Sunday, July 10, 2016

SEBUAH POTRET ANTIMUBADZIR: MAKAN HABIS DAN PIRING KOSONG

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al A’raaf: 31).


Assalamu’alaykum, Pembaca. Syukur alkhamdulillah selalu terucap dari hati yang semoga masih diberikan hidayah untuk mengingat-Nya hingga hari ke-5 bulan Syawal ini. Yuk, katakan alkhamdulillah yang sudah mulai menunaikan tanggung jawab qada’ puasanya. Yuk, katakan alkhamdulillah yang sudah mulai puasa sunnah Syawal. Yuk, azzamkan atau tekadkan atau bahkan niatkan diri ini untuk dapat menyegerakan kedua hal tersebut bagi yang belum. 5 hari terlalui tentu dengan kebahagiaan karena “kembali boleh makan”. Hidangan spesial ala lebaran di Indonesia seperti aneka kue kering, beragam jajanan kaleng, sepanci ketupat sayur, seonggok daging ayam berbalur rempah, aneka warna dan rasa minuman, pasti membuat Pembaca sekalian #Opordosis. Kebahagiaan dari perut yang telah terenggut selama sebulan, meningkat drastis hanya dalam 1 hari. Tak lupa, perut memberikan #KodeKeras ke otak, tangan, dan mulut kita, bahwa diri ini sanggup menerima sekian banyak hidangan tersebut, seakan sanggup menghabiskannya. Alhasil, piring pun overload laiknya tol Brexit dan menggunung laiknya tempat pembuangan akhir. Namun sebuah akhir yang dramatis saat sekian sendok nasi, sekian liter kuah, sekian kilogram daging, harus mati (baca: terbuang) sia-sia karena ketidakmampuan perut kita sendiri.


Pembaca yang terhormat, menilik fenomena tersebut, cukup relevan dengan potongan ayat Al-Qur’an dari surat Al A’raaf. Betapa kita memang dapat berlebih-lebihan salah satunya dalam hal makan dan minum. Kalamullah surat Al-Israa’ ayat 27 disebutkan bahwa para pemboros merupakan saudara dari syaithan. 2 ayat yang insyaaAllah membuat kita cukup paham betapa bermaknanya segala hal (makanan dan minuman) yang mati (terbuang) sia-sia tadi.


Disisi lain insyaaAllah ada segolongan umat yang telah sadar atau paham, yang mencoba mengajak saudaranya untuk tidak bersaudara dengan syaithan terus-menerus. Segolongan umat yang berusaha menghabiskan makanan yang diambilnya, atau berusaha membatasi makanan yang hendak dikonsumsi sesuai kemampuan normalnya. Please wellcome spesial hastag #BeraniMakanHabis #PotretPiringKosong sebagai wujud Kampanye Antimubadzir.


Simply, pastikan di dalam piring, gelas, maupun wadah makan yang Anda pakai benar-benar hampir habis atau tidak tersisa sedikitpun kecuali yang nampak (noda, dll). Lalu potret dan beri hastag spesial tersebut. Niatkan diri sebenar mungkin lillahi ta’ala sebagai salah satu tanggung jawab reminder utamanya bagi diri sendiri dan umumnya bagi orang lain untuk tidak mubadzir. Lalu viralkan melalui media sosial. Sebuah kampanye antimainstream yang tidak hanya berlaku sekian hari pascaramadhan, namun juga untuk keseharian kita antara ramadhan kemarin dengan ramadhan berikutnya, insyaaAllah.



Penulis mohon maaf atas segala kesalahan yang mungkin terjadi dalam setiap tulisan (barangkali banyak yang tersindir, sakit hati, bunuh diri #eh) karena penulis tidak lebih baik dari Pembaca. Pun kampanye tersebut bukanlah inisiatif atau ide dari penulis, jadi jangan salah sangka. Penulis hanya menyampaikan fenomena yang ada. Saling mengingatkan dalam kesabaran dan kebenaran, saling berlomba dalam kebaikan, karena masuk surga enaknya rame-rame. Taqabbalallahu minna wa minkum, Pembaca, semoga amal ibadah kita saat ramadhan kemarin diterima oleh Allah dan kita dipertemukan dengan ramadhan berikutnya, Allahumma aamiin. Wassalamu’alaykum.

Friday, July 1, 2016

RAMADHAN.. KEPERGIANMU MEMBUATKU KEHILANGAN

“...Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan, kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu Rabbnya...” (HR. Muslim).

Assalamu’alaykum, Pembaca. Syukur alkhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan membuka mata hingga mendekati akhir ramadhan 1437H ini. Betapa bahagianya ya sebentar lagi bisa kembali pada rutinitas secara normal. Menikmati kembali segala makanan dan minum tanpa batasan apapun, terlebih makanan yang biasanya melimpah pascaramadhan. Menikmati nyenyaknya tidur tanpa harus bangun pagi-pagi benar untuk menjadi bagian garda terdepan jamaah shubuh. Menikmati dan memaksimalkan aktivitas malam hari tanpa terganggu +8 atau +20 yang benar menghabiskan waktu dan nyatanya melelahkan, tidak seperti makna santai sesungguhnya. Dan masih banyak lagi kenikmatan tiada tara ketika sebuah pintu dibuka dan pintu yang lain ditutup, benar begitu kan?? :)

Pembaca yang terhormat, senyatanya tidak sebahagia atau senikmat itu. Cuplikan hadits diatas menunjukkan salah satu kebahagiaan yang justru tidak akan kita dapatkan secara normal selepas ramadhan, bila tidak berbekal usaha yang begitu kuat.

