Saturday, October 15, 2011

AJAL SI MUDA


Suatu saat
Sungguh tak ingat aku punya janji
Tak dirasa aku telah mengharap
Tak sadar rupaku telah didatangi
Ku kenal dia yang mendekat
Dinginnya membelai lembut
Ingin mendekapku erat, ya?

Tunggu
Lihatlah aku
Rupaku yang gemilang nan tampan nian cantik
Dengan mahkota cemerlang yang melekat
Pandanganku tak terkikis waktu
Lihatlah
Pilar-pilar tubuhku sekokoh besi baja
Tak retak, tak remuk, tiada hancur
Kenapa kau inginkan aku?

Sungguh kau tak ubahnya pikiranmu
Tak kuasa kulihatmu, teganya kau ini
Hempas semua besi baja nan megah
Membutakan jalan hidupku
Merenggut hidupku nan indah ini
Hanya itu yang kau mau kan?

TIDAK….
Engkau pinta satu hal lain
Tidakkah kau lihat sayangnya
Amalku minim, ibadahku cukuplah kurang
Hartaku berlimpah, dosaku menggunung
Kesenjangan yang nyata
Kenapa tak lihat kau
Tak inginkah kau, aku memperbaikinya?

TIDAK….
Yah, kamu menang
Ajal telah menghampiri
Tak kuasa menolak rayuannya
Sekarang aku milikmu sepenuhnya
Andai lepas dekapannya
Harap-harap aku lebih bersiap diri

Wednesday, September 7, 2011

GELAR ABADI DI DUNIA

Pembaca, berapakah usia anda? Sudahkah anda bekerja? Jika sudah, anda lulusan pendidikan apa? Apakah anda sudah menyandang gelar? Jika sudah, gelar apa sajakah itu? Banggakah anda dengan gelar itu semua?....

Berbicara soal gelar, gelar sendiri adalah suatu bukti tertulis yang mana menunjukkan kedudukan atau jabatan, pekerjaan, tingkat sosial maupun ekonomi maupun tingkat pendidikan seseorang tersebut. Ada yang bergelar sarjana (S.) yang sering dikenal lulusan tingkat S-1 seperti sarjana pendidikan (S.Pd.); sarjana keperawatan (S.Kep.) sarjana ekonomi (S.E.) dan lain-lain,  begitu juga master (M.) dikenal dengan lulusan S-2, adapun slanjutnya adalah doktor (DR.) lulusan S-3. Ada juga gelar sesuai pekerjaannya seperti dokter (Dr.), insinyur (Ir.) bagi seorang arsitek atau teknisi, Kepala bagian (Kabag.), Jendral (Jend.), mayor (May.), komisaris (Kom.) dkk yang biasanya pada satuan keamanan negara. Ada lagi karena suatu hal yang pernah dicapainya seperti Haji (H.) atau Hajjah (Hj.) bagi muslim atau muslimah yang sudah menunaikan ibadah haji, profesor (Prof.) bagi yang sudah benar-benar ahli dalam bidangnya dan masih banyak gelar-gelar yang mungkin tidak kita ketahui.

Pernahkah kita jumpai seseorang yang gelarnya sangat banyak, sampai-sampai apabila ditulis dalam papan nama mungkin hampir 1 meter panjangnya??... Hal ini sangat jarang, namun tidak menutup kemungkinan tidak ada yang seperti ini. Mari sejenak kita lihat, untuk apa gelar banyak-banyak? Apakah biar jadi pusat perhatian seseorang karena panjangnya? Atau menunjukkan betapa hebatnya ilmu yang kita miliki? atau betapa banyaknya uang yang kita keluarkan untuk mendapat gelar seperti itu?.... Entah karena itu tergantung individunya.

