Saturday, May 16, 2015
Friday, May 1, 2015
SEMANGAT HARI PENDIDIKAN: KARENA KITA MENGAKU PEDULI
Assalamu’alaykum,
Pembaca. Alkhamdulillah, semoga
selalu terucap dari mulut dan hati yang dikaruniakan Allah ta’ala kepada kita. Kalau Allah tidak meridhoi sepersekian tetes
ilmu-Nya mendarah daging pada mulut dan hati ini, mungkinkah rasa syukur ini
bisa kita rasakan? Pembaca yang terhormat, tak lupa penulis ucapkan selamat
hari libur bagi mereka yang sadar hari ini tanggal merah dan selamat Hari
Pendidikan Nasional bagi mereka yang sadar hari ini tanggal 2 Mei, hehe.
Meski
bertepatan dengan long weekend,
harinya bersantai, harinya berlibur ke destinasi favorit kita, semoga tidak
mengurangi semangat Hari Pendidikan ini dalam setiap waktu kita. Karena
sejatinya menuntut ilmu itu mulai dari kita dilahirkan sampai masuk liang lahat
kembali pada Sang Pemilik dan Pemberi Ilmu-ilmu kita selama singgah di dunia.
Pembaca
yang dirahmati Allah ta’ala,
berbicara masalah pendidikan tentu kita tidak akan lupa dengan pemberitaan
beberapa anak kecil sudah terbiasa merokok oleh karena teman mainnnya sekaliber
perokok, kan? Atau pelajar yang melakukan adegan asusila pada rekannya oleh
karena menonton tayangan tak bermoral? Atau pelajar yang awalnya terpaksa namun
akhirnya menikmati asupan rutin tembakau oleh karena gengsi atau takut dikata
gak gaul oleh teman ngopinya?
Atau
mereka yang merayakan kelulusan dengan foya-foya dan pesta pakaian dalam oleh
karena trend? Atau mereka yang
kecanduan game online sampai lupa
sekolah, lupa makan, bahkan lupa rumah, oleh karena ajakan rekan dekatnya? Atau
yang asyik nih seorang bocah SD tewas setelah dikeroyok rekan-rekannya oleh
karena meniru tontonan televisi yang tak layak? Sungguh, inilah potret kisi
kristal dari Zamrud Khatulistiwa. #PedulikahKita
Media
pun ramai memberitakannya seakan hal yang lumrah terjadi di sudut manapun dari
Indonesia. Pun siapa sangka bisa jadi pemberitaan semacam itu justru menjadi
senjata makan tuan, satu sisi menginformasikan untuk waspada di lain sisi melakukan
hal tersebut sudah biasa dan bisa dimaklumi adanya. Sungguh, dalamnya laut kita
tahu namun apa yang ada di dalam hati (pikiran) orang lain, kita tak tahu. #PedulikahKita
Pembaca
tercinta, sudah sejauh mana rasa peduli kita terhadap generasi penerus
Indonesia ini? Ada yang peduli dengan turut berduka, turut merasa miris, dan
prihatin terhadap hal-hal tersebut, itukah kita? Ada yang peduli dengan langsung
terjun melakukan edukasi pascakejadian itu terjadi pada masyarakat, itukah kita?
Ada yang peduli dengan melakukan berbagai gerakan penyelamatan dengan hastag
#SaveIndonesia dan aksi nyata habis-habis, itukah kita? Yuuuk kita apresiasi
mereka yang mengusahakan hal-hal tersebut, inilah potret terang kisi Zamrud Khatulistiwa tercinta.
#PedulikahKita
dengan generasi penerus Indonesia? Jawabannya adalah seberapa kita peduli
dengan pribadi kita ini. Ya, bila kita peduli dengan nasib generasi penerus
maka kita akan bersikap bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai seorang
negarawan yang visioner. Bukan karena yang dahulu, namun karena kita yang
sekarang!
Kita
mau generasi mendatang bukanlah generasi penyakitan kanker paru maupun kantong kering? Apakah kita masih berinteraksi
dan berteman akrab dengan rokok? Masihkah kita menyisihkan sebagian harta kita
untuk pabrik rokok? Masihkah kita gengsi dan sungkan kalau kumpul dengan teman
lalu tidak membawa lintingan tembakau plus pematiknya? Masih adakah anggota
keluarga kita yang merokok? Apakah kita masih saja tenang dengan semerbak asap
rokok yang kita hirup, yang dihirup oleh adik-adik kita, oleh anak-anak kita? Karena
mereka melihat, mereka meniru.
Sebagai
gantinya, yuuuk latih diri ini, adik,
anak, bahkan kerabat kita untuk memanfaatkan uang dengan benar dan tepat guna.
Ajak untuk menyisihkan uang jajannya bukan untuk jajanan yang lain, namun untuk
sedekah ataupun infaq. Dan wajib kita bimbing, kita contohkan, serta kita
beritahu berbagai manfaat sedekah atau infaq yang kita atau orang lain rasakan
dan yang akan kita perloleh kelak.