Yang hilang itu, kebahagiaan saat berbuka puasa. Kebahagiaan yang tidak diketahui orang lain, hanya kita dan Allah yang tahu. Orang lain hanya bisa melihat semangat kita ke masjid, antri ta’jil, menyegerakan berbuka, dan sejenisnya. Namun kembali, itu hanya sebagian yang nampak. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama kebersamaan. Kebersamaan saat berbuka puasa “buber” dengan keluarga, rekan-rekan, bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun. Kebersamaan berkumpul yang insyaaAllah, dan semoga diniatkan dengan benar, untuk silaturrakhim. Bukankah silaturrakhim bisa “memperpanjang” kesempatan kita untuk berbuat baik? Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama kesetaraan. Baik kita kaya atau berkecukupan, bos atau pegawai, pejabat atau rakyat jelata, kaum intelektual atau kaum awam, we’re all the same. Apapun kondisinya, kita sama-sama merasakan namanya dahaga luar biasa, lapar tiada tara, nyesaknya menahan segala sesuatu yang halal lagi baik untuk kita nikmati. Orang yang hanya bisa makan 1x sehari bila mampu, hingga yang biasa makan 3x sehari bila tidak kurang. 1 bulan yang mana membuat kita sama-sama “merasa” senasib seperjuangan, saling menguatkan dan menahan diri dari godaan makanan yang nikmat. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama sahur. Bukan sahurnya, namun sunnah Rasulullah. Pahala sunnah yang hanya didapatkan untuk orang-orang yang sahur sebelum puasa. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, somekind like menyegerakan berbuka. Bukan secepat-cepatnya menghabiskan seluruh sajian ifthar, namun sunnah Rasulullah. Menyegerakan berbuka dengan kurma dan air bening juga sunnah. Sunnah lagi. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama santai dan berjumlah +8 atau +20. Shalat tarawih, yang semakin menambah keberkahan karena telah mengisi malam yang biasanya waktu untuk istirahat, waktu untuk keluarga, waktu untuk belajar, namun diisi dengan ibadah yang sunnah juga. Lagi-lagi sunnah. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama respect of time. Bangun pagi benar, bisa. Sahur mendekati shubuh, bisa. Shalat Shubuh jamaah, bisa. Beraktivitas, masuk kerja, masuk sekolah, tetap tepat waktu, bisa. Shalat dhuhur, ashr, maghrib, berjamaah dan tepat waktu, bisa. Berbuka puasa tepat waktu tet saat adzan, bisa. Shalat isya dan tarawih tepat waktu, bisa. Tetap tilawah dan beraktivitas malam sampai tidur lalu bangun shalat malam tepat waktu, bisa. Apakah setelah “ngoyo” atau berupaya seperti itu lalu kita kelelahan? Jatuh sakit? Tidak pula. Sebuah kondisi time management yang kondusif dan bukti nyata bahwa kita mampu tepat waktu. Bukan sehari dua hari, namun 1 bulan. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama saudara-pejuang-pemakmur masjid. Merasakan penuhnya jadwal piknik ke taman-taman surga dari pagi sampai malam. Melihat penuhnya masjid diawal ramadhan, sebanyak itulah saudara kita. Melihat depan, belakang, kanan, kiri, sudut-sudut ruang, baik yang melingkar atau berjajar, sama-sama tilawah Al-Qur’an, menjaga pintu-pintu masjid terbuka dan lampu-lapun masjid tetap menyala sampai larut malam. Sunnah, so pasti, namun dilain sisi lagi-lagi suatu kondisi yang kondusif, kondisi yang “hidup”, kondisi yang diidam-idamkan oleh masjid manapun. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, bernama lailatul qadr. 1 malam saja, bernilai lebih baik dari 1000 bulan. Disaat malam-malam lain hanya membuat kita galau karena single, menatap takjub langit yang mendung, maupun menatap kosong langit indah penuh bintang, 1 malam ini benar-benar menggerakkan kegalauan dan tatapan palsu itu menjadi lantunan kalamullah sembari berdo’a memohon ampunan atas segala jenis dosa yang telah melangit ini. 1 malam tak terduga yang mampu menggerakkan semangat taqwallah minimal dalam 10 hari terakhir ini. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Yang hilang itu, double-triple-quadruple-infinity exp. Gamer setia pasti tahu exp (experience) berguna untuk naik level. Namun kita orang biasa cukup paham dengan pahala. Saat  1 kebaikan dilipatgandakan 10x atau 700x atau lebih dari itu, disaat yang sama sunnah dinilai wajib, yang wajib dilipatgandakan sekian kali yang wajib. Matematika Allah memang beda. Namun cukup menyadarkan betapa pahala benar-benar ready stock dalam jumlah tak terbatas dan siap kita raup sebanyak mungkin, setiap hari, setiap waktu, every where. Dan kini #RamadhanAkanPergi.

