Sunday, June 29, 2014

PANGGILAN SAYANG


Assalamu’alaykum, Pembaca. Alkhamdulillah, inshaaAllah Pembaca sekalian sudah mulai berpuasa ya, atau ada yang belum? Semoga niat puasa selalu bisa kita jaga sebaik mungkin. Tak hanya niatnya namun juga segala tindakan selama puasa itu juga diharapkan sebaik niatnya. Pembaca yang terhormat, suatu hal yang menarik saat melihat banyak sinetron remaja, yang sedikit banyak juga menggambarkan kenyataan dikeseharian remaja saat ini. Sering yah dengar ada seorang laki-laki atau perempuan pada pasangan jenisnya kata ajaib nih saat memanggil langsung atau via media apa gitu: “sayaaang”, “bebeeb” (asline bebek), “say”, “papa/mama”, dan sebagainya lah ya yang ngakunya gak alay pasti ya tahu. Panggilan pasangan (bahasa ekstrimnya pacar) mereka pasti disambut dengan gembira, hati sumringah, berbunga-bunga karena dipanggil oleh si kekasih, benar? Bahkan orang lain yang sama-sama memanggil tidak dihiraukan, hanya menghiraukan panggilan si kekasih, benar? Because it is a time to take a date with him/her! Just a view time (hours exactly!) And share everything (nonsense absolutely!) in this day, right?. Bila benar, berarti Anda suka lihat sinetron, hehe, guyon rek. Hal ini saya yakin juga banyak terjadi dimasyarakat, mungkin juga yang baca ini langsung kesinggung (ups maaf, sengaja kok). Bagaimana bila “yang punya” si kekasih itu yang memanggil kita? Memanggil untuk mendekatkan kita padanya tapi justru menjauhkan kita dari kekasih kita? Akankah kita menolak? Ataukah kita nurut? Hehe. Panggilan yang penulis maksud bukan panggilan orang tua si kekasih lho tapi panggilan Allah kepada kita melalui kumandang adzan. It is time to take a date with Allah! A view time (exactly), share (and ask/wish) everything for our life (not only this day!). Dan meninggalkan sementara segala kekasih (baca: aktivitas) yang biasa kita lakukan. Hmmm, pasti beda bila pasangan (yang ngakunya pacar) sepertinya lebih berpotensi menghalangi kita memenuhi panggilan Allah dan pasangan (bukan pacar! Tapi suami/istri) inshaaAllah (dan seharusnya) justru mengajak kita memenuhi panggilan Allah tersebut. Asyiiiiik. Intinya yang banyak disinggung bukan (hanya) masalah pasangan tidak sah atau pasangan sah, tapi respon kita terhadap panggilan spesial Allah pada kita.


Pembaca yang terhormat, sering kita dibiasakan kalau ada adzan ya didengarkan, sudah, stop, titik, berhenti sampai didengarkan saja, lanjut keaktivitas yang tadi terhenti sejenak. Sama dengan kita dipanggil oleh kekasih kita namun kita cuekin saja, bagaimana perasaan dia? Bisa jadi ngambek, marah, jadi cuek balik. Saat Allah memanggil kita untuk kembali mendekatkan diri pada-Nya, apakah kita akan cuek juga? Salah satu guru saya pernah berkata bahwa kumandang adzan di masjid, mushola, itu bukan untuk didengarkan (saja) tetapi juga untuk didatangi. Penulis juga pernah membaca disuatu buku dituliskan bahwa ketika kita mendengar suara adzan, maka dengan segera kita sembari melangkahkan kaki kita ke masjid atau mushola (sumber suara adzan) tadi, dengan semangat dan harapan bisa mengisi shaf terdepan dan tidak tertinggal takbir pertama dalam shalat. Betapa sayangnya Allah pada kita, memberi kesempatan untuk “menemui” dan memohon segala hal baik pada-Nya. Pun saat melangkahkan kaki ke masjid inshaaAllah menjadi amalan baik juga, kalau kata guru saya, dihapuskan 1 keburukan, dicatatlah 1 (atau lebih) kebaikan disetiap langkahnya. Beda sekali kalau kekasih yang memanggil, bisa saja di jalan malah tersandung, aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi (lagune sopo yo??). Banyak kan manfaatnya?? Itupun inshaaAllah hanya setetes manfaat yang bisa tersampaikan, padahal kalau lautan jadi tinta untuk menulis ilmu Allah, niscaya akan habis dan bahkan kurang. Dan maanfaat lainnya inshaaAllah bisa diketahui dengan mengkaji kitab bersama “guru” yang memang berkompeten, apalagi dibulan ramadhan ini, inshaaAllah kajian islam juga semakin banyak diminati.