Kita
mau generasi mendatang bukanlah generasi pegiat asusila? Apakah kita masih suka
menonton tayangan yang memperlihatkan aurat? Sudahkah kita mengganti channel televisi kesayangan keluarga
manakala ada adegan seronok di dalamnya? Apakah mata “liar” kita masih belum
cukup terkontrol?
Yuuuk
kita kontrol hawa nafsu kita dengan melatih diri untuk menjaga pandangan,
tertunduk malu bila berpapasan dengan mereka yang mengalihkan dunia kita,
melatih mata supaya tidak jelalatan “liar” memanfaatkan kesempatan dalam
kesempitan pakaian, lebih-lebih kita latih kita dengan berpuasa. Puasa tak
hanya soal makan, minum, dan nafsu belaka, namun juga seluruh sikap kita. Pun
kita jaga pakaian kita untuk selalu menutup aurat dengan sempurna, tidak
memakai pakaian ketat, tidak memakai wewangian khas malam sabtu kliwon, dan tak lupa kita ingatkan dan ajak adik, anak,
kerabat, rekan-rekan kita siapapun itu.
Kita
mau generasi mendatang bukanlah generasi yang “Game Yes, Prestasi No”?
Apakah kita masih menjadi member
tetap game online tertentu? Kita
masih rela menghabiskan beasiswa orang tua atau bahkan beasiswa negara untuk
mengurus “char/hero” (karakter kita
dalam game) membelikannya ini itu supaya bagus dan “wah” di mata gamer lain? Masih suka menghasut rekan
kita yang hendak belajar untuk nemanin main game?
Sudahkah kita mendahulukan susahnya perjuangan dalam belajar dibandingkan
mudahnya bermain game? Lupakah kita
dengan kalimat bijak “bersakit-sakit
dahulu, bersenang-senang kemudian”?
Yuuuk
jangan lupakan pesan orang tua kita, mereka ingin kita belajar, bukan
bermain-main! Karena mereka tahu dunia akan semakin kejam bagi siapapun yang
tak berilmu. Kurangi bermain yang tidak jelas manfaatnya, sebagai gantinya manfaatkan
waktu luang dengan membaca, menulis, melatih softskill kita untuk masa depan, syukur-syukur kegiatan kita
bernilai ibadah insyaaAllah masa
depan kita terjamin baiknya. Ajak teman kita untuk duduk bersama dan diskusi
masalah sekolah, perkuliahan, masalah yang update
di masyarakat, dan sebagainya. Sungguh dunia memang melenakan, benar Pembaca?
Kita
mau generasi mendatang bukanlah generasi penghancur Zamrud Khatulistiwa? Yuuuk
mulai introspeksi diri, muhasabah selalu diri yang sudah dijamin tak luput dari
salah dan dosa sekecil mungkin. Apa yang kita lakukan, itulah yang akan ditiru
sebagian orang. Apa yang kita lakukan, itulah yang dilihat dan akan dicontoh
oleh adik, anak, kerabat, dan rekan-rekan kita. Apa yang kita usahakan, itulah
yang akan dilanjutkan oleh orang lain. Semangat dakwah bil hal, dakwah
dengan perbuatan nyata inilah yang kini dinanti.
Kita
harus senantiasa menimba ilmu-ilmu titipan Allah ta’ala, meski kita sadar tak akan bisa menimba seluruhnya. Dan
alangkah baiknya kita menyampaikan ilmu tersebut pada orang lain, bukankah
sebaik-baik manusia adalah yang belajar dan mengajarkan? Tentunya belajar dan
mengajar dalam hal kebaikan yang haq serta
senantiasa menjaga diri dari kebathilan/
keburukan yang sudah jelas adanya, karena #KitaPeduli,
#PembacaPeduli, dan #PenulisPeduli. Penulis mohon maaf atas
segala hal yang kurang berkenan, segala bentuk masukan dan kritikan pedas akan
siap diterima, karena penulis tak lebih baik dari Pembaca, wassalamu’alaykum. (mw)
Saturday, April 25, 2015
BULAN RAJAB, "MENANAM", DAN "BIBIT UNGGUL"
Assalamu’alaykum Pembaca, syukur alkhamdulillah selalu kepada Allah ta’ala yang selalu melimpahkan nikmat sehat, waktu, islam, dan iman. Syukur alkhamdulillah sebentar lagi kita dipertemukan dengan bulan yang super spesial. Hayooo, count down to Ramadhan sudah H-berapa detik nih? Detik?? Iya detik, semoga setiap detik yang telah terlalui, bertambah pula kebahagiaan kita menyambut bulan Ramadhan, dan kita selalu berdo’a supaya dipertemukan dengan bulan ini, allahumma aamiin.