Pembaca yang terhormat, penulis yakin sebenarnya masih banyak hal yang akan hilang ketika bulan ramadhan ini usai. Dan, “...kenikmatan tiada tara ketika sebuah pintu dibuka dan pintu yang lain ditutup...”, ketika pintu-pintu neraka dibuka selebar-lebarnya, syaithan tidak lagi dibelenggu, apakah hati ini akan rindu ramadhan? Akankah diri ini tergerak untuk “melanjutkan” nafas-nafas ramadhan? Akankah diri ini mampu “menjaga” ramadhan sampai ramadhan berikutnya?.... Apakah kita yakin masih diperkenankan Allah bertemu dengan ramadhan tahun depan hanya untuk mendapatkan kebahagian-kebahagian tersebut?....


Akhir kata, penulis mohon maaf atas segala hal yang tidak selayaknya ditulis, maafkan atas segala sindiran yang ada. Mohon maaf juga atas segala kesalahan pribadi penulis didunia nyata. Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan oleh penulis. Wassalamu’alaykum, Pembaca.

Monday, February 1, 2016

GERAKAN MENUTUP AURAT: MENJAGA, MEMULIAKAN, SAUDARI SEUTUHNYA

Assalamu’alaykum, Pembaca. Syukur alkhamdulillah atas nikmat yang diberikan oleh Allah ta’ala hingga bulan Februari tahun 2016 masehi ini. Postingan edisi Februari, kiranya sudah bisa ditebak. Februari identik dengan 1 peringatan yang disukai muda-mudi kekinian. Suatu peringatan yang menguntungkan bagi pembuat coklat, penjual bunga, penjual surat dan kertas unyu-unyu, hingga pengusaha villa dan hotel sekelas kamboja *if you know what I mean. Ya, Valentine Day atau yang disalahartikan sebagian masyarakat sebagai hari Kasih Sayang.

To the point, masyarakat Indonesia yang semakin kritis tentu tidak segan sejenak searching makna dari Valentine Day, sejarah Valentine, perkembangan kekinian, dampak sosial maupun budaya, dan sebagainya, setuju? Tidak perlu tersipu malu untuk membuka wawasan, membuka pintu kelam masa lalu (atau mungkin sekarang), dan membiarkan seberkas cahaya berbalut hawa sejuk mengisi rumah yang kelam ini.

Terlepas dari momen tersebut, muda-mudi Indonesia, bahkan dunia, kini sudah move on. Ketika hari Kasih Sayang dimaknai dan disikapi dengan tepat oleh para muslimah, say good bye to Valentine Day and welcome GEMAR! GEMAR atau yang akrab disapa “Gerakan Menutup Aurat”, merupakan contoh nyata kasih sayang muslimah terhadap Indonesia, kini dan nanti. Sebuah gerakan yang berusaha menyelamatkan kita dari api neraka? (wih, ekstrem bahasanya!). Sebuah gerakan yang berusaha menggulung dagangan-dagangan “kurang kain” nan jahiliyah? (hmm, jahat sekali ya?). Ketika ada yang beranggapan seperti itu, cukuplah pahami GEMAR sebagai “gerakan yang berusaha memuliakan saudarinya, berusaha menjaga kehormatan saudarinya, berusaha menjadikan diri ini sebagai saudari yang seutuhnya”, bukankah kita bersaudara?

Tidak perlu heran ketika kelak saat hari Valentine ada agenda penggalangan hijab, bagi-bagi hijab laik pakai secara masif, bagi-bagi bunga, stiker unyu, kaus kaki antidingin, mengadakan seminar dan training hijab syar’i *tsaahh, mengadakan aksi di tempat-tempat yang tak terduga, dan sebagainya. Tidak perlu menganggap agenda seperti ini buang-buang waktu, tenaga, dana, bahkan perasaan. Toh semua yang terbuang itu bakal diganti oleh Allah dengan yang jauuuuuuh lebih baik dan banyak, kini maupun kelak, itu kalau Anda percaya sih. Tidak perlu beranggapan ini ajang cari perhatian untuk parpol, organisasi masyarakat, gerakan-gerakan yang berbasis islam (bukan yang ngaku-ngaku islam lho) karena itu sudah tugas utama mereka sehidup-semati, amar ma’ruf nahi munkar, itu kalau Anda paham sih. Tidak perlu malu untuk mulai mengenakan hijab, berpenampilan laiknya muslimah seutuhnya. Bila ada yang berpendapat bahwa memperbaiki sikap atau sifat lebih utama dari sekedar berhijab, rasanya justru setelah berhijab, kekuatan dan semangat untuk memperbaiki diri, bersikap-bersifat sewajarnya muslimah akan jauh lebih besar.