Pembaca, gelar memang paling berguna untuk mencari pekerjaan, bahkan suatu pekerjaan yang tingkatannya tinggi atau jabatannya tinggi membutuhkan gelar yang tinggi pula. Di saat inilah gelar baru dibutuhkan. Mulai dari pekerjaan satu ke pekerjaan lain bisa kita coba bermodal gelar ini asalkan masih sejalan dengan gelar yang kita miliki. Betapa bangganya kita jika sudah seperti ini, memang tak bisa dimungkiri. Namun pernahkah terbesit bagaimana dengan mereka-mereka yang tak punya gelar? Bisakah mereka mendapat pekerjaan yang layak, yang pantas, yang sesuai? Lalu bagaimana mencari mencari nafkah tanpa bekerja selayaknya?.... Dari sini dapat berarti gelar juga penentu status ekonomi seseorang, mereka yang bergelar banyak pasti sudah menghabiskan banyak biaya demi tercapainya itu semua, lalu bagaimana dengan yang tidak bergelar? Berarti mereka tidak cukup ekonomi karena tak mampu membiayai ini semua?.... Naudzubillah, jangan sampai kita punya pemikiran seperti ini akan seseorang yang mungkin statusnya dibawah kita. Karena belum tentu kita tau dan mengerti untuk apakah sebenarnya kita mencari gelar.

Bagi mereka yang tak bergelar, jangan khawatir, sesungguhnya semua manusia di dunia ini akan mendapat gelar yang sama pada akhirnya. Bolehlah kita bangga dengan gelar yang terpampang di depan atau belakang nama kita. Boleh kita bangga telah menyelesaikan berbagai studi atau berbagai hal sehingga mendapat suatu gelar. Namun ingat, jangan terlalu bangga. Gelar yang wajib dimiliki seseorang adalah “ALMARHUM (Alm.)” bagi kaum laiki-laki atau “ALMARHUMMAH (Almh.)” bagi kaum perempuan. Suatu gelar yang tak akan terpisahkan saat waktunya. Suatu gelar yang PASTI dihibahkan kepada kita tanpa memandang tingkat pendidikan, sosial, ekonomi, pekerjaan, jabatan dan lain-lain. Suatu gelar hitam yang tertera diatas putih dan tidak tertera lagi pada papan nama atau pakaian kita melainkan tertera pada nisan batu maupun kayu kita. Pembaca, inilah “GELAR ABADI” di dunia. Inilah puncak pencapaian seseorang di dunia. Inilah gelar penutup yang pantas dan sepantasnya kita dapatkan. Jika gelar ini telah kita sandang, masih bisakah kita tersenyum puas akan semua yang kita peroleh? Masih bisakah kita menunjukkan semua kemampuan kita pada siapa saja? Masih sanggupkah kita melanjutkan studi untuk mendapat gelar lain?.... Gelar Abadi ini adalah pemberian Tuhan, bukan gelar sementara hasil penetapan manusia….

Pembaca, inilah hidup, serba sementara.. Pastilah ada yang abadi kelak dikemudian hari.. Gelar boleh beragam, boleh panjang boleh pendek, bahkan tanpa gelar sekalipun. Semua yang kita miliki sebenarnya juga pemberian Tuhan yang diwakilkan pada seseorang untuk memberikannya pada kita, jangan lupa bersyukur atas pencapaian kita, jangan juga terlalu bangga, yang terpenting adalah gunakanlah gelar tersebut sebaik mungkin, gunakanlah pemberian Tuhan ini sebaik mungkin untuk kemaslahatan umat manusia di dunia ini, Insya Allah sekalipun gelar abadi telah kita raih, gelar-gelar duniawi kita tetaplah membekas sebagai bekas yang baik, sebagai contoh yang bagus untuk generasi-generasi berikutnya, amin amin Allahuma amin.

Wednesday, August 17, 2011

KEMERDEKAAN TIDAK SEPENUHNYA BEBAS

Sebelumnya, selamat Hari Kemerdekaan yang ke-66 buat Indonesia! Semoga Indonesia bisa menjadi negara yang senantiasa berpegang pada Pancasila demi memajukan kehidupan rakyat-rakyat yang menaunginya ini. Semoga keistimewaan Indonesia sebagai negara yang terkenal dengan budaya sopan dan menghargai serta menghormatinya ini tetap terjaga, saya berharap itu.