Oh ya, tak lupa saya ucapkan selamat memasuki bulan “menanam”! Menanam apa nih? Padi? Gandum? Sayur? Buah? Yups, bagi Pembaca yang punya usaha pertanian maupun perkebunan. Nah yang gak punya? Tenaaang tidak perlu iri, punya usaha tersebut maupun tidak, insyaaAllah Pembaca termasuk penulis tetap bisa “menanam”. Ya! selamat datang di bulan Rajab! suatu bulan yang diistilahkan sebagai bulannya “menanam”, sebelum nantinya masuk bulan “menyiram” dan bulan “memanen”.. if you know what I mean :)
So apa sih yang kita “tanam” di bulan Rajab ini? Sudah tentu “bibit”nya. Bibit kebaikan, bibitamar ma’ruf, bibit nahi munkar. Plus gak perlu tanggung-tanggung, tanam langsung bibit kualitas super alias bibit unggul, insyaaAllah hasilnya pun nomor wahid!
Pembaca,di bulan inilah kita mulai dengan sebenar dan sebaik-baik niat “menanam” halbaik yang diperintahkan Allah ta’ala dan hal yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad.
Kalau bulan Ramadhan sudah wajib kita berpuasa. Nah pada bulan Rajab ini ayo deh bersama-sama kita membiasakan puasa sunnah. Minimal puasa ayyamul bidh nih, pada tanggal 13, 14, 15 setiap bulan pada penanggalan Hijriyah yaaa bukan Masehi lho. Hanya 3x dalam 1 bulan lho, gak pingin? Nanti nyesel lho, hehe insyaaAllah dimudahkan, ciyus deh.
Atau kita berpuasa senin dan kamis, nih 2x dalam 1 pekan atau sekitar 8x dalam 1 bulan, asyik nih upgrade dari yang 3x.
Naaah kalau sudah siap nih ayo coba puasa sunnah yang utama, ya puasa Daud. Sehari berpuasa, sehari tidak, bisa dihitung tuh dapat berapa hari kalau lancar jaya. Hehe jujur nih penulis pribadi belum pernah mencoba puasa Daud. Tapiii alangkah baiknya kalau mulai detik ini mulai kita niatkan bahwa kita akan bisa puasa seperti puasanya Nabi Daud. Alangkah lebih baiknya lagi kalau kita tanam bibit unggulnya.
Bibit Unggul puasa? Pembaca yang dirahmati Allah ta’ala, kalau bibit biasa, puasa kita adalah puasa menahan lapar, dahaga, dan nafsu biologis saja, iya saja! Jadi yang kita rasakan tentunya hanya lapar, haus, dan itu tuh.
Naaah kalau versi bibit unggul, puasa kita adalah puasa menahan lapar, dahaga, nafsu biologis, dan plus plus. Plus menahan pandangan kita dari pandangan liar,menjaga sikap dan perilaku kita di depan orang lain.
Lhaaa ada lagi versi bibit super nih, syukur-syukur saat puasa justru kita menyenangkan orang lain, banyak membantu, banyak bersedekah tenaga, sedekah ilmu, sedekah waktu untuk hal yang jauh lebih bermanfaat. Perbanyak baca Al-Qur’an, perbanyak belajar ilmu-ilmu yang kita minati, kurangi bermain-main, kurangi berfoya-foya menghamburkan uang, tenaga, bahkan waktu.
Dan yang paling penting adalah betapa kita ikhlas berpuasa hanya mencari ridho Allahta’ala saja, iya saja! Bukan puasa karena kita ikut-ikut teman, bukan puasa karena kita sungkan tidak puasa sendiri, bukan puasa karena ingin hemat uang bulanan, apalagi puasa karena ingin diet ?!? Plis yo.
Yuuuk, Pembaca sekalian, yuk kita bersama saling mengingatkan dan kerjasama “menanam” salah satu macam bibit unggul atau bahkan bibit super, hehe masih satu nih. Kalau kita bisa menanam lebih dari satu macam bibit, why not? Pasti hasil “panen”nya jauh lebih banyak dan variatif.
Yuk kita mulai sadar dan segera mencari “bibit-bibit” lain yang, yang jelas tidak bakal tersedia di toko bibit kesayangan Anda maupun kebun bibit di daerah Pembaca sekalian. Yuk niatkan hal ini bukan sebagai latihan puasa, namun lebih sebagai ibadah sekaligus kita hidupkan sunnah Rasulullah Muhammad sedari dini, karena kita umatnya! Karena kita penerus perjuangan Beliau! Hamasah! Syemangats Kakaaaak :)
Karena sunnah itu bukan yang dilakukan berpahala dan ketika tidak dilakukan tidak apa-apa, namun sunnah adalah pelengkap dan penunjang ibadah wajib kita. Emang situ sudah merasa pantas dan yakin ibadah situ gak bermasalah blas? Apalagi puasa, Allah ta’alalangsung lho yang membalas amal ibadah spesial yang satu ini, kagak mau nih? Hehe.
Mohon maaf atas pemilihan kata atau diksi yang kurang berkenan maupun konten yang kurang berkenan untuk dibaca. Kritik dan saran yang membangun selalu dinanti, karena penulis tidak lebih baik dari Pembaca. Terima kasih, jazakumullah. Wassalamu’alaykum, Pembaca tercinta. (mw)
Saturday, February 14, 2015
14 FEBRUARI.. CINTA MEREKA, CINTA RASULULLAH, CINTAKU, CINTAMU
Assalamu’alaykum,
Pembaca tercinta. Syukur alkhamdulillah
kepada Allah ta’ala atas segala
nikmat islam, iman, ilmu, sehat, waktu, dan syukur alkhamdulillah atas segala cobaan yang silih berganti. Begitulah
kiranya bentuk cinta Allah ta’ala
kepada hamba-Nya. Dan alkhamdulillah
hari ini bertepatan tanggal 14 Februari dalam penanggalan masehi oleh karena
itu ijinkan saya dari lubuk hati terdalam mengucapkan “Selamat Hari Sabtu,
Pembaca tercinta!”.