Penulis mohon maaf karena penulis tentu tak lebih baik daripada Pembaca sekalian, bukan karena lebih baik lalu mengingatkan, tapi mengingatkan orang lain utamanya pasti mengingatkan diri sendiri juga yang paling banyak kurangnya. Pada intinya saling menasehati dalam perbuatan baik dan kesabaran kan? Oleh karena itu yuk sama-sama memahami panggilan Allah ini dengan sebaik mungkin. Sabar berpuasa yeee, minimal ya sabar menahan lapar dan dahaga plus nafsu biologis, kalau intermediate ditambah menahan dan menjaga perbuatan dan lisan kita, kalau advance dimaksimalkan dengan benar-benar menjaga hati kita dari segala hal yang berpotensi mengurangi faedah puasa untuk kita. Terima kasih atas kesediaannya membaca dan wassalamu’alaykum. (mw)

Saturday, May 17, 2014

YUUUK "MENANAM"!!!


Assalamu’alaykum, Pembaca. Bagaimana kabar Anda? Semoga dalam kondisi yang baik dan inshaaAllah akan selalu dalam kondisi yang baik ya. Sudah mencapai pertengahan salah satu bulan yang suci nih, bulan Mei? No! tetapi bulan Rajab, for sure! Dan hayooo kurang berapa detik lagi bulan Ramadhan?? Jangan sampai deh bila ada yang masih merasa baru kemarin halal bihalal so bulan Ramadhan masih lama. Pembaca yang saya hormati, masih ingatkah Anda ketika masih kecil dahulu senang menyanyikan lagu dengan lirik “Ayo kawan kita bersama, menanam jagung di kebun kita....”, ingat? Bila ingat, masa kecil Anda terselamatkan, hehe. Sungguh tepat bila dinyanyikan di bulan spesial ini. Salah satu guru saya mengatakan bahwa bulan Rajab adalah “bulan menanam”. Menanam apa? Eits, bukan menanam jagung lho ya! Hayoo coba tebak, apa sih yang bisa ditanam di bulan Rajab ini? Berhubung masih “menanam”, jadi jangan ragu untuk menanam “bibit” terbaik yang Anda miliki.

Banyak kok “bibit” yang bisa ditanam.
1.      Interaksi dengan Al-Qur’an. Bagi yang masih merasa berat melirik, memegang, membuka, membaca, serta mengkaji Al-Qur’an, termasuk penulis sih, yuk sama-sama mencoba untuk lebih dekat dengan bersama kitab Allah yang tiada tandingannya ini. Pernah lihat acara televisi “Satu Jam Bersama.... atau Satu Jam Lebih Dekat....”? Nah tak perlu satu jam sih. Cukup beberapa menit saja (kalau membaca), beberapa jam (kalau mengkaji) dan sebisa mungkin rutin, inshaaAllah bermanfaat. Namun tetap harus kualitas yang terbaik, tidak asal membaca, tidak asal mengkaji.

2.      Shalat jama’ah di masjid terutama yang mengaku muslim. Bagi yang masih merasa berat (sekali lagi termasuk penulis), terutama jama’ah Subuh dan Isya (nah!) yuk, yuk, yuk, menyemangati kaki kita untuk melangkahkannya ke masjid meskipun tidak kita suruh (kok bisa?).

3.      Sedekah. Ehm, tebal tipisnya isi dompet, besar kecilnya otot, pandai atau kurang pandai, rupawan atau tidak wajahnya inshaaAllah bukanlah halangan yang berarti. Yang perlu dikhawatirkan adalah saat kita merasa akan kelaparan bila sedekah (uang, makanan), merasa lelah bila sedekah (tenaga), merasa rendahan bila sedekah (ilmu), merasa tak pantas bila sedekah (senyum, salam, sapa). Yuk perbanyak berbuat hal baik kepada orang lain, inshaaAllah akan kembali ke kita kok itu manfaatnya, yakin dweh.