Pembaca, apa yang akan saya jabarkan berikut ini ada kaitannya dengan harapan saya tadi, yahh budaya sopan dan saling menghargai serta menghormati kita. Berikut ini merupakan contoh riil yang baru saja saya alami tepat tanggal 17 Agustus 2011 ini ketika mengikuti upacara memperingati hari Kemerdekaan. Bagi pihak yang merasa terlibat, mohon mengerti dan jadikan ini sebagai bahan tela’ah untuk kedepannya saja.

Mojokerto, 17 Agustus 2011, upacara hari Kemerdekaan yang diadakan kecamatan sooko tepatnya di lapangan yang bersebelahan dengan SMAN 1 Sooko, MAN 1 Sooko, dan SD Japan ini memang berjalan lancar pada awalnya. Upacara diikuti dengan baik oleh peserta upacara dari SD, SMP, SMA dan yang sederajat.. juga dari guru-guru pengajarnya.. pegawai desa, kecamatan, daerah dan lainnya. Lalu dimana letak kekurangannya???....

Sebagai peserta upacara apalagi dalam rangka hari besar Indonesia yang harusnya menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma yang baik, berikut adalah yang perlu diperhatikan:


1.      Jangan ramai sendiri saat acara! dengan suasana yang sedikit panas, dengan waktu yang agak lama, dan sedang berpuasa bagi yang menjalankan, tentunya peserta acara akan merasa lelah sendiri. Kalau sudah lelah dan bosan, apalagi dibarisan paling belakang (kebetulan Penulis dibarisan belakang, hhehehe…) yang sulit sekali fokus ke acara karena memang prosesi acara tidak terlihat jelas karena tertutupi ribuan punggung warna-warni dari pojok timur anak SD putih-merah, putih-hijau, putih-biru, putih-abuabu, coklat, batikbiru-hitam, biru sampai paling pojok barat itu warna hijau alias bagian keamanan dan sipil, alhasil akan berbicara sendiri dengan sekitarnya (Penulis juga kog…) . Saya yakin dan percaya hal ini memang wajar terjadi di acara apa saja. Namun hal ini justru menunjukkan tidak ada rasa hormat terhadap acara tersebut, otomatis juga mengurangi suasana kemerdekaan ini, bukan berarti merdeka dan bebas berbicara tanpa lihat situasi lowhh yaaa….


2.      Tetaplah fokus!! kalau sudah friendly sama lawan bicara pasti akan terbawa suasana baru yang senantiasa membuat kita terus berbicara juga (lagi-lagi Penulis mengalami…) . Bayangkan jika 1 peserta sibuk akan kemauannya sendiri tanpa pandang dulu sekitarnya pasti akan merangsang dan menggoda peserta lainnya untuk tidak fokus juga, laiknya 1 virus yang mampu menginfeksi semua software dan hardware 1 komputer. Saya ambil contoh, kebetulan selama upacara berlangsung banyak siswi yang tumbang, alias pingsan, umumnya siswi SMP dan SMA (salut buat siswi SD yang tak pernah tumbang…) kebetulan juga saat perwakilan sedang membacakan do’a. Waaah, niat berdo’a namun agak bergeser 180 derajat menjadi niat ingin tahu. Banyak yang menoleh kebelakang kesamping dan kemana-mana ingin melihat yang pingsan tadi. Sekali lagi, ini memang wajar terjadi, namun juga menimbulkan kesan tidak menghormati acara. Biarlah yang bersangkutan (tim medis atau PMR) yang bertindak, kita cukup membantu bila sekiranya perlu. Itu saja, tak usah dilebih-lebihkan, bahkan sampai jadi bahan pembicaraan. Fikiran memang merdeka karena boleh ingin tahu, namun fikiran tetap tak boleh untuk tidak fokus pada apapun acaranya….