Pembaca
yang terhormat, 14 Februari merupakan tanggal yang tidak asing bagi
mereka-mereka khususnya para remaja, muda-mudi yang sedang mencari jati diri. Sebuah
peringatan bertajuk cinta dan kasih sayang, “Valentine Day” atau seringkali
diartikan “Hari Kasih Sayang” yaaa
meskipun kalau lihat kamus atau buka google
translate, “Valentine” artinya bukan kasih sayang. Nah, apa sih Valentine Day itu? Mengapa diperingati
khususnya oleh muda-mudi? Siapa yang boleh memperingati? Apa kata mereka
tentang peringatan ini?
Pembaca
yang terhormat, silahkan tanya google
dan cari dengan keyword “Valentine
Day” pasti dia bisa jawab dengan berbagai versi kisah terkait Valentine. So pasti penulis tidak akan membahasnya.
Bukan
rahasia lagi kini pegiat anti-Hari Valentine mem-blow up berbagai penyimpangan terkini dalam peringatan ini seperti
remaja yang kian “liar” dalam memaknai cinta, maraknya “(ber)hubungan” diluar
nikah atas dasar suka sama suka, hingga pembelian sesuatu dengan bonus k*****
khusus pada tanggal ini. Inilah bentuk cinta antimainstream mereka yang begitu kritis dan ingin menyampaikan
betapa menakutkannya cinta bila keluar dari relnya #Anjlok.
Ada
pula yang mem-blow up anjuran untuk
menikah sebagai jalan utama mengatasi masalah perzinaan yang kian meremaja.
Ketika coklat dan bunga diberikan dengan nafsu belaka, saatnya buku nikah dan
mahar diberikan dengan penuh tanggung jawab kepada Allah, mertua, dan pasangan
sah #AsliSoSwit. Itulah bentuk cinta
mereka yang ingin generasi penerus Indonesia tidak jatuh (lagi, lagi, dan terus)
kedalam jurang perzinaan.
Ada
juga kelompok yang mem-blow up aksi
Gerakan Menutup Aurat #GEMAR dengan agenda bagi-bagi hijab sebagai counter-isu
pada umumnya dan sebagai bentuk ajakan untuk kembali kepada syari’at islam,
ajakan untuk taat kepada Allah ta’ala
dengan mengenakan jilbab, kerudung, dan sejenisnya khusus untuk kaum hawa. Pun
kaum adam juga harus menutup aurat, mungkin bisa bagi-bagi sarung.
Perlu
(dan harus) kita apresiasi perjuangan saudara-saudari kita yang mengupayakan perbaikan
diri dan perbaikan bangsa Indonesia dengan mengedepankan syari’at agama yang rahmatan lil’alamin, bukan dengan
mengedepankan budaya dan kebiasaan yang jelas-jelas banyak mudharatnya. Itu
cerita cinta mereka yang peduli dengan bangsa Indonesia.
Pembaca
yang dirahmati Allah, berbicara cinta tentulah Rasulullah Muhammad menjadi
teladan dan bukti suksesnya cinta yang tidak keluar dari relnya. Sebagai umat
islam, penulis percaya bahwa Pembaca sekalian tidak lagi awam dengan kisah saat
Rasulullah dengan sabar dan istiqomah
menyuapi seorang yang buta dan selalu menghina beliau. Dan orang buta tadi
masuk islam ketika tahu bahwa yang biasa menyuapinya adalah Rasulullah.
Rasanya
juga tidak awam dengan kisah seorang badui yang buang air di dalam masjid dan
hendak dimarahi oleh sahabat. Namun dengan bijak Rasulullah membiarkan badui
tersebut dan meminta sahabat untuk membersihkan bekasnya hanya karena badui
tersebut belum tahu adabnya.
Kita
juga tidak asing dengan kisah saat Rasulullah selalu dihina dan dilempari
sesuatu yang menjijikkan oleh seseorang. Manakala orang tersebut sakit
Rasulullah menanyakan keberadaannya dan dengan senang hati ingin membesuk/
menjenguk sembari membawa roti untuk orang tersebut. Orang tersebut menangis
lalu menyatakan masuk islam ketika tahu bahwa Rasulullah lah orang yang pertama
menjenguknya.
Dan
satu lagi kisah saat Rasulullah diakhir usianya, siapa yang beliau ingat? Putri
beliau? Istri beliau? Sahabat beliau? Tentu kita tahu beliau berkata yang
artinya “umatku, umatku, umatku”.