Overall, masyarakat kini semakin pintar, memaknai segala hal dengan lebih baik. Muslimah melihat potensi kebaikan yang bisa diwujudkan sebesar mungkin, menimbang besarnya mudharat yang akan berkembang bila suatu trend absurd dibiarkan, mengingat sudah kewajiban seseorang yang berbekal rahmatan lil’alamin untuk mengingatkan akan suatu kebenaran, dan menetapkan bahwa diri ini muslimah yang “siapa lagi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, siapa lagi kalau bukan saya, saya harus ambil bagian dalam kebaikan ini”. Inilah kasih sayang yang nyata. Bukankah wanita itu pilar suatu negara? Saling menguatkan antar pilar adalah hal yang utama, yo po ra?

Akhirnya, penulis mohon maaf atas segala tulisan yang kurang berkenan bagi Pembaca sekalian. Kritik dan pendapat selalu dinanti untuk perbaikan pemahaman penulis pribadi. Kesadaran, keikutsertaan, dan support Pembaca dalam segala kegiatan GEMAR yang hadir di kota Anda juga dinanti lho. See you at 14 Februari, Hari Menutup Aurat *Cowok juga lho!!!..

Wassalamu’alaykum, Pembaca tercinta.

Thursday, December 31, 2015

KIAN SADAR 31 DESEMBER

Assalamu’alaykum, Pembaca. Syukur alkhamdulillah atas segala nikmat yang diberikan Allah ta’ala hingga diperkenankan sampai pada akhir tahun 2015 Masehi. Penulis mengucapkan selamat hari jum’at, karena 1 Januari 2016 Masehi besok bertepatan pada hari jum’at, setuju?


Pembaca tercinta, tidak dimungkiri pergantian tahun baru ya begitu adanya. Tercium bau khas hura-hura, bau khas pesta tiada henti, bau khas panggung hiburan malam, bau khas campur baur dusel-duselan tak terbendung, bau khas bubuk pelangi yang ditembakkan keatas, dan bau khas yang lain yang mungkin unit K-9 milik polisi tidak sampai hati mengendusnya. Sebagai seorang muslim, tentu kita patut prihatin apabila nyatanya saudara-saudari kitalah yang tidak sampai hati diendus unit K-9. Tentu kita patut prihatin bila ternyata kerabat maupun keluarga kitalah yang tidak sampai hati diendus unit tersebut. Mungkin masih ada yang belum yakin akan makna dari itu semua.


Namun tidak sedikit kok muslim di Indonesia ini yang peduli sama hal begituan, silahkan browsing makna atribut yang biasa digunakan saat tahun baru. Silahkan browsing makna terompet. Silahkan browsing makna petasan/ kembang api. Silahkan browsing makna dentuman jam tanda pergantian tahun. Silahkan browsing sejarah pergantian tahun baru di Indonesia pun di dunia. Saudara-saudari kita merelakan harta, waktu, tenaga dan perasaannya untuk mengkaji dengan detail hingga menyajikannya secara lugas hal-hal yang memang benar adanya secara sejarah. Kini masyarakat kian sadar bukan, bagaimana menyadarkan saudara-saudarinya yang mungkin terbius bau khas pergantian tahun baru? Patut kita syukuri hal itu. Mungkin dulu kita seperti itu, lalu sadar atas ijin Allah, melalui saudara-saudari kita.


Pembaca, kini masyarakat kian sadar. Masyarakat semakin sadar betapa memanfaatkan waktu pergantian tahun begitu penting. Ya, to the point, silahkan browsing betapa banyak orang yang malam ini, ya malam ini, memanfaatkan waktunya untuk menghadiri majelis ilmu, kajian, tabligh akbar di masjid. Silahkan browsing bagaimana aparat negara sekelas PolRes mengadakan tabligh akbar. Silahkan browsing bagaimana mereka memasang spanduk berisi ajakan untuk memanfaatkan malam tahun baru yang identik dengan hura-hura, bising, mengotori lingkungan, menghabiskan uang, diganti dengan muhasabah bersama sekaligus bersedekah. Silahkan browsing bagaimana seorang walikota menginstruksikan pengurus masjid di kotanya untuk mengadakan doa bersama serentak ba’da shalat isya. Silahkan browsing bagaimana ormas menggencarkan shalawat bersama, doa bersama, dzikir bersama, muhasabah akhir tahun, tidak tanggung-tanggung langsung menghadirkan sekian banyaknya juru dakwah. Kini masyarakat kian sadar bukan, bagaimana secara bertahap namun totalitas berusaha membuat iklim baru saat pergantian tahun? Patut kita syukuri. Mungkin dulu lingkungan kita seperti itu, namun atas ijin Allah, lingkungan kita menjadi lebih kondusif atas usaha saudara-saudari kita.