3.      Ikuti dengan baik sampai selesai!!! awal acara sudah, pertengahan sudah, ini nihh yang terakhir. Lagu yang sebelumnya dibawakan oleh tim paduan suara sebagai penutup memanglah bagus, menarik perhatian, namun tak hanya itu, beberapa siswa-siswi gabungan, mengadakan semacam teatrikal tentang perjuangan rakyat Indonesia terdahulu. Awal teaternya memang Indonesia dari sudut barat yang bersenjatakan bambu runcing kalah n terpukul mundur oleh penjajah dari sudut timur yang bersenjatakan senapan (dari bambu juga sihh…), kemudian juga ada teatrikal penyiksaan terhadap kaum perempuan oleh para penjajah (padahal perempuannya abis pulang belanja lowh…) mereka dipukuli, dihina, disiksa habis-habisan (kasihan yaah…), namun kubu Indonesia disemangati kembali dan dengan jumlah armada yang besar, mereka berani melawan penjajah yang entah kenapa jadi sedikit, dan……….. (maaf, Penulis keburu meninggalkan tempat, hhehehe…). Inilah yang janggal dan benar-benar tidak punya sikap menghargai dan menghormati!!! Awalnya diprovokasi dari pihak guru yang mana mereka bubar duluan entah kenapa. Kemudian disusul siswa-siswi (termasuk Penulis…), pegawai dan peserta lainnya. Alhasil, drama teatrikal yang heroik ini lama kelamaan kehabisan penonton!!!. Entah apa yang ada dalam fikiran penonton, yang jelas penonton memang tak berpendidikan kewarganegaraan yang baik!!! dimana letak penghormatan kita?? Dimana letak penghormatan kita terhadap perjuangan merebut kemerdekaan ini sekalipun hanya teatrikal?? Dimana letak kesadaran bahwa mereka sama saja telah menghina dan meremehkan perjuangan terdahulu?? Berapa nilai Pkn dan Sejarah kita?? Inikah cerminan bangsa yang besar?? Bangsa yang menjunjung tinggi sejarahnya?? Pantaskah itu menjadi emblem kita?? Pantaskah itu kita lakukan setelah hormat pada sang saka merah putih berani nan suci kita?? Lalu apa gunanya kemerdekaan diperingati?? Padahal kenyataan berbicara lain!!! Hai para warga Indonesia, ini memang hari kemerdekaan, namun bukan kemerdekaan yang mana kita seenaknya berbuat tanpa aturan, tanpa nilai dan norma!!! Apakah kita bebas sebebas bebasnya?? Apakah arti sebenarnya “KEMERDEKAAN” dimata kalian?? Apaa?? Apaaa?? Apaaaa???....


Pembaca, 3 sikap yang saya jelaskan tadi (baik dan buruknya) adalah realita, jangan dimungkiri. Pun Penulis mengakui kesalahannya juga sebagai peserta acara tersebut. Untuk kesekian kalinya, itu wajar terjadi, namun kewajaran yang sebenarnya tak sesuai dan tak wajar. Sebagai warga negara yang baik, mari.. ayo.. perbaiki kualitas diri ini.. perbaiki kualitas pemahaman kita.. perbaiki segalanya.. malulah pada negara jika kita menyalahi aturan negara.. malulah pada diri sendiri jika kita menyalahi ilmu yang kita dapat.. malulah pada pejuang terdahulu, tanpa mereka mungkin kita sekarang pantas menerapkan sistem romusha, kerja paksa dan lain lainnya itu.. malulah pada Tuhan yang telah memberi kita ilmu dan akal jika tak kita kombinasi dengan baik..

Bismillahirahmanirahim.. KEMERDEKAAN ini menjadi awal perubahan bagi segalanya..
Semoga bermanfaat, Penulis yang ikut terlibat juga minta maaf karena tak dapat memberikan contoh yang baik, namun ada baiknya kita sama-sama ambil sisi positifnya saja sesuai penjabaran saya tadi….

Selamat hari Kemerdekaan bagi Indonesia!!! Bagi umat muslim, jangan lupa kalau hari ini juga hari besar islam, Nuzulul Qur’an!!, Umat islam, mari memerdekakan juga Al-Qur’an dengan setia membaca, mengerti dan memahami serta menerapkannya…. Syukron katsiran :)

Saturday, August 13, 2011

KENALI JAWABAN DUNIA DAN AKHIRAT

Alhamdulillah, puasa sudah kita lakukan selama sepertiga bulan ini, semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan ridha-Nya pada kita untuk terus menyelesaikan ibadah suci ini, amin amin Allahuma amin. Pembaca, kalau anda ditanya, “Apakah yang biasanya bertambah dan berkurang saat bulan puasa atau ramadhan seperti sekarang ini?”, bagaimanakah jawaban anda?....

