beranjak dari diri yang jahiliyah menuju diri yang terang benderang? Bukankah seorang muslim dinanti kebermanfaatannya? Bukankah seorang muslim sudah memiliki bekal yang rahmatan lil’alamin? Alangkah baiknya seorang muslim sadar bahwa dirinya muslim. Sadar akan tanggung jawab dan konsekuensinya, tidak hanya terhadap diri pribadi, namun terhadap saudara-saudarinya. Bukankah masuk surga enaknya rame-rame?



Penulis mohon maaf bila banyak teori semata, banyak bicara saja namun less action ever, no action. Mohon maaf atas tulisan yang kemungkinan menyinggung hati Pembaca. Semoga dapat diambil manfaatnya, meski hanya 1 kalimat yang membekas di hati. Semangat tahun baru, bersama menjadi pribadi muslim yang utuh, yang kaffah. Bersama, mengingatkan akan nahi munkar. Bersama, membudayakan hal-hal yang nyatanya bermanfaat. Bersama, meluruskan hal-hal yang nyatanya banyak mudharatnya. Wassalamu’alaykum.