Pembaca yang terhormat, penulis yakin trend pergantian tahun baru berikutnya akan menjadi semakin baik. Semakin banyak yang memanfaatkan waktunya dengan tepat. Semakin gencar amar ma’ruf nahi munkar, esspecially saat pergantian tahun baru. Ketika kita sudah tersadar, lingkungan semakin mendukung, pertanyaannya hanya satu, “Sudah siapkah diri ini?”. Ya, sudah siapkah diri ini mengambil posisi strategis dalam mengawal saudara-saudari kita yang lain? Sudah siapkah diri ini menjadi bagian dari pioneer lingkungan yang semakin kondusif? Sudah siapkah saudara-saudari kita terdahulu mengambil manfaatnya manakala kita mampu meneruskan perjuangannya?. Masihkah kita berdiam diri duduk di depan laptop (penulis juga sih hehe) dan sekedar berangan-angan semata? Masihkah kita tidak mau beranjak dari diri yang jahiliyah menuju diri yang terang benderang? Bukankah seorang muslim dinanti kebermanfaatannya? Bukankah seorang muslim sudah memiliki bekal yang rahmatan lil’alamin? Alangkah baiknya seorang muslim sadar bahwa dirinya muslim. Sadar akan tanggung jawab dan konsekuensinya, tidak hanya terhadap diri pribadi, namun terhadap saudara-saudarinya. Bukankah masuk surga enaknya rame-rame?



Penulis mohon maaf bila banyak teori semata, banyak bicara saja namun less action ever, no action. Mohon maaf atas tulisan yang kemungkinan menyinggung hati Pembaca. Semoga dapat diambil manfaatnya, meski hanya 1 kalimat yang membekas di hati. Semangat tahun baru, bersama menjadi pribadi muslim yang utuh, yang kaffah. Bersama, mengingatkan akan nahi munkar. Bersama, membudayakan hal-hal yang nyatanya bermanfaat. Bersama, meluruskan hal-hal yang nyatanya banyak mudharatnya. Wassalamu’alaykum.

Wednesday, July 22, 2015

SAYA ANAK, SAYA COBAAN.. SADARKAH SAYA ???

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”, QS. Al-Anfaal: 28.

 Assalamu’alaykum, Pembaca, syukur alkhamdulillah kita telah dipertemukan dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh ampunan dari-Nya, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Dan kini, bulan Syawal serta 11 bulan kedepan, semoga kita tidak pernah berputus asa dari memohon ampunan atas dosa yang pasti kita lakukan kedepannya. Tak lupa penulis ucapkan selamat Hari Anak Nasional, 23 Juli, teruntuk kalian-kalian yang berstatus sebagai “anak”. Bukan hanya anak kecil maupun adik-adik kita namun juga kita yang secara fisik telah dewasa ataupun tua, karena sejatinya kita semua adalah anak dari ibu-bapak kita, benar?

Pembaca yang terhormat, secara tekstual terjemahan dari ayat Al-Qur’an di atas menunjukkan bahwa “anak” sesungguhnya merupakan cobaan bagi kedua orang tua kita, atau bahkan cobaan bagi keluarga kita, masyarakat, juga bangsa ini. Teruntuk anak-anak termasuk diri penulis pribadi, sadarkah bahwa diri kita berstatus “cobaan”? Apakah hadirnya kita membawa dampak positif atau justru sebaliknya? Apakah yang kita perbuat menunjukkan betapa terdidiknya kita atau justru sebaliknya? Apakah diri kita menjadi salah satu jalan bagi orang lain terutama keluarga kita untuk mendapatkan kenikmatan tiada duanya atau justru siksaan tiada henti di akhirat kelak? Bila sudah sadar bahwa kita, sebagai anak, adalah “cobaan” yang nyata bagi keluarga kita, tentunya kita harus berusaha mengerahkan dan mengarahkan setiap langkah dan semangat kita kepada hal-hal yang berdampak positif untuk kehidupan akhirat kelak yang insyaaAllah akan berdampak positif pula pada kehidupan kita di dunia, setuju?

Anak-anak yang terhormat, hehehe, sikap, sifat, dan keseharianlah yang biasanya dinilai orang lain sebagai bentukan dari lingkungan tak terkecuali keluarga kita. Tentunya kita harus bersikap, bersifat, dan melakukan hal-hal yang baik saja dalam koridor islam dengan syarat dan ketentuan bahwa tanpa ada niat untuk pamer terhadap hal-hal yang kita lakukan.

Anak yang #SadarCobaan, sadar bahwa kehadirannya berbanding lurus dengan bertambahnya pengeluaran keluarga. Ingatlah bahwa kita menjadi sebesar ini, mengenyam pendidikan setinggi ini, tidak lain tidak bukan adalah hasil jerih payah keluarga kita. Keluarga membiayai sekolah kita, jangan sampai kita justru tidak mensyukurinya dengan 1001 cara, sebut saja nongkrong tanpa arah, shopping barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, mentraktir rekan-rekan hanya agar dipandang dermawan nan supel, tidak menggunakannya untuk membeli buku penunjang sekolah, apalagi sampai jatuh pada gemerlap dunia game online yang menduakan waktu hidupmu ataupun jatuh pada nikmatnya dunia rokok-merokok yang menggadaikan nyawamu serta rekanmu. Bukan tidak mungkin kelak keluarga harus mempertanggungjawabkan untuk apa hartanya dipakai? Bagaimana bisa digunakan oleh anak untuk hal yang tidak bermanfaat? Bagaimana peran keluarga dalam mendidik anak tentang darimana harta, dibelanjakan untuk apa, digunakan untuk apa saja?