            Berbagai versi jawaban pastinya:

1.      Pelajar “jam sekolah berkurang dan menjadi efektif fakultatif, bisa bangun siang karena masuk tambah siang tapi pulang tambah cepat (kalau tak ada les), dan tentu liburannya bertambah donk 4 hari sebulan bisa jadi 14 hari sebulan, asyiiikk… Tapi uang jajan yaaa dipastikan berkurang drastis, huuuhh >__<”.

2.      Pekerja kantor “bisa pulang lebih awal juga biar bisa berbuka di rumah dengan masakan istri, ohh maksud saya dengan istri dan anak tentunya, hhehehe, tidak banyak tugas yang harus dikerjakan dan gajinya tetap, harus itu!!”.

3.      Pekerja lapangan “boleh tidak berpuasa jika pekerjaan terlalu berat sih… Tapi yaa rugi, tapi yaa tuntutan pekerjaan, kan kita profesional, biar dapat gaji buat makan keluarga mas, capek bukan masalah, yang penting ikhlas dan bisa nyaur dilain waktu”.


4.      Kepolisian & satpol PP “haduuuhh, job nambah mas, biasalah job semacam razia gitu, ada razia miras, razia mercon, razia balapan liar sampai razia ‘pekerja itu tuhh’. Kalau maghrib yaa mungkin gak bisa buka puasa sama keluarga kan biasanya waktunya pulang-pulang kerja mas, tapi kalo yang nakal-nakal mungkin bisa. Tohh gajinya sama sekalipun jalannya ramai, yaa??”.

5.      Pedagang dan pembeli “Ya Allah mas, harga sembako dan lainnya itu lohh mesti naik ehh, saya sebagai ibu rumah tangga yang memanage keuangan kan juga ribet mas, ini naik, itu naik, padahal kualitasnya yaa sama-sama saja lowhh… pemerintah kog ndak pernah memberikan subsidi buat barang-barang pokok ini khususnya saat ramadhan”… “lhoo yaa ibu ini harus tau kebiasaan pasar bu’, kan kalau mau lebaran gini harga barang selalu naik, jadi yaa ini juga musiman aja, harap maklum bu’ kami Cuma mengikuti harga pasar, kami tak ada maksud mencari untung banyak”.

Dan masih banyak komentator yang tingkat keragaman komentarnya menjawab dengan alasan masing-masing. Secara tak langsung, inilah pemikiran mereka-mereka yang tidak mengerti atau memang tidak kepikiran unntuk menjawab lebih jauh lagi. Tak sedikit yang menjawab dengan alasan-alasan umum duniawi yang tentu wajar kita rasakan, bahkan selain bulan puasa juga.

      Pembaca, jawaban-jawaban diatas memanglah benar, saya akui memang itulah kenyataannya, masalah-masalah sosial ekonomi pendidikan dan lain-lain tak kalah mengambil alih fikiran kita. Sebagai seorang muslim dan muslimah, kita seharusnya juga harus berfikir secara agamis, jawaban orang yang mengerti arti sebenarnya puasa, jika ditanya pertanyaan seperti tadi, bukan bermaksud gengsi, namun tak ada salahnya bila kita yang islam ini menjawab:

      Yang berkurang:

1.                     Dosa-dosa kita, insya Allah, pintu ampunan bagi mereka yang ingin, pasti Allah membukanya lebar-lebar tanpa halangan tanpa barikade tanpa ranjau menuju puntu ampunan-Nya. Jangan segan untuk meminta ampun, karena Allah adalah Mahapengampun.

2.      Nafsu kita, bukan mengurangi, tepatnya adalah menjaga nafsu kita agar tidak berlebihan. Memang puasa adalah satu-satu jalan bagi mereka yang tidak mampu mengendalikan nafsu mereka itu. Dalam posting sebelumnya sudah saya jelaskan sedikit banyak tentang kehebatan puasa ini. Mari menjaga nafsu kita, jangan sampai amal ibadah suci ini terkotori oleh tetesan nafsu ini.