4.      Puasa sunah. Ada yang bilang diperbolehkan puasa di bulan Rajab, namun tidak penuh 1 bulan. Kalau kata guru saya, berpuasa di bulan Rajab saat puasa senin-kamis, saat puasa ayyamul bidh (puasa dipertengahan bulan), atau puasa seperti Nabi Daud a.s. (sehari puasa, sehari berbuka) karena ketiga puasa ini memang dianjurkan. Bagi yang belum terbiasa puasa sunah, yuuuk dibiasakan. Tak perlu takut jadi kurus kering kerontang kerempeng mana keren deh kalau puasa, tak perlu takut jatuh sakit gara-gara puasa, yang perlu ditakutkan adalah saat tubuh kita tidak pernah kita beri kesempatan untuk istirahat (tidur saja kagak cukup, Bro).

5.      Antimaksiat. Nih istilah dari guru saya juga “bulan Antimaksiat”. Sedari awal sudah menanam prinsip antimaksiat supaya saat “menyiram” dan “panen” bukanlah kemaksiatan yang kita dapat. Ayo bersama menjaga pandangan (dari hal-hal yang berpotensi rawan kriminalitas), jaga lisan (bicara yang baik saja), menjaga setiap perbuatan kita (ojo kakean polah), menjaga pikiran kita (yang biasanya berpikiran kotor, sudah saatnya diberi norit dan kaporit), menjaga hati (lagunya Yovie-Nuno?? Bukan!) dari setitik noda hitam yang berpotensi merusak susu sebelanga (peribahasa rek!).

Dan masih banyak lagi “bibit” yang belum masuk list diatas. Tugas kita bersama adalah membuat list “bibit” terbaik yang akan kita tanam. Tanamlah bibit dengan kualitas terbaik, laiknya iklan kecap dan kopi “dipilih dari biji kualitas terbaik yang dibesarkan seperti membesarkan anak sendiri (anak kok disamakan dengan biji??)”. Karena penulis tak lebih baik dari pembaca, so penulis masih banyak kurangnya deh, percayalah. Mohon maaf bila ada yang kurang, mohon kritikan, komentar, sarannya, selebihnya disimpan saja. Terima kasih, semoga bermanfaat. Wassalamu’alaykum, Pembaca terhormat.
#Maaf postingnya telat, hehe, adakah yang bertanya-tanya “menyiram”, “panen”?? cooming syuuuun. (mw)

Friday, May 2, 2014

2 MEI.. "ILMU".. MAHAL? ya, NIKMAT? mungkin, SUDAH DISYUKURI? rasanya belum


Assalamu’alaykum, Pembaca. Bagaimana keadaan Anda diawal bulan yang spesial ini? Syukur alkhamdulillah bila sedang dalam keadaan baik maupun kurang baik dan semoga selalu dalam keadaan yang baiknya. Tak lupa from the deepest of my heart, penulis mengucapkan selamat Hari Pendidikan Nasional bagi yang memperingatinya. Bagi yang memperingatinya? Berarti ada yang tidak sedang memperingatinya? Mungkin, hehe. Mungkin ada yang lupa karena bukan tanggal merah. Atau mungkin sengaja tidak memperingatinya karena merasa masih banyak hal dibidang pendidikan yang perlu dibenahi. Overall, tidak ada salahnya kok kita memperingati hari ini, hari Jum’at, ya hari Jum’at kan hari yang istimewa, hehe. :p

Pembaca yang terhormat, mungkin kita pernah bertanya dalam pikiran kecil kita, mengapa ya kok banyak hal yang kita peringati namun kita pribadi tidak tahu ada apa sih yang mendasari peringatan itu? Hal itu diperingati untuk apa? Hanya untuk mengenang perjuangan Bapak Pendidikan Nasional dan kawan-kawan serta kejadian masa lalu? Atau justru sebagai pembelajaran dan evaluasi kita dimasa kini?.... Jujur nih, penulis pribadi tidak tahu bagaimana sejarahnya sehingga bisa muncul yang namanya peringatan Hari Pendidikan Nasional, hehe. Yang tahu dengan jelas, mohon ditulis dibagian komentar yaaaa, yang sudah baca wajib menjawab, haha. Meskipun berpedoman Jas Merah, namun penulis belum sanggup membahas sejarahnya. Yang akan dibahas adalah....