Pembaca, betapa cinta Rasulullah begitu besar kepada umatnya, bahkan diakhir
usianya beliau ingat pada kita! Cinta semacam itu tidak lain tidak bukan, pasti
didasari bukan karena suka sama suka, namun karena cinta hanya kepada Allah ta’ala. Cinta inilah yang tidak keluar
dari relnya. Begitulah cerita cinta ala Rasulullah terhadap umatnya.
Pembaca
sekalian, 14 Februari adalah hari biasa sebagaimana hari lainnya. Namun tidak
ada salahnya bila hari ini kita melakukan hal yang lebih baik dibandingkan
tanggal 13 Februari kemarin. Berhubung hari sabtu, kita bisa berkumpul dengan
keluarga dan melakukan hal yang disukai. Saat mereka diluar sana bertukar
coklat, bersama keluarga kita bertukar cerita, sharing masalah sekolah/ perkuliahan, sharing masalah pekerjaan, atau sekedar bincang-bincang hangat
sekaligus mempererat kekeluargaan.
Atau
disaat mereka sedang deg-deg-an
membaca surat cinta dari “pasangan” mereka, kita dengan tenang dan kalem
membaca Al-Qur’an dan memperbanyak dzikir ataupun membaca buku-buku yang
bermanfaat.
Saat
mereka nun dekat disebelah saling memberi hadiah kepada “pasangan”nya, kita
dengan hati yang ikhlas memberi sedekah dan infaq
kepada yang membutuhkan atau bahkan memberi hadiah kepada saudara-saudari kita.
Disaat mereka saling mengucap “I love yu”, “Aku suka kamu”, “Gue naksir
loe”, “Aku tresna kowe (kowe = anak
monyek dalam bahasa jawa)” atau cipika-cipiki saat bertemu, kita senantiasa
mengucap “Assalamu’alaykum” sembari
berjabat tangan saat bertemu saudara kita (kalau saudari cukup salam deh ya, hehe). Dan masih banyak hal baik yang
bisa kita lakukan syukur-syukur tanggal 15 Februari besok lebih baik dari
tanggal 14 Februari. Ini cerita cintaku, mana cerita cintamu??
Pembaca
yang terhormat, penulis memohon maaf bila ada perbedaan pemikiran bahkan
pendapat dari penulis yang kurang berkenan. Kritik dan saran yang membangun
selalu ditunggu, itulah bukti cinta dan kasih sayang Pembaca. Karena penulis
tidak lebih baik dari Pembaca. Yuk
sama-sama memperbaiki diri dan berwasiat dalam hal kebaikan. Wassalamu’alaykum, Pembaca tercinta. (mw)
Tuesday, January 13, 2015
AL-QUR'AN DI TANGAN KITA.. IBARAT TUMPUKAN KITAB, TONGKAT, ATAU MU'JIZAT
Assalamu’alaykum,
syukur alkhamdulillah semoga selalu
terucap dari mulut dan hati yang tiada hari tanpa melakukan dosa. Alkhamdulillah atas segala nikmat super spesial yaitu islam dan iman yang
diberikan Allah Ta’ala. Lebih-lebih bersyukur
atas ilmu yang Allah titipkan kepada kita sehingga kita dengan ikhlas mau
mengucap suatu kata yang insyaaAllah akan menambah nikmat yang diberikan
oleh-Nya. Perlu kita sadari, ilmu yang dititipkan oleh Allah kepada kita ibarat
setetes air di lautan dan lautan tersebut ternyata tidak cukup bila dijadikan
tinta untuk menuliskan seluruh ilmu Allah.
Pembaca
yang terhormat, ilmu yang dititipkan Allah kepada kita secara nyata tertuang
dalam mu’jizat Rasulullah Muhammad, yaitu Al-Qur’an. Sebagai umat islam, ibarat
guidebook wajib yang memandu hidup
kita berkualitas di dunia dan insyaaAllah selamat di akhirat kelak. Guidebook sudah pasti berisi hal
standar, pengenalan, perakitan atau perawatan, peringatan, masalah, beserta
solusinya.
Namun
ibarat guidebook, adakalanya dibaca
terlebih dahulu karena ingin tahu segalanya secara detail dan menyeluruh,
adakalanya dibaca sebagai buku biasa atau hanya ketika benar-benar di butuhkan,
dan adakalanya guidebook tersebut
masih terbungkus rapi tidak tersentuh sedikitpun meskipun kita tahu. Begitu
juga Al-Qur’an. Kalau kata salah satu guru saya, Al-Qur’an di tangan umat islam
itu ada 3 kondisi.
Pertama,
tidak tersentuh sedikitpun meskipun kita tahu. Yuk buka Al-Qur’an, surat Al Jumu’ah ayat 5, dijelaskan disitu ibarat
tumpukan kitab yang dipikul seekor keledai. Keledai tahu bahwa dipunggungnya
ada barang tapi dia tidak tahu untuk apa barang tersebut, bahkan mungkin tidak
tahu untuk apa dia harus susah payah membawa barang tersebut. Lebih asyik
merumput atau melepas dahaga di sungai. Kita punya Al-Qur’an, diletakkan di
rak, sudah selesai. Tidak sempat ditengok pun tidak terlintas pula dibenak
untuk sekali saja mendapatkan 10 kebaikan dari 1 huruf dalam Al-Qur’an.