            Yang bertambah:
  
Amal ibadah, saat bulan ramadhan, gencar-gencarnya kita mengkhatamkan Al-Qur’an, shalat tahajud, shalat tarawih dan lainnya, alhamdulillah lebih lebih saat malam Lailatul Qadar, shalat tahajud dimalam ini akan mendapat ganjaran dimaafkannya semua dosa kita, subhanallah. Jangan sia-siakan kesempatan sekali dalam setahun ini, selagi  kita diberi kelonggaran waktu dari urusan duniawi, mari manfaatkan waktu yang banyak ini untuk benar-benar meraih kemenangan atas islam, meraih kemengangan atas diri kita ini, meraih kebahagiaan, meraih pintu ampunan, meraih segalanya.
Pembaca, selagi kita masih dipertemukan dengan bulannya umat islam ini, perbanyaklah amal ibadah kita. Tak hanya shalat, membaca Qur’an, berdzikir dll, namun juga lakukan segala hal yang berguna, seperti belajar, bekerja, membantu, membersihkan ruang yang kotor, menurut pada perintah yang baik, menghormati orang tua dll karena itu juga termasuk ibadah yang tak kalah juga ganjarannya :)

Pembaca, meskipun yang bertambah dari penjabaran di atas Cuma amal ibadah, namun sesungguhnya amal ibadah ini beragam macam dan jenisnya. Jangan khawatir tak kebagian pahala, ridha, berkah dan rahmat-Nya, karena banyak cara yang dapat kita lakukan. Pintu kebaikan senantiasa terbuka untuk kita yang menginginkannya. Pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka selebar-lebarnya bagi yang mengejar rahmmat-Nya. Jangan ragu untuk melakukan suatu kebaikan selagi Tuhan masih berbaik hati mengijinkan kita hidup di dunia ini. Semoga amal ibadah kita senantiasa diterima Allah, insya Allah kita adalah seseorang yang islam iman dan ihsan, alhamdulillah...
Mari nantikan malam Nuzulul Qur'an 17 ramadhan, tepat pada 17 agustus nanti, syukran :)

Friday, July 22, 2011

NAFSU VS PUASA


Alhamdulillah, insyaAllah sebentar lagi kita akan memasuki suatu bulan kemenangan bagi umat islam. Suatu bulan yang sangat spesial dimata umat muslim, suatu bulan penuh pengampunan bagi siapapun kapanpun dimanapun yang mau bertaubat. Yaa, Bulan suci Ramadhan akan hadir diranah kehidupan kita, dan pastinya selalu hadir selama 1 bulan penuh kita berpuasa, menahan segala hal buruk yang kemungkinan sering kita lakukan manakala tidak sedang berpuasa, khususnya menahan nafsu kita. 

                Siapa yang tak suka datangnya bulan puasa?? Atau katakan berpuasa sebagaimana puasa biasa??.... Tentu suka kan, tak ada yang tak menyukai puasa, kecuali mereka-mereka yang memang nuraninya sudah tertutup. Padahal dengan puasa, saya yakin nurani kita, hati kita, fikiran kita, dan tentunya akhlak kita akan menjadi lebih baik. Mengapa demikian???....

FIKIRAN. Berpuasa, puasa berfikir, dengan artian fikiran kita yang biasanya berfikiran yang tidak-tidak, fikiran kita yang selalu memunculkan ide-ide yang mungkin buruk, fikiran kita yang mungkin ‘tidak terjaga’ bisa menyebabkan banyak kesalahan yang disengaja. Tanpa puasa, fikiran kita masih berhubungan erat dengan nafsu, karena nafsu itulah fikiran kita bertindak macam-macam. Disini diartikan nafsu dalam konotasi buruk. Namun, dengan puasa kita senantiasa menjaga fikiran kita, mengurangi atau bahkan menghentikan fikiran kita yang biasanya bertindak tak sewajarnya, karena ditakutkan puasanya tidak maksimal hasilnya atau bahkan takut puasa kita batal, hehehe. Alhasil, dengan puasa kita dipacu untuk lebih berfikir positif, lebih banyak mengingat Allah tatkala kita merasa bingung dengan apa yang kita fikirkan, senantiasa mengingat Allah setiap waktu, apalagi kalau berpuasa dan mau memperbanyak hal2 yang berguna seperti bekerja, belajar, banyak berdzikir, banyak melakukan ibadah disiang hari maupun malam hari intinya,, insyaAllah semakin berkurang dosa-dosa kita.