Yuk, sekali lagi mengucap syukur alkhamdulillah kepada Allah atas salah satu nikmat yang wajib disyukuri, Ilmu. Berkesempatan merasakan duduk di kursi PAUD, TK, SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA, PTN, PTS. Dari jaman Anda yang hanya bisa menangis sampai jaman Anda sedang membaca posting ini. Pernah membayangkan andaikata Anda memasuki sebuah gudang film dokumenter, dan semua filmnya adalah ilmu yang telah Anda dapat? Pernah membayangkan membuka sebuah file dokumen yang isi semua list ilmu yang pernah Anda dapat? Pernah membayangkan membuka sebuah buku kas yang isinya seluruh pengeluaran Anda selama ini hanya demi yang namanya ilmu? Ada yang bilang “Ilmu itu mahal”. Ya, mahal, buktinya? Sekolah masih bayar, les privat bayar, cari informasi via internet di warnet bayar, pakai modem pribadi bayar lagi, beli buku bayar, apa lagi? Beli makan untuk akomodasi otak yang kelaparan? Bayar juga tuh, haha. Itulah indahnya perjuangan. Bukan mahalnya yaaa, namun yuk sadar betapa ilmu itu memang penting. Tanpa ilmu, orang akan tetap hidup kok, namun tanpa kejelasan dan tujuan yang berarti. Kalau teman-teman mahasiswa pasti tahu istilah “long life learner”, teman-teman pondok pasti tahu semboyan “santri seumur hidup”, adapun yang bilang “menimba ilmu sampai ke liang lahat”. Intinya Cuma satu “hidup kita ini butuh yang namanya ilmu”, meskipun kelak kita akan merasa lelah, letih, lesu, lunglai, lungset, ilmu tetap setia menemani bahkan menunggu untuk dipinang *what?? ^_^a

Hai, hai, hai, yang sekarang sedang menikmati kursi empuk perkuliahan!! (Termasuk penulis sih). Yang masih suka TA a.k.a. titip absen, yang masih suka keluar kelas untuk ke kamar mandi lalu belok ke kantin, yang masih suka datang kuliah telat dan masuk dengan wajah innocent, yang masih suka telat dan malas mengumpulkan tugas, yang masih suka ninggalin kuliah demi shoping dan nge-mall atau nge-game, yang masih suka menomorsatukan hp dibanding dosen yang dengan penuh cinta menyampaikan materinya, yang masih suka ngatain dosennya dibelakang, yang masih suka berbuat pelanggaran saat ujian, yang masih suka saya (ehh, haha), heeeellooooooowww apa kabar???? *mungkin si Ilmu sedang bersedih karena dicuekin, di-PHP-in, dipermainkan, diduakan, dicampakkan, di apa lagi? -____-"

Pembaca, saya yakin Anda pasti bingung, rasanya tulisan kali ini cukup membingungkan. Tapi, yuk sama-sama bermuhasabah, mengevaluasi setiap sikap kita, menyadari bahwa diri kita ini adalah orang yang terdidik, so pasti harus sejalan dengan sikap dong, setuju? Saling mengingatkan apabila melakukan kesalahan. Penulis tetap tak lebih baik dari pembaca. Kurangnya jangan ditagih, lebihnya mohon dikembalikan, akhir curhat, wassalamu’alaykum, Pembaca.
*Btw, tidakkah Anda bertanya mengapa diawal saya sebutkan “bulan yang spesial ini”?? :)

Thursday, April 3, 2014

5 MENIT UNTUK 5, 10, 15, 20,...... TAHUN


Assalamu’alaykum, Pembaca tercinta. Bismillah, semoga kita selalu mendapat nikmat sehat secara gratis, nikmat bernafas gratis, juga nikmat waktu yang inshaaAllah juga gratis. Alkhamdulillah kita masih diberi kesempatan bertemu dengan bulan April. Bagi yang merasa memiliki semboyan “Jas Merah” pasti akan ingat ibunda yang harum sekali namanya, ya, ibunda Kartini. Bagi yang tidak merasa masih kecil dan nduweso plus sukanya menjahili orang lain pasti akan ingat istilah “April Mop” (masih eksis nih istilah???). Kata Avatar the Last Airblender, “namun semua berubah saat ParPol menyerang”. Pemilihan presiden-wakil presiden sudah di depan mata (ya karena di depan kita ada kalendar). Siapa sangka tanggal 9 April 2014 dan entah tanggal berapa lagi akan menjadi nafas segar bagi Indonesia? Atau bahkan menjadi nafas akhir? *ups. “milih sopo?”, “golput ae ya?”, “wes pokok e milih iku ae”, “mboh wes sopo ae iso”, dan masih banyak contoh respon yang keluar dari mulut kita bila disinggung masalah PilLeg dan PilPres.