Kedua,
dibaca sebagai buku biasa atau ketika butuh saja. Yuk buka Al-Qur’an lagi,
surat Thaahaa ayat 18, dijelaskan
ibarat tongkat milik Nabi Musa sebelum menjadi mu’jizat beliau. Sebatas tongkat
pada umumnya untuk membantu berjalan dan bertumpu, sebagai alat mengambil
dedaunan untuk hewan ternak, dan sebagainya. Al-Qur’an dibaca saja, salah
maupun benar pengucapannya, mengerti maupun tidak terkait terjemahan dan asbabun nuzulnya, tidak begitu peduli.
Tidak begitu mementingkan hikmah tersembunyi dibalik setiap kisah sejarah,
perumpamaan, peringatan, dan sebagainya.
Ketiga,
ingin tahu lengkap hingga detailnya. Yuk buka lagi dan lagi Al-Qur’an surat Asy Syu’araa’ ayat 63, dijelaskan ibarat
tongkat Nabi Musa yang telah menjadi mu’jizat membelah lautan sebagai jalan
keluar untuk kaumnya dari kejaran Fir’aun dan kawan-kawan. Al-Qur’an dianggap
sebagai sebuah mu’jizat. Apapun masalahnya solusinya ada, apapun yang tercantum
kebenarannya terjamin, apapun yang tertulis disitu dilindungi dan langsung
dijamin oleh Allah Ta’ala. Ada penyakit belum ditemukan obatnya? Ada di Al-Qur’an.
Mau cari solusi masalah perekonomian negara? Ada di Al-Qur’an. Mau mengetahui
strategi perang dan pertahanan? Ada banyak sejarahnya di Al-Qur’an. Mau apa
lagi hayooo? Tidak kunjung dapat jodoh? Pasti sudah tahu jawabannya.
Kita
juga lebih percaya fenomena alam sebagai kuasa Allah bukan sebagai hal mistis.
Kita lebih semangat meneliti hal berdasar Al-Qur’an daripada penelitian yang
tidak jelas tujuannya. Semangat membaca, menghafal, mentadabburi, mengamalkan,
dan mengajarkan, bahkan itu semua menandingi kesibukan kita sehari-hari.
Pembaca
yang dirahmati Allah, dari ketiga kondisi tersebut, kita sudah bisa tahu
seberapa dekat dan seberapa besar kecintaan kita pada Al-Qur’an. Oleh karena
itu, yuk sama-sama selalu memperbaiki diri, dalam hal ini perlakuan kita
terhadap kitab Al-Qur’an. Bersama, mulai menyadari bahwa Al-Qur’an lah sumber
informasi dan sebenar-benarnya petunjuk. Tidak hanya dimiliki dan disimpan,
tapi juga dibaca, khatam dan dihafal, ditadabburi hikmah dan kaitannya dengan
masa kini, serta diamalkan dalam segala lini kehidupan, tak lupa kita ajarkan
karena sebaik-baik manusia adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Yang
pasti islam itu tak lekang oleh jaman dan tempat, rahmatan lil ‘alamin dulu, sekarang, dan selamanya. Mohon maaf bila
ada pemahaman yang berbeda, kritik selalu dinanti untuk perbaikan. Terima kasih
dan wassalamu’alaykum. (mw)
Tuesday, December 23, 2014
SETIDAKNYA KEMARIN SEMPAT INGAT... IBU
Assalamu’alaykum,
Pembaca. Syukur alkhamdulillah selalu
kita ucapkan kepada Allah swt. Atas ijin-Nya kita masih berkesempatan menikmati
secuil nikmat dunia hingga akhir tahun masehi ini. Dan alkhamdulillah kemarin telah kita peringati Hari Ibu nih yang
disebut-sebut menjadi trending topic
di dunia maya, dunia nyata, dan mungkin dunia lain. Berbicara tentang Hari Ibu
nih, pasti kemarin Pembaca sudah memberikan hal terbaik untuk ibu, mulai dari
ucapan lisan “terima kasih ibuk, selamat
hari ibu, ibu baik deh!” (pasang wajah memelas), “Love u Mom, you’re my everthing!” (iklan susu deh), dan sejenisnya,
hingga yang berbentuk hadiah spesial berupa hal-hal yang disukai ibu mulai dari
masakan spesial dari anak tercinta, membantu pekerjaan rumah, dan sebagainya
dengan harapan yang berbeda pula, berharap senyum spesial seorang ibu, pelukan
hangat dari ibu, ridho dan do’a seorang ibu, pokoknya bukan berharap uang saku
ditambah saja #ups. Sungguh hebat
kalau Pembaca memanfaatkan momen kemarin dengan meminta maaf, do’a, dan ridho
ibu. Tak jauh berbeda dengan mereka yang sudah ditinggal terlebih dahulu,
pastinya do’a paling spesial-lah yang mereka ucapkan. Overall setidaknya kemarin kita sempat ingat pada ibu kita, bukan
begitu?