Anak yang #SadarCobaan lebih memilih mengelola uangnya untuk membeli perlatan penunjang pendidikan, membeli buku pelengkap khasanah keilmuan islam kita, sengaja menyisihkan sebagian untuk didonasikan atau disedekahkan rutin, syukur-syukur sengaja menyisihkan sebagian untuk bekal masa depan. Dan alangkah hebatnya seseorang bila sebagian lagi dimanfaatkan untuk merintis usaha kecil-kecilan sebagai langkah nyata menuju anak yang #MandiriFinasial dengan harapan mencoba mengurangi pengeluaran keluarga.

Anak yang #SadarCobaan, sadar bahwa identitas islam harusnya sudah mendarah daging tidak hanya yang tertera pada KTP. Salah satunya adalah penampilan, laki-laki maupun perempuan, sudahkan menjaga “kehormatan” kita dengan pakaian taqwa? Dengan pakaian yang sesuai syariat islam? Seorang muslimah tidak perlu lagi bingung bilamana dihadapkan dengan berbagai mode pakaian, mulai dari atas hingga bawah yang serba ketat seketat jajanan tradisional lepet, atau yang hijabnya masih menerawang indah mahkota dibaliknya, atau model hijab yang aduhai serumit jalanan dipemukiman padat penduduk, model rainbow roll cake yang warna-warni digulung muter-muter kesana kemari, hingga model yang terinspirasi dari eksotisnya bentuk candi, tumpeng, dan punuk unta, atau model hijab sederhana beraksesoriskan kiloan perhiasan mulai dari pernak-pernik, batu permata nan mulia, hingga batu akik.

Anak yang #SadarCobaan, bilamana seorang muslimah, sudah pasti say yes to hijab syar’i, tidak ada namanya mahkota dikibas-kibaskan kesana kemari. Hijab terpilih sudah pasti yang kerudung yang sederhana, tidak dimodel yang aduhai, tidak menerawang alias warna gelap dan agak tebal atau berlapis, dipadu dengan busana longgar yang tidak membentuk lekuk tubuh dari atas hingga bawah, dan jauh lebih cantik dan pantas mengenakan rok, tampil rapi sebagai muslimah seutuhnya. Muslimah yang #SadarCobaan, sadar bahwa diri yang tidak berhijab sesuai syariat bisa menjadi salah satu jalan mulus bagi keluarga untuk gagal mencium bau surga yang sebenarnya bisa tercium dari jarak yang cukup jauh, naudzubillah.

Anak yang #SadarCobaan, sadar bahwa lisan adalah harimau, lisan adalah pisau, lisan adalah salah satu hal yang mendapat prioritas urgent untuk dijaga. Bukan hal langka lagi seorang anak kecil sudah fasih mengumpat ini itu dengan kecepatan 1 umpatan perdetik, atau seorang anak yang terlalu banyak bercanda tertawa saling hina dengan rekannya, atau seorang anak yang tidak ragu untuk ceplas ceplos ini itu tanpa dipikir dahulu dengan siapa dia berceplas-ceplos ria. Bukan tidak mungkin kelak keluarga harus mempertanggungjawabkan bagaimana mendidik lisan anak yang seharusnya bisa terjaga dari pembicaraan tidak bermanfaat, seharusnya bisa digunakan untuk mengedepankan berpikir sebelum berbicara/bertindak, seharusnya bisa jauh lebih banyak mengingat Allah ta’ala, namun pada kenyataan berkata sebaliknya.

Anak yang #SadarCobaan, sadar bahwa lisan sebaiknya diam daripada berbicara hal yang tidak perlu. Lisan sebaiknya dikontrol dari perkataan yang menyayat hati terutama dalam candaan tak bermutu maupun saat amarah menginvasi diri. Lisan sepantasnya banyak mengingat Allah ta’ala dengan banyak bersyukur dan beristighfar. Syukur alkhamdulillah bila lisan ini lebih senang tilawah Al-Qur’an daripada tilawah komik, novel-novel gak jelas sumber galau, atau tilawah ramalan berdasarkan bintang, golongan darah, cara duduk, nomor sepatu, nomor telepon, atau apalah itu. Syukur alkhamdulillah bila lisan ini lebih senang muraja’ah Al-Qur’an daripada berlelah-lelah muraja’ah keburukan dan aib rekan alias nggosip. Syukur alkhamdulillah bila lisan ini kelak menjadi jalan bagi keluarga kita untuk memperoleh persembahan tiada duanya, penghargaan super spesial berupa jubah dan mahkota dari cahaya, dari para hafidz-hafidzah yang tidak lain adalah anaknya, ya, anaknya! Allahumma aamiin.