Kali pertama mendengar ada saudara yang menyampaikan “5 menit untuk 5 tahun”, wow, iya juga ya?? Pembaca yang terhormat, pemilihan seorang “Wakil Rakyat” apalagi Kepala Negara itu apakah untuk 5 tahun saja? Memilih seorang pemimpin apakah hanya untuk 1 periode kepemimpinan? Bila iya, maka jangan pilih saya (Nah lho??). Ada pula yang berpendapat, “5 menit untuk Indonesia 5, 10, 15, 20,..... tahun kedepan!!”. That’s the point! Gue setuju. Karena hidup tidak berubah secara tiba-tiba, namun bisa kita anggap tiba-tiba berubah. Meski nyatanya perubahan itu secara bertahap dan perlahan, sayang sekali sayang tanpa kita sadari itu sudah didesain sedari awal. Siapa sangka bom nuklir bisa mengkontaminasi suatu zona dalam kurun waktu ribuan tahun hanya diawali ledakan dalam sekian detik?


Dan mohon maaf sebelumnya, karena penulis bukan pakar dibidang personalia, HRD, psikologi, dan sejenisnya, mungkin penulis pribadi kurang tahu bagaimana seseorang laik disebut pemimpin, entah dari segi sikap, kebiasaan, watak, cover, dan sebagainya. Namun alangkah baiknya kita berkaca pada seorang figur yang berpengaruh pada dunia, Rasulullah Muhammad SAW. Kepribadian sederhana namun karismatik, memberikan teladan pribadi baik yang nyata, enterpreneur muda, ditambah gelar “al-amin”, jujur nan bertanggung jawab, negarawan nan visioner, dan yang terpenting memegang teguh aqidahnya (dan masih banyak lainnya, kurang opoooooo???). Kepribadian yang dirasa umum mungkin ya? namun dari segi penerapan hanya pelakunya yang inshaaAllah paham manis, asam, asin, pedas, sepet, seret, hambar, hanyep, pahitnya seseorang yang diamanahi sebagai pemimpin umat. Pemimpin itu


Pembaca yang (apa lagi ya??), setidaknya dan semoga saja Anda sudah memiliki gambaran yang nyata seperti apa sih seharusnya Indonesia 5, 10, 15, 20 tahun mendatang. Dan Anda percaya bahwa apa yang Anda bayangkan pasti akan terjadi. Didukung dengan kemauan Anda sebagai pilar bangsa untuk mensukseskan Indonesia. InshaaAllah, saya akan memilih Anda, kelak pada PilLeg dan PilPres *aseeek. Mohon maaf bila banyak kalimat yang kurang dimengerti ataupun redaksional yang kurang tepat. Karena penulis tak lebih baik dari pembaca. Kurangnya silahkan dimaklumi, lebihnya silahkan dikembalikan ke penulis, kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Terima kasih dan wassalamu’alaykum, Pembaca ter........... ^_^ (mw)

Wednesday, February 19, 2014

PERGESERAN LEMPENG "NIAT"


Assalamu’alaykum, Pembaca. Syukur alkhamdulillah kita kepada Allah SWT yang selalu melimpahkan nikmat kesehatan dan nikmat waktu sehingga kita bisa beraktivitas dengan semestinya. Pembaca yang terhormat, beberapa waktu lalu kita disuguhi sebuah fenomena yang menarik nan dianggap kontroversial, bukan Gunung Kelud lagi, namun tentang pemberitaan shalat berhadiah mobil, umroh, dan haji, hehe. Iya menarik, terbukti ratusan jamaah tertarik tuh. Program yang dilakukan ini diniatkan untuk membuat masyarakat giat beribadah shalat lebih-lebih berjamaah. Tidak tanggung-tanggung 2 unit mobil, dan kesempatan umroh/haji dananya telah disiapkan. Karena dianggap kontroversial, pro kontra pun pasti ada.

Pembaca terhormat, kekhawatiran beberapa masyarakat, termasuk kekhawatiran penulis pribadi hadir bilamana niat sudah sedikit keluar dari rel nya. Memang benar niat hanya diri pribadi dan Allah SWT yang tahu, sedangkan berspekulasi negatif  seenaknya sendiri juga tidak dibenarkan, namun tetap saja khawatir. Akankah niat pergi ke masjid (mohon maaf) mulai tergeser dengan kesibukan ke tukang fotokopi??.. Akankah niat mengambil air wudhu (mohon maaf) mulai tergeser dengan kesibukan fotokopi dan mengumpulkan KTP??.. Dan yang paling dikhawatirkan bagaimana bila niat ibadah karena Allah SWT (mohon maaf) mulai tergeser dengan mobil mewah dan kesempatan umroh/haji??.. Oh Meeen, bukan maksud bersu’udzon, tetapi apa daya pikiran tak sampai hati nurani terdalam. Dan yang membuat penulis heran, apakah program berhadiah ini berlanjut ketika sudah ada yang menang? Apakah berlanjut sampai seluruh jamaah mendapatkan masing-masing 1 unit mobil dan tiket umroh/haji? Lucu rek kalau memikirkan jawabannya, setiap 40 hari harus menyediakan 1 unit mobil baru, dananya diambil dari APBD, nah itu uang loe dipakai beliin mobil baru buat orang lain, ckckck. Ini heranku, mana heranmu? ^_^