HATI dan NURANI. Bagi yang merasa selalu melakukan banyak perbuatan yang tak berguna, bagi yang merasa hidupnya sering dilanda kebingungan akan menentukan pilihan hidupnya, bagi yang merasa hidupnya sudah laiknya tidak terurus atau bahkan laiknya orang yang tak lagi hidup. Hal2 di atas tadi menunjukkan bahwa hati dan nurani seseorang mulai tertutup oleh titik-titik dosa yang menumpuk, menggumpal, menggenangi hati, nurani dan fikiran anda. Sekali lagi nafsu buruk menguasai kita. Kali ini lebih pada intinya, yaitu hati dan nurani. Sungguh bila keduanya tertutup, tak akan ada lagi namanya rahmat Allah, berkah Allah, ridha Allah untuk kita. Sungguh tak akan dapat ditembus oleh Nur Ilahi. Sungguh kuat kediktatoran nafsu akan tubuh kita saat itu. Kecuali, jika orang tersebut harus memaksa dirinya untuk lebih mengendalikannya. Jangan berkecil hati, biasa berubah kok dengan sedikit resep, berpuasalah lagi J. Sama halnya dengan fikiran, dengan puasa  kita dilatih untuk menjaga hati kita, lebih2 untuk kembali membuka hati nurani kita. Tentunya sama saja bertaubat namanya. Alhamdulillah bila disaat2 kritis tersebut kita masih mampu mengingat Allah, mengingat siksanya kelak, mengingat segala sesuatu yang akan terjadi pada  kita entah kapan dan dimana, InsyaAllah hati kita, nurani kita berfungsi dengan baik lagi. Nurani kita butuhkan saat kita ingin melakukan sesuatu namun kita tak tau dasarannya, yang mana nurani akan mengantarkan kita khususnya pada kebaikan saja. Jadi tiada namanya nurani yang mengarahkan pada kejelekan, kecuali kalau nurani kita benar2 telah terkalahkan oleh nafsu kita. Begitu juga hati (perasaan) yang juga harus kita jaga.

 Jangan sampai nafsu buruk mengalihkan pandangan kita dari pintu surga-Nya. Jangan sampai nafsu membelokkan jalan kita menuju Allah. Jangan sampai nafsu merusak semua akhlak kita, menurunkan derajat kita dimata Allah. Nafsu itu kuat, terbukti saat nafsu diuji Allah tatkala dimasukkan neraka berkali-kali nafsu tetap berpegang teguh pada pendiriannya meskipun itu salah, itu karena nafsu tidak berfikir, itu karena nafsu mengutamakan dirinya sendiri, mengutamakan kepuasan sendiri. Dan nafsu baru menyerah saat diperintah Allah untuk berpuasa. Itulah intinya, puasa dapat mengendalikan nafsu. Bersyukurlah saat datang bulan puasa. Syukur lagi jika kita tak hanya berpuasa saat bulan ramadhan, namun juga berpuasa sunnah, minimal puasa senin kamis insyaAllah berfaedah J. Jangan takut berpuasa, jangan takut kelaparan, jangan takut jatuh sakit. Sesungguhnya bagi  orang-orang yang sadar, puasa itu menyehatkan jasmani, menyegarkan ruhaniah. Puasa itu tak hanya puasa makan dan minum,, tapi juga berpuasa dari keburukan, berpuasa dari perilaku tak berfaedah, dll. InsyaAllah, dengan berpuasa, hati, nurani & fikiran kita pasti berada dilindungan Allah SWT, alhamdulillah....