Dan seorang anak yang #SadarCobaan, sadar akan peringatan “hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”, QS. At-Tahrim: 6.

Seorang anak yang #SadarCobaan tidak akan pernah absen mengambil bagian dalam hal mendo’akan diri beserta keluarga agar Allah ta’ala senantiasa menaungi keluarganya dalam ketaatan dan niat yang benar, agar keluarganya senantiasa dimudahkan untuk mengingat Allah dalam kondisi lapang maupun susah, agar keluarga diberikan rizki yang halal lagi thayyib, serta berdo’a agar kelak dihindarkan dari Neraka yang menyala-nyala dan bersama-sama dipertemukan di dalam Surga-Nya, Allahumma aamiin.


Akhirnya, penulis memohon maaf atas perkataan yang kurang berkenan, pujian dalam bentuk apapun tidak ada apa-apanya melainkan hanya cobaan yang kian menambah list cobaan bagi penulis maupun Pembaca sendiri, namun kritik sekecil apapun itu yang membangun insyaaAllah akan bernilai. Masih banyak hal baik lainnya yang bisa kita usahakan sebagai seorang anak yang sadar bahwa dirinya adalah cobaan. Yuk sesama anak-anak kita sama-sama memperbaiki diri, mempelajari islam secara kaffah serta berusaha menerapkannya, terutama saling mengingatkan dan berlomba dalam kebaikan. Wassalamu’alaykum, Anak-anak. (mw)

Friday, May 1, 2015

SEMANGAT HARI PENDIDIKAN: KARENA KITA MENGAKU PEDULI

Assalamu’alaykum, Pembaca. Alkhamdulillah, semoga selalu terucap dari mulut dan hati yang dikaruniakan Allah ta’ala kepada kita. Kalau Allah tidak meridhoi sepersekian tetes ilmu-Nya mendarah daging pada mulut dan hati ini, mungkinkah rasa syukur ini bisa kita rasakan? Pembaca yang terhormat, tak lupa penulis ucapkan selamat hari libur bagi mereka yang sadar hari ini tanggal merah dan selamat Hari Pendidikan Nasional bagi mereka yang sadar hari ini tanggal 2 Mei, hehe.

Meski bertepatan dengan long weekend, harinya bersantai, harinya berlibur ke destinasi favorit kita, semoga tidak mengurangi semangat Hari Pendidikan ini dalam setiap waktu kita. Karena sejatinya menuntut ilmu itu mulai dari kita dilahirkan sampai masuk liang lahat kembali pada Sang Pemilik dan Pemberi Ilmu-ilmu kita selama singgah di dunia.

Pembaca yang dirahmati Allah ta’ala, berbicara masalah pendidikan tentu kita tidak akan lupa dengan pemberitaan beberapa anak kecil sudah terbiasa merokok oleh karena teman mainnnya sekaliber perokok, kan? Atau pelajar yang melakukan adegan asusila pada rekannya oleh karena menonton tayangan tak bermoral? Atau pelajar yang awalnya terpaksa namun akhirnya menikmati asupan rutin tembakau oleh karena gengsi atau takut dikata gak gaul oleh teman ngopinya?

Atau mereka yang merayakan kelulusan dengan foya-foya dan pesta pakaian dalam oleh karena trend? Atau mereka yang kecanduan game online sampai lupa sekolah, lupa makan, bahkan lupa rumah, oleh karena ajakan rekan dekatnya? Atau yang asyik nih seorang bocah SD tewas setelah dikeroyok rekan-rekannya oleh karena meniru tontonan televisi yang tak layak? Sungguh, inilah potret kisi kristal dari Zamrud Khatulistiwa. #PedulikahKita

Media pun ramai memberitakannya seakan hal yang lumrah terjadi di sudut manapun dari Indonesia. Pun siapa sangka bisa jadi pemberitaan semacam itu justru menjadi senjata makan tuan, satu sisi menginformasikan untuk waspada di lain sisi melakukan hal tersebut sudah biasa dan bisa dimaklumi adanya. Sungguh, dalamnya laut kita tahu namun apa yang ada di dalam hati (pikiran) orang lain, kita tak tahu. #PedulikahKita

Pembaca tercinta, sudah sejauh mana rasa peduli kita terhadap generasi penerus Indonesia ini? Ada yang peduli dengan turut berduka, turut merasa miris, dan prihatin terhadap hal-hal tersebut, itukah kita? Ada yang peduli dengan langsung terjun melakukan edukasi pascakejadian itu terjadi pada masyarakat, itukah kita? Ada yang peduli dengan melakukan berbagai gerakan penyelamatan dengan hastag #SaveIndonesia dan aksi nyata habis-habis, itukah kita? Yuuuk kita apresiasi mereka yang mengusahakan hal-hal tersebut, inilah potret terang kisi Zamrud Khatulistiwa tercinta.

#PedulikahKita dengan generasi penerus Indonesia? Jawabannya adalah seberapa kita peduli dengan pribadi kita ini. Ya, bila kita peduli dengan nasib generasi penerus maka kita akan bersikap bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai seorang negarawan yang visioner. Bukan karena yang dahulu, namun karena kita yang sekarang!