Satu lagi, ini yang lebih membuat penulis bingung. Dari sebuah pemberitaan di televisi yang namanya penulis samarkan menjadi “bunga”, ada yang menyebut bahwa cara menarik umat untuk beribadah dengan memberikan hadiah itu pernah dilakukan pada jaman Nabi SAW ketika mengadakan kompetisi shalat dengan khusyu’ dan menghadiahkan salah satu barang milik beliau. Sehingga fenomena seperti itu dianggap tidak menyalahi aturan. Oke itu pendapat orang, bagaimana pendapat Anda? Jangan tanya pendapat saya ya, masih bingung mencari relasinya.


Overall, yuk kita apresiasi salah satu bentuk usaha saudara kita. Sulit memang mengajak, lebih sulit lagi membiasakan, dan alangkah sulitnya mempertahankan, namun manakala murni kita niatkan karena Allah SWT, kita niatkan sebagai jalan dakwah, bismillah, Allah SWT pasti akan menunjukkan kebenaran dan kebermanfaatan semua perintah-Nya kepada kita, entah itu sekarang ataupun nanti. Dan yang terpenting, yuk selalu berdo’a agar niat kita selalu diluruskan oleh Nya, bila kita merasa mau akan hampir saja nyaris mepet-mepet (#alay) keluar rel jangan lupa beristighfar dan meniatkan kembali dengan sepenuh nyawa. Penulis belumlah menjadi orang yang sebaik-baiknya telah dikatakan, masih belajar menjadi orang yang baik sebenar-benarnya, pun penulis tak lebih baik dari pembaca terhormat sekalian. Kurang lebihnya mohon maaf, semoga bermanfaat, terima kasih, Wassalamu’alaykum, Pembaca. :)

Saturday, February 1, 2014

DARURAT BENCANA BIN DARURAT MORAL


Assalamu’alaykum, Pembaca. Syukur alkhamdulillah kita kepada Allah SWT yang selalu melimpahkan nikmat kesehatan dan nikmat waktu. Bismillah, sudah lama tidak posting opini, kali ini sedikit balik kepada kontroversi beberapa tayangan yang kini hadir di channel televisi kita. Sebut saja acara yang isinya “guyonan” tanpa arah dan joged-joged yang aduhai. Banyak yang menganggap beberapa tayangan tersebut terkesan merusak moral bangsa dan kurang mendidik. Namun pro-kontra tetaplah ada.

Satu sisi, kubu yang masih ingin ber-positive thinking berpendapat tayangan tersebut hadir untuk menghibur masyarakat yang kian jenuh dengan masalah yang terjadi di Indonesia. Masyarakat perlu bersenang-senang, perlu bersantai ria. Masyarakat pun dibuat sedikit tidak tegang memikirkan segala masalahnya. Dilain sisi sebuah koin, kubu yang sudah tidak ingin ber-positive thinking karena merasa nyatanya sudah melihat berbagai hal negative, menganggap acara tersebut justru memperburuk keadaan bangsa. Beberapa hal juga dianggap “mengeksploitasi” hak asasi dan aib seseorang. Lebih-lebih generasi muda penerus bangsa kini sudah kalah telak karena sukses menjadi target. Dilain sisi koin lagi (Koin punya 3 sisi??..), penayangan acara semacam itu ternyata dipengaruhi oleh “rating” dan tanggapan dari penonton. Alhasil “rating” digunakan oleh stasiun penayang program tersebut untuk mempertahankan acara tersebut, so I can say, they’re Pro. Pro dan kontra, 2:1, secara umum sekarang seperti itu. Kalau penulis pribadi cenderung untuk memperkuat kubu kontra, hehe. Alasannya???....