“Sempat ingat”? Ya, kemarin kita “sempat”
ingat ibu kita. Seakan-akan kita jarang ingat kepada ibu kita, benar? Seolah
kita ini anak yang jarang memikirkan ibu kita, setuju? Bagi yang serumah dengan
ibu, tidak jarang lho kita bangun pagi lalu teringat tugas-tugas yang menanti
kita, bergegas mandi, ganti pakaian, makan pagi, lalu cusss ke sekolah atau tempat kerja. Kita tidak begitu peduli siapa
yang memasak makanan yang membuat kita siap sedia menjalani hari demi hari.
Kita pulang dari sekolah atau tempat kerja, rumah sudah begitu cantik dan
rapinya, dengan kasur dan makanan yang siap memanjakan kita. Dan alhasil kita
mungkin lupa siapakah behind the scene
kenyamanan yang kita rasakan. Bagi Pembaca yang berstatus perantau kos-lover jauh dari ibu, berapa kali
dalam 1 tahun Anda memberi kabar pada ibu tanpa beliau hubungi dahulu? Berapa kali
dalam 1 bulan Anda memberi kabar bahwa dompet Anda sudah tidak berpenghuni
sebelum ibu Anda yang bertanya? Berapa kali dalam 1 minggu terbesit dalam
pikiran Anda keingintahuan akan kabar ibu? Lalu bagaimana dengan mereka yang
sudah berkeluarga? Yang sudah berbeda rumah dengan orang tua #ehm, apalagi yang sudah tidak bisa
dipertemukan kembali untuk saat ini, seberapa ingatkah kita sebelum akhirnya
kelak dipertemukan? Bukan bermaksud buruk sangka lho.
Pembaca
yang terhormat, dengan momen Hari Ibu kemarin, yuk yuk yuk kita selalu bersyukur kepada Allah swt atas segala
kebaikan yang Allah berikan melalui ibu kita. Allah memberikan berkah makan
makanan buatan ibu, Allah memberikan berkah pakaian yang bagus yang dibelikan
oleh ibu atau bahkan ibu kita yang membuatnya untuk kita, Allah memberikan
sebuah berkah yang insyaaAllah tidak
bisa kita dapatkan untuk kedua kalinya dan pasti tidak didapatkan oleh anak
lain yaitu nikmat lahir dengan selamat ke dunia ini melalui rahim ibu atas ijin
Allah meskipun pada saat itu kita sebagai bayi tidak tahu bagaimana apa yang
dirasakan ibu kita. Ibu hanya berpikir dan pasti berbaik sangka, bangga bisa
melahirkan seorang generasi penerus bangsa dambaan umat, berusaha menepis rasa
sakit yang saya sebagai laki-laki tidak tahu seberapa sakit itu. Pun ketika
seorang ibu ketika melahirkan harus dijemput oleh Pemilik Kehidupan, insyaaAllah surga lah balasannya. Masih
adakah alasan untuk tidak memikirkannya sedetik saja? Masih adakah alasan untuk
tidak membuatnya tersenyum sekali saja? Masih adakah alasan untuk tidak menyisipkan
nama ibu kita dalam setiap lantunan do’a? Betapa Rasulullah Muhammad saw
menegaskan untuk menghormati ibu 3x melebihi hormat kita pada bapak. Pembaca,
sadarlah setetes air susu ibu tidak akan terbalas oleh dunia seisinya bila kita
persembahkan untuk beliau. Namun bukan berarti tidak ada gunanya apa yang kita
berikan pada beliau. Justru harusnya membuat kita semakin memperbanyak berbuat
baik pada ibu. Guru saya pernah berkata bahwa ridho Allah ridhonya orang tua (termasuk
ibu). Dan ketika ibu kembali pada Penciptanya, hilanglah ridho tersebut,
selamanya. Oleh karena itu yuk sama-sama
ingat sembari bersyukur atas hadirnya ibu dalam kehidupan kita. Jangan sampai
beliau sedih ataupun kecewa atas tingkah laku kita. Terlebih jangan sampai
beliau menyesal kelak di akhirat atas tingkah laku kita. Karena penulis tak
lebih baik dari Pembaca, penulis mohon maaf atas kata-kata yang kurang berkenan
di hati. Terima kasih dan wassalamu’alaykum.