Kita mau generasi mendatang bukanlah generasi penyakitan kanker paru maupun kantong kering? Apakah kita masih berinteraksi dan berteman akrab dengan rokok? Masihkah kita menyisihkan sebagian harta kita untuk pabrik rokok? Masihkah kita gengsi dan sungkan kalau kumpul dengan teman lalu tidak membawa lintingan tembakau plus pematiknya? Masih adakah anggota keluarga kita yang merokok? Apakah kita masih saja tenang dengan semerbak asap rokok yang kita hirup, yang dihirup oleh adik-adik kita, oleh anak-anak kita? Karena mereka melihat, mereka meniru.

Sebagai gantinya, yuuuk latih diri ini, adik, anak, bahkan kerabat kita untuk memanfaatkan uang dengan benar dan tepat guna. Ajak untuk menyisihkan uang jajannya bukan untuk jajanan yang lain, namun untuk sedekah ataupun infaq. Dan wajib kita bimbing, kita contohkan, serta kita beritahu berbagai manfaat sedekah atau infaq yang kita atau orang lain rasakan dan yang akan kita perloleh kelak.

Kita mau generasi mendatang bukanlah generasi pegiat asusila? Apakah kita masih suka menonton tayangan yang memperlihatkan aurat? Sudahkah kita mengganti channel televisi kesayangan keluarga manakala ada adegan seronok di dalamnya? Apakah mata “liar” kita masih belum cukup terkontrol?

Yuuuk kita kontrol hawa nafsu kita dengan melatih diri untuk menjaga pandangan, tertunduk malu bila berpapasan dengan mereka yang mengalihkan dunia kita, melatih mata supaya tidak jelalatan “liar” memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan pakaian, lebih-lebih kita latih kita dengan berpuasa. Puasa tak hanya soal makan, minum, dan nafsu belaka, namun juga seluruh sikap kita. Pun kita jaga pakaian kita untuk selalu menutup aurat dengan sempurna, tidak memakai pakaian ketat, tidak memakai wewangian khas malam sabtu kliwon, dan tak lupa kita ingatkan dan ajak adik, anak, kerabat, rekan-rekan kita siapapun itu.

Kita mau generasi mendatang bukanlah generasi yang “Game Yes, Prestasi No”? Apakah kita masih menjadi member tetap game online tertentu? Kita masih rela menghabiskan beasiswa orang tua atau bahkan beasiswa negara untuk mengurus “char/hero” (karakter kita dalam game) membelikannya ini itu supaya bagus dan “wah” di mata gamer lain? Masih suka menghasut rekan kita yang hendak belajar untuk nemanin main game? Sudahkah kita mendahulukan susahnya perjuangan dalam belajar dibandingkan mudahnya bermain game? Lupakah kita dengan kalimat bijak “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”?

Yuuuk jangan lupakan pesan orang tua kita, mereka ingin kita belajar, bukan bermain-main! Karena mereka tahu dunia akan semakin kejam bagi siapapun yang tak berilmu. Kurangi bermain yang tidak jelas manfaatnya, sebagai gantinya manfaatkan waktu luang dengan membaca, menulis, melatih softskill kita untuk masa depan, syukur-syukur kegiatan kita bernilai ibadah insyaaAllah masa depan kita terjamin baiknya. Ajak teman kita untuk duduk bersama dan diskusi masalah sekolah, perkuliahan, masalah yang update di masyarakat, dan sebagainya. Sungguh dunia memang melenakan, benar Pembaca?

Kita mau generasi mendatang bukanlah generasi penghancur Zamrud Khatulistiwa? Yuuuk mulai introspeksi diri, muhasabah selalu diri yang sudah dijamin tak luput dari salah dan dosa sekecil mungkin. Apa yang kita lakukan, itulah yang akan ditiru sebagian orang. Apa yang kita lakukan, itulah yang dilihat dan akan dicontoh oleh adik, anak, kerabat, dan rekan-rekan kita. Apa yang kita usahakan, itulah yang akan dilanjutkan oleh orang lain. Semangat dakwah bil hal, dakwah dengan perbuatan nyata inilah yang kini dinanti.


Kita harus senantiasa menimba ilmu-ilmu titipan Allah ta’ala, meski kita sadar tak akan bisa menimba seluruhnya. Dan alangkah baiknya kita menyampaikan ilmu tersebut pada orang lain, bukankah sebaik-baik manusia adalah yang belajar dan mengajarkan? Tentunya belajar dan mengajar dalam hal kebaikan yang haq serta senantiasa menjaga diri dari kebathilan/ keburukan yang sudah jelas adanya, karena #KitaPeduli, #PembacaPeduli, dan #PenulisPeduli. Penulis mohon maaf atas segala hal yang kurang berkenan, segala bentuk masukan dan kritikan pedas akan siap diterima, karena penulis tak lebih baik dari Pembaca, wassalamu’alaykum. (mw)