Bangsa Indonesia yang kini dikata sedang “Darurat Bencana”, sepertinya akan bertambah lagi menyandang status “Darurat Moral”. Belum cukup rasanya sebagian besar wilayah darat di Indonesia tergenang air bah yang bukan main efeknya. Sering kita lihat di televisi, rumah terendam 3 meter, kendaraan terseret arus, penduduk dilaporkan hanyut dan ditemukan terdampar di benua lain (Nah!). Bagaimana dengan yang rumahnya tiba-tiba rusak tersena hempasan badai ala Indonesia? Belum lagi yang tebing longsor, alhasil yang mau pulang kampung harus di delay karena jalanan tertutup material longsor. Bagaimana dengan saudara kita di kaki gunung yang sudah bangun dari masa hibernasinya? Setiap hari harus melihat indahnya erupsi, menikmati awan panas yang meluluhlantahkan segala yang dilewatinya. Apa lagi? Gempa? Tsunami? Naiknya permukaan laut? Kebakaran hutan? Berapa banyak manusia yang sudah mendapat “hadiah” berupa teguran bencana atau bahkan teguran kematian?.. Miris ketika musibah dianggap sebagai musibah saja. Sedih saat melihat banyak yang belum sadar sekalipun musibah sudah menimpa. Kecewa saat mendengar bahwa “itu hanyalah musibah yang sudah rutin melanda kawasan kami”. Pembaca, bukan bermaksud aneh-aneh, pernahkah kita berpikir bahwa bencana adalah teguran atas sikap, moral, akhlak, ketaatan kita kepada Allah SWT? Pertanyaan intinya, apakah ada keterkaitan atau relasi antara keduanya?.... :)


Lain merasa kesusahan dan kesedihan, lain rasanya “merasa” bersenang-senang. Tayangan yang hanya mengumbar aib seseorang, terkesan mengeksploitasi hak asasi, bahkan menebarkan virus-virus sensualitas (maaf bila kurang sopan). Tegakah Anda melihat saudara Anda berjoged tidak jelas? Tegakah Anda melihat kerabat Anda dibujuk untuk melakukan hal-hal yang melecehkan kehormatannya sendiri? Tegakah Anda 1 generasi Indonesia kedepan sudah berada diambang batas “kebobrokan” bangsa?.. Bersenang-senang itu asyik, tertawa itu menurunkan rasa stres, bergembira itu membawa ketenangan untuk diri yang sudah dilingkupi kepenatan. Tapi apa harus dengan cara itu? Menggadaikan moral? Menggadaikan akhlak? Menggadaikan keilmuan kita?.... :(


Oh meeen, Penulis pribadi khawatir saat mendengar ada yang mengatakan “jangan-jangan bencana yang mereka tanggung adalah akibat perbuatan kita”, meskipun tidak menutup kemungkinan itu murni teguran untuk mereka. Dan entah benar atau tidak silahkan dipikirkan, namun Penulis pikir ada relasi antara bencana alam dan moral suatu kaum, hehe menilik kaum-kaum terdahulu saat jaman Nabi yang kisahnya ditimpakan suatu musibah akibat perbuatan kaum tersebut yang sudah “keterlaluan”. Overall, yuk kita sama-sama memperbaiki kualitas diri kita. Memperbaiki kualitas keimanan kita kepada Allah SWT dan memperbaiki kualitas kepedulian kita terhadap umat. Bila ada yang tertimpa musibah, yuk membantu. Bila ada yang tertimpa musibah moral, yuk sama-sama saling mengusahakan perbaikan kearah yang lebih baik dan benar. Terima kasih sudah membaca curhatan saya, maaf bila panjang lebar kali tinggi, sekali lagi ini adalah opini yang inshaAllah tidak bermaksud buruk. Ini opini saya, saya tunggu opini Pembaca terhormat, wassalamu’alaykum.... ^_^