(mw)
Saturday, September 20, 2014
KELUAR JALUR ITU SAKITNYA "DISANA"
Assalamu’alaykum,
Pembaca yang dirahmati Allah. Bagaimana kabar Anda sekalian? Insya Allah dan semoga selalu dalam
kondisi terbaik, dalam kondisi bersyukur saat sehat maupun sakit, dalam kondisi
fit untuk melakukan seluruh list kebaikan yang telah direncanakan dalam 1 hari
ini. Mungkin Pak MTGW akan mengucapkan 2 kata super memotivasi, super
menghargai usaha kita, super membuat
kita untuk selalu menjadi super, ya Anda
“Super Sekali” (sembari menyodorkan secuil jempol tangan kanan). Salah satu
guru saya juga pernah bilang bahwa saat kita bangun tidur usahakan langsung
memikirkan hal baik dan perbaikan selama sehari ini, waw, how about kita saat
bangun tidur? Mungkin yang terbesit pertama adalah “masih ngantyuuuuk, bubuk
agy aaaah” z_z. Pembaca yang terhormat, memang benar alangkah baiknya kita
membuat list kebaikan yang sebisa
mungkin kita lakukan dalam 1 hari ini: mengucap salam, menanyakan kabar,
membantu teman nyelesaiin tugasnya,
membantu agenda organisasi, silaturahim, banyakin baca dan memahami Al-Qur’an,
ikut pengajian dan kajian ilmu, nraktir
orang se-kampus (what???), de el el, sesuai kemampuan, syarat dan
ketentuan yang berlaku. Cukup “super sekali” kan list tersebut? Melakukannya untuk kebaikan diri sendiri, mengucap
salam dan menanyakan kabar teman dekat kita. Membantu teman menyelesaikan
tugasnya karena ingin dianggap pintar, baik hati, tidak sombong, suka menabung atau
mungkin karena dia yang (ehm) menjadikan hidup kita “terasa” spesial bila, haha. Membantu jutaan agenda organisasi
biar tidak dicap mahasiswa kupu-kupu
(kuliah pulang kuliah pulang). Belain ikut pengajian dan kajian karena ada si
dia, dia, dan dia atau biar terlihat alim oleh ribuan pasang mata. Mentraktir
orang se-kampus karena ingin update, gahooool, biar gak dibilang cupu, kudet, atau apalah sebutan hinanya.
Benar begitu Pembaca??? Bila iya, Anda dapat 100 poin karena Anda jujur dan berani
mengakuinya tapi -100 poin bila Anda bangga melakukannya. Bila tidak, selamat
Anda mendapat 1 dikali X poin karena mungkin ada alasan lain untuk itu.
Pembaca
yang saya banggakan (eh tapi jangan Ge’eR ya), salah satu guru saya pernah
mengingatkan saya dengan sangat halus melalu 3 kata “Karenanya atau karena-Nya”.
Beda font size saja padahal, yang
satu n (normal) satunya N (capslock), namun interpretasi dan konsekuensinya itu
lhooo. Ya, kriminolog nyebutnya motif,
kalau motivator nyebutnya motivasi, kalau Penulis normal saja deh “NIAT”.
Apapun yang kita lakukan pasti diawali sebuat niat, “sesuatu” yang ingin kita
dapat/ capai/ tuju, sekalipun perbuatan tersebut kurang baik juga diawali oleh
niat. Guru saya yang lain juga pernah cerita tentang seorang pemuda yang ikut
hijrah Rasulullah SAW karena niatnya ingin bersama seorang perempuan, alhasil
hijrah yang kebaikan dan besar (pahala)nya sungguh luar biasa tidak didapatnya,
melainkan hanya seorang perempuan yang sedari awal dia inginkan. Coba flashback pada list kebaikan yang telah kita buat atau bahkan telah kita lakukan.
Sudah benarkah niat kita? Sudah luruskah niat kita? Sudah konsistenkah niat
kita? Kita menyapa, bersosialisasi, dan sebagainya hanya untuk mencari teman,
hanya ingin dikenal orang, hanya ingin mencari kesenangan ngobrol ngalor ngidul etan kulon? Kita kuliah, sekolah, hanya ingin
mendapat nilai A/100? Masihkah kita mencontek saat ujian? Kita bekerja, hanya
ingin mendapat uang gaji bulanan? Masihkah kita memaksa meminta kenaikan
pangkat dan gaji? Kita ikut pengajian dan kajian hanya untuk dikenal dan dicap
sebagai orang “benar”? Masihkah kita ngaji dan belajar sendiri kalau tidak ada
yang mengajak atau menemani?
Pembaca
yang dirahmati Allah, Penulis pribadi masih sering keluar dari jalur utama
niat. Masih sering terbesit cabang-cabang niat yang tidak jelas, ya itu semua
mungkin karena niat yang belum murni, kalaupun niat kita murni mungkin belum
berdifusi merata ke hati, dan bisa jadi karena titik titik hitam yang sering muncul
menjadi kompetitor niat baik sejalan dengan dosa yang kita lakukan setiap hari,
setiap saat, bahkan setiap detik. Menakutkan sekali lho kalau kita melenceng
dari niat, niat karena Allah tiba-tiba melenceng menjadi niat karena ingin
dikenal dan terkenal, melenceng menjadi niat ingin terlihat gaul, melenceng
menjadi niat untuk mendapatkan harta, jabatan, atau pasangan, Penulis takut sakitnya
itu lho disana (mikir ketika
diakhirat piye). Oleh karena itu yuuuuk selalu berusaha memperbaiki niat
kita, bukankah semua yang didapatkan sesuai niatnya? Kalau bisa berniat hanya
pada Allah SWT, Mahapencipta, ngapain susah-susah
niat untuk makhluk ciptaan-Nya. Penulis mohon maaf bila banyak tulisan yang
kurang berkenan dihati Pembaca, semoga bermanfaat, dan wassalamu’alaykum.
Subscribe to:
Posts (Atom)