Friday, December 13, 2013

DZIKIR.. ON THE WAY


Assalamu’alaikum, Pembaca. Bagaimana kabar Anda? Semoga sehat selalu. Pembaca, pernahkah Anda menghitung berapa jam, berapa menit, bahkan berapa detikkah perjalanan dari tempat Anda ke sekolah, tempat perkuliahan, kerja, belanja, dan lainnya?.. Saat dalam perjalanan ke tempat tersebut, apa saja yang Anda pikirkan dan lakukan?.. Pernahkah dalam perjalanan Anda tidak memikirkan apa-apa (blank)?.. Hehe, tak dimungkiri dalam suatu perjalanan kita mikirkan banyak hal (iya kalau yang baik, kalau negative thinking?) atau bahkan justru pikiran kosong!! Tentunya sama saja kita membuang tenaga dan waktu kita untuk hal yang tak bermanfaat. Oke sekarang, pernahkah Anda berdzikir? Tolong Anda berdzikir sekali saja, berapa detikkah yang dibutuhkan?? Hehe. Dan penulis yakin bahwa Pembaca mengerti dzikir itu untuk apa tujuannya.. Lalu korelasi antara perjalanan dan dzikir??.. Apakah Anda takut kalau berdzikir tiba-tiba Anda tidak konsentrasi dalam perjalanan? Apa Anda berpikir bahwa saat berdzikir kita bisa mengantuk di perjalanan? Apakah dengan berdzikir kita menjadi tertidur pulas di tengah jalan, nah!?.. TIDAK! Justru dengan berdzikir selama perjalanan, inshaAllah hati lebih tenang sehingga perjalanan lebih santai dan waktu lebih dimanfaatkan sebaik mungkin!


Ketika naik kendaraan dan berhenti di persimpangan jalan menunggu lampu merah dengan 3 digit (ratusan detik), saat orang lain lelah letih lesu lunglai lungset mulai mainan klakson menggerutu gak jelas ingin cepat-cepat, kita yang berdzikir inshaAllah akan tenang (keep calm and stay cool) menikmati hitungan mundur dari ratusan hingga nol, setiap detiknya adalah dzikir. Pun teriknya matahari tak terasa meskipun kulit dan rambut kita sudah terbakar. Juga tak terasa lampu merah yang berganti hijau telah berganti merah lagi dan kita masih menikmati diam ditempat, wooow jangan sampai ya. Dan yang terpenting, perjalanan pun inshaAllah terasa lebih cepat, nyaman, tenang, damai, asri, teduh, tentram, kondusif, apalah itu.


Atau saat perjalanan malam dan hujan deras, dengan dzikir kita tetap tenang menikmati berkah yang melimpah ruah (hujan kan berkah!). Dingin cuaca justru tak membuat mengantuk karena hati dan pikiran kita stay ON. Tapi kalau sudah mengantuk ya harus tidur! Daripada dzikirnya ngelantur gak karuan diikuti juga kendaraan kita yang ngelantur gak karuan, bahayanya sampai tumpeh-tumpeh tuh! Safety first.


Ketika perjalanan yang ditempuh perjalanan antar rumah, RT, RW, perumahan, desa, kota, provinsi, pulau, negara, benua, planet, bahkan antar galaksi yang notabene sangat jauh, nah betapa banyak waktu yang kita habiskan diperjalanan apabila tidak kita manfaatkan sebaik mungkin. Perjalanan sama halnya waktu luang yang mungkin kurang kita sadari sehingga dengan wajah innocent kita memikirkan berbagai “hal” yang mungkin penting. Kalau bukan memikirkan hal yang tidak penting, minimal mulut kita komat-kamit (baca mantra kali ya) alias lipsinc sampai dukun yang lewat didekatnya minder gara-gara komat-kamitnya yang lipsinc kekuatan magisnya lebih powerful dibanding dukun. Kepala mengangguk-angguk gak jelas mengikuti irama musik. Lalu kedua tangannya mulai gerak sendiri sampai pengguna jalan didekatnya kena jotos, upper-cut, smash, smack-down (parah!). Kakinya ikut-ikut pula alhasil berapa mobil bahkan truk terguling dan terpental masuk gawang akibat tendangan mautnya bahkan membuat seluruh striker sepak bola di dunia migrasi ke planet lain karena tendangan mereka sudah kalah telak. Pada akhirnya mendeklarasikan diri sebagai The Next Raja Dangdut! The Next Mentalist pun kalah pamor -_-


Pembaca, yuk sama-sama memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ketika pikiran mulai tidak terarah, ketika pikiran kita mulai kosong, sesegera mungkin mengingat Allah via dzikir. Selain untuk mengisi kekosongan pikiran lebih-lebih menambah ibadah. Kuantitas dzikir memang tak terbatas, tetapi kita harus tetap menjaga kualitas dzikir kita, minimal sesuai tuntunan sunnah Rasul maupun yang tertera pada Al-Qur’an. Sedikit-sedikit, yang penting istiqomah. Semoga bermanfaat, mohon maaf bila yang penulis sampaikan bertentangan dengan pemikiran Pembaca semua. Penulis tak lebih baik dari yang membaca. Terima kasih dan wassalamu’alaikum.